5 Alasan Kamu Sulit Berhenti Main TikTok Sebelum Tidur
Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 26 February 2026 | 07:00 PM


Seni Menghabiskan Waktu Tanpa Sadar: Sebuah Otopsi Ritual Scroll TikTok
Pernah nggak sih, kalian niatnya cuma mau ngecek satu video kiriman temen di DM, terus tiba-tiba pas liat jam, eh, udah lewat dua jam? Padahal tadinya niatnya cuma mampir sebentar sebelum tidur atau pas lagi nunggu jemputan. Selamat, kalian baru saja menjadi korban dari kekuatan magis nan adiktif yang bernama scroll TikTok. Sebuah aktivitas yang kalau dipikir-pikir lebih mirip hipnotis massal daripada sekadar hiburan digital.
Zaman sekarang, jempol kita seolah punya nyawa sendiri. Begitu aplikasi dengan logo not balok itu terbuka, jempol kanan (atau kiri bagi yang kidal) otomatis melakukan gerakan swipe up yang sangat presisi. Gerakannya halus, repetitif, dan entah kenapa, memuaskan secara sensorik. Kita nggak lagi butuh remote TV atau mencet tombol 'next' yang ribet. Cukup geser dikit, dunia baru muncul di layar HP kita.
Algoritma: Dukun Digital yang Tahu Isi Hati
Kalau ada yang bilang orang paling mengerti kita adalah ibu atau pasangan, mungkin mereka perlu mikir dua kali. Saingan terberat mereka adalah algoritma TikTok. Si sistem pintar ini seolah-olah punya bakat 'indigo'. Dia tahu kapan kita lagi galau, kapan kita lagi pengen belanja baju lebaran, atau kapan kita lagi kangen mantan. Semuanya terbaca dari berapa detik kita berhenti di sebuah video.
Jujurly, rasanya agak serem kalau dipikirin. Baru aja tadi siang kepikiran pengen beli air fryer, eh, pas malemnya scroll FYP (For You Page), isinya udah orang masak chicken wing pakai air fryer merk anu. Apakah HP kita nyadap obrolan? Atau algoritma ini emang udah di tahap level dewa dalam memprediksi perilaku manusia? Entahlah, yang jelas kita semua terjebak dalam kenyamanan yang bikin betah lama-lama natap layar.
Transisi konten di TikTok itu juga bener-bener kayak naik roller coaster emosi yang nggak ada ujungnya. Detik pertama kita ketawa ngeliat kucing jatuh dari lemari, detik berikutnya kita disuguhin video sedih tentang anak yatim yang bikin mata berkaca-kaca, lalu sepersekian detik kemudian muncul mbak-mbak joget pake lagu jedag-jedug yang bikin kepala auto manggut-manggut. Perubahan emosi yang secepat kilat ini bikin otak kita kena dopamine hit berkali-kali. Itulah kenapa berhenti scroll itu susahnya minta ampun, lebih susah daripada berhenti berharap sama gebetan yang nggak peka.
Fenomena Doomscrolling dan Hilangnya Fokus
Di balik serunya konten-konten receh, ada sisi gelap yang sering disebut para ahli sebagai doomscrolling. Ini adalah kondisi di mana kita terus-menerus scroll konten meskipun isinya berita buruk, drama nggak penting, atau sesuatu yang sebenernya bikin kita cemas. Kita merasa harus tahu segalanya supaya nggak FOMO (Fear Of Missing Out), tapi ujung-ujungnya malah mental kita yang kena mental.
Belum lagi soal rentang perhatian atau attention span kita yang makin pendek. Gara-gara terbiasa dapet informasi dalam durasi 15 sampai 60 detik, kita jadi gampang bosen kalau harus baca buku atau nonton film berdurasi dua jam tanpa jeda. Maunya yang cepet, to the point, dan ada musik latar yang asik. Fenomena ini bikin banyak dari kita jadi 'kaum nanggung'. Nonton tutorial masak, tapi nggak pernah dipraktekin. Nonton tips produktivitas, eh tapi nontonnya sambil rebahan lima jam. Kontradiksi yang hakiki, bukan?
Tapi ya, gimana lagi? TikTok emang udah jadi budaya pop yang nggak bisa dipisahin dari keseharian anak muda (dan sekarang bahkan bapak-bapak dan ibu-ibu pun mulai keracunan). Dari sini muncul tren-tren unik, mulai dari istilah 'cewek kue', 'cewek mamba', sampe racun-racun belanja yang bikin saldo di m-banking nangis dipojokan. TikTok bukan cuma aplikasi, dia udah jadi ruang publik digital tempat orang pamer kreativitas, curhat, sampe jualan panci yang tiba-tiba laku keras.
POV: Kamu Terjebak dalam 'Satu Video Lagi'
Kebohongan terbesar abad ini bukan lagi "Aku otw", tapi "Satu video lagi habis itu tidur". Kalimat sakti ini biasanya diucapkan sekitar jam 11 malam. Namun kenyataannya, "satu video lagi" itu seringkali bertransformasi jadi 50 video, 100 video, sampai akhirnya terdengar suara kicauan burung atau adzan subuh. Di situ biasanya muncul rasa sesal yang amat sangat, tapi anehnya, besok malamnya kita ulangi lagi dengan penuh semangat.
Observasi kecil-kecilan saya, scroll TikTok itu adalah cara pelarian (escapism) paling murah dan mudah. Kita nggak perlu mikir berat, nggak perlu dandan, tinggal rebahan di kasur yang udah mirip kapal pecah, dan kita bisa 'keliling dunia' atau 'ngintip' kehidupan orang lain. Ada kepuasan tersendiri saat kita ngerasa relate sama konten seseorang. Rasanya kayak, "Oh, ternyata ada ya orang yang seaneh gue," atau "Ternyata bukan cuma gue yang hidupnya berantakan." Rasa solidaritas antar-netizen ini yang bikin ekosistem TikTok terasa lebih 'manusiawi' dibanding media sosial lain yang penuh pencitraan tingkat tinggi.
Kesimpulan: Nikmati, tapi Jangan Sampai Terperosok
Akhir kata, scroll TikTok itu emang seni menghabiskan waktu yang hakiki. Nggak ada salahnya kok buat cari hiburan di sana setelah seharian capek kerja atau kuliah. Dunia udah cukup berat, kita butuh video kucing atau video orang masak yang estetik buat sekadar narik nafas. Tapi ya gitu, pinter-pinter aja kasih batasan buat diri sendiri. Jangan sampe gara-gara keasyikan liatin hidup orang di layar, kita jadi lupa jalanin hidup kita sendiri di dunia nyata.
Ingat, algoritma itu dirancang buat bikin kita nggak mau lepas. Jadi, sekali-kali coba buat 'melawan' jempol sendiri. Kalau udah kerasa mata sepet dan punggung pegel karena posisi rebahan yang nggak ergonomis, mending close aplikasinya, taruh HP-nya, dan coba liat langit-langit kamar. Siapa tahu di situ kalian dapet inspirasi buat bikin konten TikTok yang bakal viral besok pagi. Salam jempol olahraga!
Next News

