Tips Jitu Atasi Lapar Mata Saat Lihat Diskon Makanan Online
Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 26 February 2026 | 06:00 PM


Seni Merayakan Mubazir: Kenapa Kita Hobi Banget Buang-Buang Padahal Dompet Menjerit?
Pernah nggak sih kamu berdiri di depan lemari pakaian yang penuhnya minta ampun, sampai pintu lemarinya harus diganjal biar nggak kebuka sendiri, tapi mulut kamu tetap berucap mantra sakti: "Duh, nggak punya baju nih buat pergi"? Atau mungkin kamu pernah khilaf di depan etalase promo makanan ojek online, pesan porsi besar karena tergoda diskon 50 persen, tapi akhirnya cuma berakhir di pojokan meja makan sampai basi karena perut sudah keburu "begah"?
Selamat, kamu baru saja melakukan sebuah ritual sakral masyarakat modern yang kita sebut dengan "mubazir". Istilah ini sebenarnya sudah sangat akrab di telinga kita sejak kecil. Orang tua kita dulu sering menakut-nakuti kalau nasi nggak dihabiskan, "ayamnya bakal mati" atau "nasinya bakal nangis". Ternyata, ancaman itu nggak mempan. Buktinya, sekarang kita malah makin ahli dalam urusan buang-buang sesuatu.
Mubazir di zaman sekarang bukan lagi sekadar soal menyisakan butiran nasi di piring. Ia sudah bermetamorfosis menjadi gaya hidup yang tersembunyi di balik kata "self-reward" atau "mumpung lagi promo". Padahal, kalau mau jujur-jujuran, mubazir adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap kerja keras kita sendiri dalam mencari cuan.
Lapar Mata: Musuh Utama dalam Selimut
Penyebab utama dari segala perilaku mubazir biasanya berawal dari satu penyakit kronis: lapar mata. Ini adalah kondisi di mana mata kita punya ambisi yang lebih besar daripada kapasitas lambung atau kebutuhan hidup kita yang sebenarnya. Di restoran all you can eat, misalnya. Kita sering bertingkah seolah-olah besok dunia akan kiamat dan semua stok daging akan ditarik dari peradaban. Kita ambil semua piring, tumpuk setinggi gunung, dan pada akhirnya? Kita cuma sanggup menghabiskan seperempatnya saja.
Hal yang sama berlaku saat belanja bulanan. Niat awal cuma mau beli sabun cuci muka, eh pas keluar supermarket, troli penuh sama stok camilan yang sebenarnya nggak sehat-sehat amat dan ujung-ujungnya cuma disimpan sampai lewat tanggal kedaluwarsa. Fenomena ini diperparah dengan algoritma media sosial yang seolah tahu banget kelemahan kita. Scroll sebentar, muncul iklan barang lucu. Klik, bayar, sampai di rumah ternyata barangnya cuma jadi pajangan penangkap debu. Mubazir? Banget.
Tragedi Pangan di Negeri Subur
Kalau kita mau sedikit serius tapi santai, data menunjukkan kalau Indonesia itu salah satu penyumbang food waste atau sampah makanan terbesar di dunia. Ini ironis, mengingat kita sering mendengar berita tentang saudara-saudara kita yang masih kesulitan cari makan. Tapi ya itu tadi, budaya "biar kelihatan banyak" di acara kondangan atau rapat-rapat kantor sering kali menyisakan gundukan makanan yang nggak tersentuh.
Kita sering merasa "ah, cuma segini doang kok yang dibuang," tanpa sadar kalau "segini doang" dikalikan jutaan orang setiap harinya bakal jadi bencana lingkungan. Mubazir bukan cuma soal rugi duit, tapi juga soal etika kita sebagai manusia yang tinggal di bumi yang sumber dayanya makin terbatas. Rasanya ada yang salah kalau kita merasa keren hanya karena bisa beli banyak hal, padahal separuhnya cuma berakhir di tempat sampah.
Mubazir Digital: Bayar Tapi Nggak Dipakai
Nah, ini adalah jenis mubazir baru yang sering nggak kita sadari: mubazir digital. Coba cek deh, ada berapa aplikasi streaming film atau musik yang kamu langgani secara otomatis (auto-debit)? Berapa banyak kelas online yang kamu beli "mumpung diskon" tapi videonya nggak pernah kamu tonton sampai sekarang? Atau yang paling klasik, iuran gym bulanan yang tetap jalan terus padahal kamu terakhir kali ke sana cuma pas daftar doang.
Gaya hidup ini bikin dompet kita bocor halus. Kita merasa sudah melakukan investasi untuk diri sendiri, padahal kenyataannya kita cuma sedang menyumbang ke perusahaan-perusahaan besar tersebut secara sukarela tanpa mendapatkan manfaat apa pun. Ini adalah bentuk mubazir yang paling sopan, karena kita nggak melihat barang fisiknya dibuang, tapi angka di saldo ATM kita berkurang perlahan tapi pasti.
Keluar dari Lingkaran Setan "Mendang-Mending"
Lalu, gimana caranya biar kita nggak terjebak terus dalam pusaran mubazir ini? Jawabannya sebenarnya sederhana, tapi praktiknya yang butuh perjuangan: mulai belajar untuk merasa cukup. Kita sering terjebak pada pemikiran "mendang-mending". "Mending beli yang besar sekalian, beda harganya dikit kok," atau "Mending beli sekarang, mumpung lagi flash sale." Padahal, yang lebih penting adalah bertanya: "Emang saya butuh?"
Menghindari mubazir itu bukan berarti kita jadi orang pelit yang nggak mau jajan sama sekali. Ini soal menjadi konsumen yang lebih cerdas dan sadar. Menghargai setiap barang yang kita beli, makanan yang kita pesan, dan waktu yang kita punya. Kita bisa mulai dengan hal-hal kecil, kayak ambil porsi makan secukupnya, atau diamkan barang di keranjang belanja online selama 24 jam sebelum akhirnya diputuskan untuk check-out. Biasanya, setelah sehari, keinginan menggebu-gebu itu bakal hilang dengan sendirinya.
Akhir kata, mubazir itu sebenarnya adalah bentuk kurangnya rasa syukur kita atas apa yang sudah kita punya. Kita terlalu sibuk mengejar yang "lebih banyak" sampai lupa menikmati apa yang ada di depan mata. Jadi, yuk pelan-pelan kurangi kebiasaan buang-buang ini. Kasihan dompetnya, kasihan buminya, dan yang terpenting, kasihan kalau nasinya beneran nangis gara-gara ditinggalin begitu saja di piring.
Next News

