Gaya Ikonik Mumford & Sons: Dari Rompi Hingga Musik Folk Senja
Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 19 March 2026 | 12:00 PM


Mumford & Sons: Antara Romantisme Banjo, Celana Chino, dan Evolusi yang Sempat Dihujat
Kalau kita bicara soal musik indie-folk yang sempat meledak di awal tahun 2010-an, rasanya mustahil kalau nama Mumford & Sons tidak mampir di kepala. Bayangkan sebuah panggung di bawah sinar matahari sore (atau istilah kerennya sekarang, waktu "senja"), empat pria berpakaian ala petani Inggris abad ke-19 lengkap dengan vest dan suspender, lalu tiba-tiba dentuman kick drum yang ritmis menyatu dengan petikan banjo yang super cepat. Itulah Mumford & Sons pada masa jayanya—sebuah fenomena yang membuat instrumen tradisional terasa kembali keren di telinga anak muda kota besar.
Band asal London ini bukan cuma sekadar pemusik; mereka adalah arsitek dari sebuah era. Lewat album Sigh No More (2009) dan Babel (2012), Marcus Mumford dan kawan-kawan berhasil menjual jutaan kopi album di tengah gempuran musik pop-elektronik yang lagi kencang-kencangnya. Lagu seperti "Little Lion Man" atau "The Cave" bukan cuma diputar di radio, tapi jadi lagu wajib bagi siapa saja yang baru belajar main gitar atau ingin merasa sedikit "estetik" sebelum istilah itu populer di Instagram.
Sihir Banjo dan Rumus "Stomp and Holler"
Jujur saja, ada satu alasan kenapa Mumford & Sons begitu mudah diterima sekaligus mudah dibenci: rumusnya sangat jelas. Mereka mempopulerkan apa yang sering disebut kritikus musik sebagai gaya "stomp and holler." Lagunya dimulai dengan petikan akustik yang intim, vokal Marcus yang serak-serak emosional, lalu perlahan-lahan tempo naik, semua personel mulai berteriak harmonisasi, dan tiba-tiba puncaknya meledak dengan gebukan drum yang membuat pendengarnya ingin loncat-loncat di tengah padang rumput.
Bagi banyak orang, ini adalah musik yang jujur. Ada sesuatu yang sangat manusiawi saat mendengar instrumen kayu berdawai dimainkan dengan energi rock n' roll. Namun, bagi sebagian orang lainnya—terutama para purist musik folk—Mumford & Sons dianggap terlalu "pabrikan." Mereka dituduh menjual citra pedesaan Inggris padahal mereka sebenarnya anak-anak kota dari kalangan menengah ke atas yang sekolah di tempat bergengsi. Tapi ya, itulah dunia hiburan, kan? Selama musiknya enak didengar saat macet di jalanan Jakarta, siapa yang peduli soal latar belakang sekolah mereka?
Dilema "Buang Banjo" di Album Wilder Mind
Setiap band sukses pasti menemui titik jenuh. Setelah memenangkan Grammy untuk Album of the Year lewat Babel, Mumford & Sons berada di puncak dunia. Namun, mereka sadar kalau mereka terus-terusan pakai banjo, mereka bakal berakhir jadi karikatur diri sendiri. Maka, di tahun 2015, lahirlah album Wilder Mind. Hasilnya? Banjo dibuang, gitar elektrik dicolokkan, dan suspender mereka diganti dengan jaket kulit hitam.
Perubahan ini bikin geger. Banyak fans lama yang kecewa karena "identitas" band ini hilang. Mereka berubah menjadi band stadium rock yang sekilas mirip Coldplay atau The National. Tapi kalau kita dengar lebih dalam, sebenarnya transisi ini masuk akal. Marcus Mumford memang punya bakat menulis lagu yang megah, dan gitar elektrik memberikan ruang yang lebih luas untuk itu. Meskipun secara komersial tidak sedahsyat album-album awal, Wilder Mind menunjukkan kalau mereka punya nyali untuk keluar dari zona nyaman, meski harus dihujat habis-habisan oleh para pemuja akustik.
