Sabtu, 27 Juni 2026
Amandit FM
Science & Technology

Waspada! Aspal Licin Saat Hujan Bisa Bikin Kendaraan Hilang Kendali

Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 16 May 2026 | 01:00 PM

Background
Waspada! Aspal Licin Saat Hujan Bisa Bikin Kendaraan Hilang Kendali
tips berkendara aman saat hujan agar tidak tergelincir (Pexels.com/ Thể Phạm)

Seni Bertahan Hidup di Atas Aspal Licin: Tips Berkendara Saat Hujan Biar Nggak Kayak Main Ice Skating

Hujan itu, buat sebagian orang, adalah sumber inspirasi. Ada yang mendadak jadi puitis, ada yang langsung pengen bikin mi instan pakai telur, atau ada juga yang tiba-tiba teringat mantan gara-gara lagu galau yang diputar di radio. Tapi, buat kita-kita yang lagi di jalan—entah itu lagi ngejar jam absen kantor atau mau jemput pacar—hujan adalah tantangan maut yang bikin was-was. Begitu rintik-rintik berubah jadi guyuran deras, aspal yang tadinya panas mendadak jadi licin kayak dikasih pelumas. Salah dikit, motor atau mobil kita bisa nari-nari sendiri tanpa kendali.

Kita semua tahu rasanya. Jantung rasanya mau copot pas ban motor terasa goyang dikit pas lewat marka jalan, atau pas mobil tiba-tiba nggak mau belok padahal setir sudah diputar maksimal. Fenomena ini sering kita sebut tergelincir, tapi di dunia otomotif kerennya disebut aquaplaning atau hydroplaning. Nah, supaya kamu nggak perlu ngerasain sensasi jadi atlet seluncur indah di atas aspal, yuk kita bahas gimana caranya berkendara aman saat musim hujan dengan gaya yang tetap santai tapi tetap waspada.

Cek 'Sepatu' Kendaraanmu, Jangan Sampai Botak

Coba deh bayangin kamu jalan di lantai keramik yang penuh sabun pakai sandal jepit yang alasnya sudah rata alias gundul. Pasti jatuh, kan? Nah, ban kendaraan itu ibarat sepatu. Kalau kembangan atau alur ban kamu sudah tipis, jangan harap dia bisa 'membuang' air dengan maksimal. Tugas alur ban itu sebenarnya untuk membelah genangan air supaya karet ban tetap bisa nyentuh aspal. Kalau bannya sudah gundul, air bakal terjebak di antara ban dan jalan, bikin kendaraan kamu melayang di atas air. Serem, kan?

Jadi, sebelum musim hujan makin ganas, sempatkan waktu buat ngeliat ban. Kalau tanda TWI (Tread Wear Indicator) sudah kena, ya sudahlah, ikhlaskan tabungan buat ganti ban baru. Anggap saja ini investasi nyawa daripada harus jajan onderdil karena jatuh.

Ngeremnya Santai Saja, Jangan Kayak Lagi Kaget

Banyak pengendara yang refleksnya luar biasa kalau lihat genangan atau ada orang nyeberang mendadak: langsung tarik rem sekencang mungkin. Di jalan kering, mungkin ini oke-oke saja kalau kendaraanmu punya ABS (Anti-lock Braking System). Tapi di jalan basah? Itu resep mujarab buat bikin roda terkunci dan akhirnya kamu meluncur bebas tanpa arah.

Teknik ngerem saat hujan itu harus pakai perasaan, kayak lagi PDKT. Jangan terlalu keras, pelan-pelan saja. Gunakan teknik pulse braking atau ngerem berkali-kali dengan tekanan ringan kalau kendaraanmu belum ada ABS. Tujuannya supaya ban nggak mengunci. Selain itu, maksimalkan engine brake dengan menurunkan gigi secara bertahap buat bantu memperlambat laju tanpa harus nyiksa kampas rem terus-terusan.

Kurangi Kecepatan, Dunia Nggak Bakal Kiamat Kalau Kamu Telat

Ini masalah ego sih sebenarnya. Banyak dari kita yang merasa kalau ngebut saat hujan itu keren karena bisa nerjang air dan bikin cipratan besar. Padahal, semakin kencang kamu melaju, semakin tinggi risiko terjadi aquaplaning. Kecepatan tinggi bikin ban nggak punya waktu cukup untuk membelah air. Hasilnya? Kamu bakal merasa setir jadi enteng banget atau motor jadi melayang. Kalau sudah begini, jangan sekali-kali ngerem atau belok mendadak. Lepas gas, biarkan kecepatan turun secara alami sampai kamu ngerasa ban 'nggigit' aspal lagi.