Strategi Menentukan Skala Prioritas Materi UTBK: Karena Waktu Tak Bisa Disogok Pakai SKS Semalam
14 days ago

Lulus PTN Tanpa Kuras Rekening Orang Tua: Panduan Belajar UTBK Mandiri Buat Kamu yang Anti-Bimbel
14 days ago

Jangan Cuma Modal Nekat: Mengapa Tryout UTBK Itu Koentji dan Gimana Cara Biar Nggak Sia-sia
15 days ago

Qurban Online: Praktis Sih, Tapi Sah Enggak Ya? Yuk, Simak Kupas Tuntasnya!
17 days ago

Marina Budiman: Sosok di Balik Penyimpanan Data TikTok dan IG
21 days ago

Mengenal Lebih Dekat Jensen Huang Sosok di Balik Kesuksesan Nvidia
21 days ago

Profil Steve Ballmer: Pemain Lama yang Kini Makin Tajir Melintir
21 days ago

Mark Zuckerberg: Dari Meme Robot sampai Jadi Manusia 3.500 Triliun Rupiah
21 days ago

Gila, Harta Jeff Bezos Tembus $255 Miliar: Kapan Lagi Bisa Beli Pulau Sambil Merem?
21 days ago

Sergey Brin: Si Ilmuwan Nyentrik dengan Harta 256 Miliar Dollar yang Bikin Kita Semua Merasa Miskin Berjamaah
21 days ago





