Sabtu, 7 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Monokrom – Tulus dan Arti Lagu tentang Kenangan, Terima Kasih, dan Waktu yang Tak Pernah Kita Tahu

Hafizah Fikriah Waskan - Wednesday, 04 March 2026 | 01:25 AM

Background
Monokrom – Tulus dan Arti Lagu tentang Kenangan, Terima Kasih, dan Waktu yang Tak Pernah Kita Tahu
TULUS - Monokrom (YouTube/Tulus)

Dirilis pada 2016 dalam album Monokrom, lagu ini menjadi salah satu karya paling personal dari Tulus. Berbeda dari lagu patah hati yang melankolis, Monokrom justru terasa hangat. Ia seperti surat terbuka untuk orang-orang terdekat yang telah memberi warna dalam hidupnya.

Lagu ini dibuka dengan gambaran visual yang sederhana, "Lembaran foto hitam-putih / Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu." Foto hitam-putih adalah simbol masa lalu. Kenangan memang sering kali memudar, detailnya samar, tetapi emosinya tetap utuh. Ketika Tulus mencoba mengingat "warna bajumu", itu bukan sekadar soal pakaian, melainkan usaha untuk menghidupkan kembali momen yang pernah begitu berarti.

Baris "Kali pertama di hidupku / Manusia lain memelukku" terasa intim dan mendalam. Pelukan pertama dalam hidup biasanya datang dari orang tua. Ada rasa aman, perlindungan, dan cinta tanpa syarat. Kenangan ulang tahun dengan "kue cokelat, balon warna-warni" mempertegas bahwa lagu ini berbicara tentang keluarga dan masa kecil, tentang rumah sebagai tempat paling awal kita belajar dicintai.

Reff lagu ini menjadi inti emosinya. "Di mana pun kalian berada / Kukirimkan terima kasih / Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah." Kata "warna" menjadi kontras dari "monokrom". Hidup tanpa mereka mungkin hanya hitam-putih, datar, tanpa nuansa. "Kau melukis aku" adalah metafora yang kuat. Orang-orang terdekatlah yang membentuk karakter, nilai, bahkan cara kita mencintai.

Masuk ke bait berikutnya, suasana menjadi lebih reflektif. "Kita tak pernah tahu / Berapa lama kita diberi waktu." Di sini, Tulus mengingatkan bahwa kebersamaan tidak abadi. Ada kesadaran tentang kefanaan, tentang waktu yang diam-diam terus berjalan. Kalimat "Jika aku pergi lebih dulu, jangan lupakan aku" bukan terdengar dramatis, melainkan tulus. Seolah ia ingin memastikan bahwa kenangan akan tetap hidup, meski raga tak lagi ada.

Penegasan paling menyentuh hadir di bagian akhir, "Tak akan ku mengenal cinta / Bila bukan kar'na hati baikmu." Ini adalah pengakuan bahwa kemampuan seseorang untuk mencintai tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk dari pengalaman dicintai lebih dulu. Dari pelukan, suara yang menenangkan saat sulit tidur, hingga perhatian kecil yang mungkin dulu terasa biasa saja.

Monokrom bukan sekadar lagu nostalgia. Ia adalah pengingat untuk berhenti sejenak dan berterima kasih. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, kita jarang menyadari bahwa siapa diri kita hari ini adalah hasil lukisan banyak tangan. Lagu ini seperti album foto yang dibuka kembali, menghadirkan senyum, mungkin juga air mata, tetapi yang paling kuat adalah rasa syukur.

Tags

Tulus