Selasa, 17 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Shaboozey: Koboi Modern yang Bikin Musik Country Jadi Rebutan Anak Senja Sampai Anak Dugem

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 17 March 2026 | 09:00 PM

Background
Shaboozey: Koboi Modern yang Bikin Musik Country Jadi Rebutan Anak Senja Sampai Anak Dugem
Shaboozey (Billboard.com/Shaboozey)

Kalau kalian sering scrolling TikTok atau tiba-tiba merasa ingin pakai sepatu boots kulit dan topi koboi padahal tinggalnya di Bekasi, mungkin kalian sedang terpapar "virus" yang sama dengan jutaan orang lainnya. Namanya Shaboozey. Sosok ini bukan sekadar penyanyi pendatang baru yang numpang lewat, tapi dia adalah anomali paling menyenangkan di industri musik global tahun ini. Lewat lagu "A Bar Song (Tipsy)", Shaboozey berhasil melakukan hal yang tadinya dianggap mustahil: bikin musik country terdengar sangat keren di telinga anak muda yang biasanya cuma dengerin hip-hop atau senja-senjaan.

Lahir dengan nama Collins Obinna Chibueze, pria keturunan Nigeria-Amerika asal Virginia ini sebenarnya bukan orang baru di dunia musik. Tapi, ya namanya hidup, kadang butuh momentum yang pas biar meledak. Dan momentum itu datang lewat kolaborasi mautnya di album eksperimental Beyoncé, Cowboy Carter. Bayangkan saja, diundang Queen Bey buat ngisi dua lagu sekaligus itu sudah kayak dapet "stempel halal" dari kasta tertinggi musik dunia. Dari situ, dunia mulai bertanya-tanya, "Siapa sih cowok bersuara berat yang gayanya koboi banget ini?"

Bukan Sekadar Tempelan, Tapi Evolusi

Dulu, kalau kita bicara musik country, bayangan kita pasti nggak jauh-jauh dari bapak-bapak kulit putih yang main gitar akustik sambil curhat soal traktor atau patah hati di pinggir sungai. Tapi Shaboozey datang dengan formula yang beda total. Dia nggak cuma "main" country; dia mencampurnya dengan trap, hip-hop, dan sedikit sentuhan rock yang bikin lagunya enak banget dipakai joget di klub malam atau sekadar teman nyetir pas lagi macet-macetan.

Jujur saja, melihat Shaboozey itu kayak melihat jembatan antara dua dunia. Dia besar di Virginia, daerah yang kental dengan budaya pedesaan tapi juga punya scene urban yang kuat. Makanya, musiknya nggak terasa dipaksakan. Dia nggak berusaha jadi "putih" biar diterima di genre country, tapi dia membawa identitasnya sebagai anak muda kulit hitam ke dalam estetika koboi yang selama ini terkesan eksklusif. Istilah kerennya, dia ikut mendobrak pintu yang selama ini dijaga ketat oleh para gatekeeper musik Nashville.

Kenapa "A Bar Song (Tipsy)" Bisa Sepecah Itu?

Mari kita bedah sedikit soal lagu "A Bar Song (Tipsy)". Kalau kalian ngerasa familiar sama nada di bagian refrain-nya, kalian nggak salah. Shaboozey dengan sangat cerdik mengambil interpolasi dari lagu "Tipsy" milik J-Kwon yang hits banget di tahun 2004. Ini adalah langkah jenius. Dia mengambil nostalgia lagu party zaman dulu, lalu dibalut dengan dentuman beat modern dan petikan gitar country. Hasilnya? Sebuah lagu yang bikin orang pengen angkat gelas tinggi-tinggi sambil teriak "Everyone-y is drunk-y!".

Lagu ini nggak cuma sekadar viral di medsos, tapi benar-benar nangkring di posisi satu Billboard Hot 100. Pencapaian ini gokil banget, mengingat jarang ada artis solo kulit hitam yang bisa merajai tangga lagu country dan pop secara bersamaan sejak zaman Ray Charles atau mungkin Lil Nas X dengan "Old Town Road"-nya. Tapi bedanya, Shaboozey punya tekstur musik yang lebih organik. Dia nggak cuma jualan meme, tapi emang kualitas produksinya nggak kaleng-kaleng.

Koboi yang Gak Takut Bereksperimen

Banyak yang mengira Shaboozey bakal jadi one-hit wonder. Tapi kalau kita dengerin album terbarunya, Where I've Been, Isn't Where I'm Going, asumsi itu langsung gugur. Dia punya jangkauan vokal yang emosional. Ada lagu-lagu yang terdengar sangat melankolis, menceritakan soal perjuangan hidup dan pencarian jati diri. Ini yang bikin dia punya kedalaman sebagai seorang penulis lagu. Dia bukan cuma jualan visual topi koboi biar kelihatan estetik di Instagram, tapi dia emang punya cerita yang mau disampaikan.

Menurut opini saya yang receh ini, keberhasilan Shaboozey juga merupakan cermin dari pergeseran selera musik kita sekarang. Kita sudah bosan dengan kotak-kotak genre yang kaku. Anak zaman sekarang bisa dengerin lagu K-Pop di pagi hari, hip-hop di siang hari, dan malamnya galau bareng lagu country-trap ala Shaboozey. Kita berada di era "vibe-centric", di mana kalau lagunya enak dan relate sama suasana hati, ya sikat aja tanpa peduli itu genre apa.

Representasi dan Masa Depan

Hadirnya Shaboozey di arus utama juga membawa pesan penting soal representasi. Selama puluhan tahun, kontribusi musisi kulit hitam dalam sejarah musik country seringkali dihapus atau dilupakan. Shaboozey, bersama artis lain seperti Beyoncé dan Kane Brown, seolah ingin mengambil kembali warisan tersebut. Dia membuktikan bahwa identitas "koboi" itu milik siapa saja yang punya jiwa petualang dan kejujuran dalam bermusik.

Ke depannya, saya rasa Shaboozey bakal terus jadi headline di berbagai festival musik besar. Dia punya kharisma yang natural—nggak lebay, nggak jaim, tapi punya aura "bintang" yang kuat banget. Dia adalah pengingat bahwa musik yang bagus itu nggak butuh rumus yang rumit. Cukup ambil sesuatu yang jujur dari akar budaya kita, tambahkan sedikit kreativitas, dan jangan takut buat nabrak aturan lama.

Jadi, buat kalian yang belum dengerin Shaboozey, coba deh luangkan waktu lima menit buat dengerin satu lagunya. Siapa tahu, setelah ini kalian tiba-tiba pengen beli topi koboi dan cari bar terdekat buat sekadar merayakan hidup. Karena pada akhirnya, itulah inti dari musik Shaboozey: bersenang-senang di tengah kacaunya dunia, satu lagu dalam satu waktu.

Tags