Arti Lagu High School - Sara Kays dan Luka Body Image yang Tak Selesai Setelah Remaja
Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 05 March 2026 | 05:31 PM


Dirilis pada 2020, High School menjadi salah satu lagu paling personal dari Sara Kays. Dengan balutan melodi lembut, Sara membongkar isu yang sering dianggap fase sementara, padahal bagi banyak orang justru menetap hingga dewasa, yaitu body image dan kebencian terhadap diri sendiri.
Lagu ini dibuka dengan memori masa kecil yang pahit. "Twelve years old, I suddenly felt the world look at me." Usia 12 tahun adalah momen awal pubertas, ketika tubuh mulai berubah dan kesadaran terhadap penilaian orang lain meningkat. Ia menyebut, "My bones, every inch of my body, size ten, size three, no size made me happy." Angka ukuran pakaian di sini bukan sekadar detail, melainkan simbol obsesi terhadap standar fisik. Tidak peduli berapa pun ukurannya, ia tetap tidak puas.
Ketika usia bertambah, luka itu tidak hilang. "Seventeen, same thing, just wishing I was anyone but me." Harapannya sederhana, ingin menjadi orang lain. Di usia 19, ia masih bergumul dengan pola pikir yang sama, "I'm still waiting for the day I don't hate myself for what I ate." Kalimat ini secara terang menyinggung hubungan yang tidak sehat dengan makanan, rasa bersalah setelah makan, dan siklus penilaian diri yang melelahkan.
Bagian "Numbers change but I look the same" menunjukkan bahwa perubahan berat badan atau ukuran tidak otomatis mengubah persepsi diri. Masalahnya bukan di angka, tetapi di cara ia memandang dirinya di cermin.
Refrain lagu ini menyentuh inti kekecewaan. "I thought all of this ended in high school." Ia percaya bahwa insecure adalah bagian dari masa remaja, sesuatu yang akan selesai saat lulus. Namun kenyataannya, "But I was wrong 'cause I feel the way I did and the way I do." Perasaan itu tetap ada, bahkan setelah meninggalkan bangku sekolah.
Kalimat paling menyayat ada pada pengakuan, "I've never looked in the mirror and saw what I wanted to." Cermin menjadi simbol konfrontasi dengan diri sendiri. Bagi banyak orang, melihat cermin adalah rutinitas biasa. Bagi Sara, itu adalah momen evaluasi yang hampir selalu berakhir dengan kekecewaan.
Pertanyaan retorisnya sangat jujur, "If it's impossible to be what I want myself to be, how will I ever be happy? How will I ever love me?" Ini bukan hanya tentang penampilan. Ini tentang penerimaan diri sebagai fondasi kebahagiaan. Jika standar yang ia pasang tidak realistis, maka cinta pada diri sendiri terasa mustahil.
Secara keseluruhan, High School adalah refleksi bahwa luka psikologis tidak otomatis hilang seiring bertambahnya usia. Sara Kays berhasil menyuarakan pengalaman banyak orang yang merasa insecure bukan sekadar fase, melainkan perjuangan panjang menuju penerimaan diri. Lagu ini seperti pengakuan pelan namun tegas bahwa penyembuhan butuh lebih dari sekadar waktu.
Next News

Festival Bamboo Rafting Loksado 2026, Sensasi Menyusuri Sungai Amandit dengan Rakit Bambu di Pegunungan Meratus
4 months ago

Westlife: Rahasia Kenapa Mas-Mas Irlandia Ini Masih Jadi Juara di Hati Kita
5 months ago

Bukan Sekadar Boyband, Westlife Adalah Definisi Tongkrongan yang Menolak Bubar
5 months ago

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
5 months ago

Nostalgia Meteor Garden: Cerita di Balik Terbentuknya F4 yang Pernah Mengacak-acak Hati Kita
5 months ago

Nostalgia F4: Menelusuri Jejak Para Pangeran Meteor Garden yang Kini Sudah Senior
5 months ago

Westlife: Bukan Sekadar Modal Kursi Bar dan Wajah Tampan, Ini Sisi Lain yang Jarang Terungkap
5 months ago

Nostalgia Tipis-Tipis: Deretan Album Westlife Terbaik yang Wajib Masuk Playlist Kamu
5 months ago

Fenomena F4: Saat Seluruh Indonesia Terkena Demam Meteor Garden
5 months ago

Westlife: Kenapa Boyband 'Bapak-Bapak Wangi' Ini Tetap Jadi Juara di Hati Orang Indonesia?
5 months ago