Drama Internal dan Kepergian Winston Marshall
Perjalanan band ini bukannya tanpa drama. Beberapa tahun lalu, salah satu pendiri mereka, Winston Marshall (pemain banjo yang ikonik itu), memutuskan untuk hengkang. Bukan karena perbedaan kreatif soal musik, tapi karena kontroversi politik yang melibatkan media sosial. Kepergian Winston jelas meninggalkan lubang besar, bukan cuma soal teknis permainan musik, tapi juga dinamika persahabatan yang sudah terjalin belasan tahun.
Kini, Mumford & Sons resmi menjadi trio. Marcus Mumford sendiri sempat merilis album solo yang sangat personal di tahun 2022, di mana dia bercerita tentang trauma masa kecilnya dengan sangat berani. Album solo itu seolah menjadi momen "healing" bagi Marcus sebelum akhirnya ia kembali membawa gerbong Mumford & Sons ke arah yang baru.
Kenapa Kita Masih Mendengarkan Mereka?
Mungkin kamu bertanya-tanya, di era musik yang sekarang didominasi oleh ketukan 808 dan synth pop, apakah Mumford & Sons masih relevan? Jawabannya: Masih. Musik mereka punya satu elemen yang sulit ditiru, yaitu kemampuannya untuk menciptakan suasana komunal. Mendengarkan lagu mereka sendirian di kamar mungkin terasa biasa saja, tapi cobalah tonton video konser mereka. Ada energi kolektif yang luar biasa saat ribuan orang berteriak menyanyikan lirik "I will wait, I will wait for you!"
Bagi kita di Indonesia, Mumford & Sons adalah gerbang pembuka untuk mencintai musik folk. Gara-gara mereka, banyak anak muda lokal mulai melirik instrumen tradisional atau setidaknya berani tampil di kafe hanya dengan gitar kopong. Mereka adalah bukti bahwa musik yang terkesan "ndeso" atau tradisional bisa dikemas menjadi produk pop yang sangat keren.
Pada akhirnya, Mumford & Sons adalah pengingat bahwa sebuah band harus terus berevolusi agar tetap hidup. Mereka mungkin sudah jarang pakai banjo sekarang, dan mungkin mereka bukan lagi "anak emas" di majalah musik indie. Tapi, setiap kali kita rindu pada musik yang punya jiwa, emosi yang meledak-ledak, dan lirik yang puitis tapi tetap membumi, kita pasti akan kembali memutar daftar lagu mereka. Entah itu saat sedang dalam perjalanan jauh atau sekadar butuh teman saat sedang merenungi hidup di sore hari yang mendung.
Next News

Pura Pura Lupa – Mahen: Arti Lagu tentang Mengikhlaskan Meski Belum Sembuh
in 7 hours

Mengenang Prince: Si Mungil Berbaju Renda Penguasa Era 80-an
in 7 hours

Mengenal Bailey Zimmerman, Sosok yang Ubah Wajah Musik Country
in 6 hours

Linkin Park: Dari Teriakan di Kamar Mandi Sampai Era Baru yang Bikin Geger
in 4 hours

Siapa Sih BigXthaPlug? Mengenal Raksasa Baru dari Texas yang Suaranya Bikin Speaker Bergetar
in 3 hours

Rob Zombie: Sang Maestro Horor yang Lebih dari Sekadar Dandanan Seram
in 2 hours

Leon Thomas: Dari Sidekick di Nickelodeon Sampai Jadi 'Otak' di Balik Hits Global
in an hour

RAYE: Dari Korban PHP Label sampai Jadi Ratu BRIT Awards yang Bikin Industri Musik Melongo
in an hour

KATSEYE: Ketika K-Pop Bukan Lagi Soal Paspor, Tapi Soal Standar Global
an hour ago

Radiohead: Lebih dari Sekadar Lagu Buat Orang Galau dan Overthinker
2 hours ago