Strategi Menentukan Skala Prioritas Materi UTBK: Karena Waktu Tak Bisa Disogok Pakai SKS Semalam
15 days ago

Lulus PTN Tanpa Kuras Rekening Orang Tua: Panduan Belajar UTBK Mandiri Buat Kamu yang Anti-Bimbel
16 days ago

Jangan Cuma Modal Nekat: Mengapa Tryout UTBK Itu Koentji dan Gimana Cara Biar Nggak Sia-sia
16 days ago

Qurban Online: Praktis Sih, Tapi Sah Enggak Ya? Yuk, Simak Kupas Tuntasnya!
18 days ago

Marina Budiman: Sosok di Balik Penyimpanan Data TikTok dan IG
22 days ago

Mengenal Lebih Dekat Jensen Huang Sosok di Balik Kesuksesan Nvidia
22 days ago

Profil Steve Ballmer: Pemain Lama yang Kini Makin Tajir Melintir
22 days ago

Mark Zuckerberg: Dari Meme Robot sampai Jadi Manusia 3.500 Triliun Rupiah
22 days ago

Gila, Harta Jeff Bezos Tembus $255 Miliar: Kapan Lagi Bisa Beli Pulau Sambil Merem?
22 days ago

Sergey Brin: Si Ilmuwan Nyentrik dengan Harta 256 Miliar Dollar yang Bikin Kita Semua Merasa Miskin Berjamaah
23 days ago