Ingat, lebih baik sampai tujuan dengan kondisi basah kuyup daripada sampai di rumah sakit dengan kondisi perbanan. Jadi, turunin kecepatan sekitar 20-30 persen dari biasanya saat jalanan mulai basah.

Jaga Jarak Aman, Jangan Terlalu 'Sayang' sama Kendaraan di Depan

Di jalan raya, apalagi pas hujan, prinsip "jarak adalah perlindungan" itu berlaku banget. Jalanan basah bikin jarak pengereman jadi lebih panjang. Kalau biasanya kamu butuh 5 meter buat berhenti total, di jalan basah kamu mungkin butuh 10 meter atau lebih. Belum lagi risiko cipratan air dari kendaraan di depan yang bisa bikin pandanganmu burem seketika.

Kasih ruang lebih buat kendaraan di depanmu. Jangan mepet-mepet kayak lagi antre sembako. Dengan jaga jarak, kamu punya waktu lebih banyak buat bereaksi kalau tiba-tiba ada lubang yang ketutup air atau kalau kendaraan di depan ngerem mendadak.

Waspada Genangan Air, Jangan Sok Tahu Kedalamannya

Genangan air itu seringkali menipu. Di mata kita mungkin cuma genangan tipis, eh ternyata di bawahnya ada lubang sedalam sumur. Atau yang lebih parah, genangan itu sebenarnya aliran air yang cukup deras yang bisa bikin keseimbangan motor goyah. Usahakan sebisa mungkin menghindari genangan air yang besar.

Kalau terpaksa harus lewat, pastikan kamu tahu rutenya. Kalau nggak yakin, mending ngikutin jejak roda kendaraan besar di depanmu, tapi tetap waspada. Genangan air juga berbahaya karena bisa bikin mesin mati (water hammer) kalau airnya masuk ke knalpot atau filter udara. Jadi, jangan sok jadi nahkoda kapal di atas motor ya.

Lampu Itu Buat Dilihat, Bukan Cuma Buat Melihat

Saat hujan deras, jarak pandang bakal drop drastis. Kadang kita cuma bisa lihat 5-10 meter ke depan. Di sinilah fungsi lampu utama jadi sangat krusial. Pastikan lampu kamu nyala, bukan cuma supaya kamu bisa lihat jalan, tapi supaya orang lain tahu kalau kamu ada di sana.

Oh iya, satu pesan penting: jangan pernah pakai lampu hazard pas lagi jalan di tengah hujan deras. Ini kebiasaan salah kaprah yang masih sering dilakukan orang Indonesia. Lampu hazard itu buat kondisi darurat pas berhenti. Kalau kamu pakai hazard sambil jalan, pengendara di belakangmu bakal bingung kamu mau belok mana, dan lampu yang kedap-kedip itu malah bikin silau dan ngerusak konsentrasi orang lain. Cukup lampu utama dan lampu senja saja sudah lebih dari cukup.

Kalau Sudah Terlalu Deras, Menepi Itu Bukan Berarti Lemah

Kadang alam memang lagi nggak bersahabat. Ada saatnya hujan turun begitu lebatnya sampai wiper mobil sudah nggak sanggup lagi nyapu air, atau pandangan di balik helm sudah putih semua. Kalau sudah begini, pilihan paling bijak adalah menepi. Carilah tempat yang aman, kayak minimarket atau pom bensin. Jangan neduh di bawah jembatan layang kalau itu malah bikin macet dan ngebahayain orang lain.

Istirahat sejenak sambil nunggu hujan reda nggak bakal bikin kamu kehilangan harga diri, kok. Justru itu menunjukkan kalau kamu pengendara yang cerdas dan logis. Sambil nunggu, kamu bisa cek kondisi lampu-lampu lagi atau sekadar bales chat gebetan yang nanyain posisi kamu ada di mana.

Berkendara saat hujan memang butuh kesabaran ekstra dan teknik yang benar. Intinya, jangan emosian dan tetap tenang. Aspal itu keras, dan air itu licin. Kombinasi keduanya nggak pernah main-main. Stay safe di jalan, jangan lupa pakai jas hujan yang model baju-celana biar lebih aman dan nggak nyangkut di rante. Selamat sampai tujuan!

Tags