Kamis, 25 Juni 2026
Amandit FM
Kesehatan

Awas Nyut-Nyutan: Panduan Menghindari Pantangan Asam Urat Biar Nggak Jadi Remaja Jompo

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 25 May 2026 | 05:00 PM

Background
Awas Nyut-Nyutan: Panduan Menghindari Pantangan Asam Urat Biar Nggak Jadi Remaja Jompo
(Pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Bayangkan skenario ini: malam minggu kemarin kamu baru saja merayakan gajian dengan pesta sate kambing dan jeroan yang lemaknya lumer di mulut. Rasanya? Wah, jangan ditanya, surga dunia. Tapi pas bangun tidur pagi tadi, tiba-tiba jempol kaki kamu terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum tak kasat mata. Jangankan buat jalan ke kamar mandi, kena gesekan selimut saja rasanya pengin teriak minta ampun. Selamat datang di klub "Asam Urat", sebuah fase hidup di mana tubuh kamu mulai melayangkan protes keras atas segala dosa kuliner yang kamu lakukan.

Dulu, asam urat sering dianggap sebagai penyakitnya para bapak-bapak atau kakek-kakek yang sudah pensiun. Tapi sekarang? Trennya bergeser, kawan. Anak muda umur 20-an atau 30-an sudah banyak yang kena "serangan" mendadak ini. Istilah "remaja jompo" ternyata bukan cuma soal gampang capek, tapi juga soal kadar asam urat yang melonjak gara-gara gaya hidup nggak beraturan. Kalau kamu sudah mulai merasakan gejala "nyut-nyutan" yang nggak santai ini, ada baiknya kita mulai bicara serius soal apa saja yang harus dicoret dari daftar menu harian kamu.

Si Primadona Maut: Jeroan dan Daging Merah

Mari kita jujur, siapa yang bisa menolak godaan soto betawi dengan babat dan paru yang digoreng garing? Atau usus di nasi rames yang bumbunya meresap sampai ke sanubari? Sayangnya, bagi penderita asam urat, jeroan adalah musuh nomor satu yang harus dihindari layaknya menghindari mantan yang mau pinjam uang. Hati, limpa, usus, paru, dan ginjal mengandung purin yang sangat tinggi. Di dalam tubuh, purin ini akan dipecah menjadi kristal asam urat yang kemudian menumpuk di sendi. Itulah yang bikin jempol kaki kamu bengkak dan merah merona.

Nggak cuma jeroan, daging merah seperti kambing, sapi, dan kuda juga punya potensi bahaya yang sama. Bukannya dilarang total sampai kamu jadi vegetarian mendadak, tapi kalau setiap hari menunya adalah steak atau rendang, ya jangan kaget kalau sendi-sendi kamu mulai mogok kerja. Porsinya harus benar-benar dijaga, atau lebih baik diganti dengan sumber protein lain yang lebih aman seperti dada ayam tanpa kulit atau tempe-tahu yang dikukus.

Seafood: Enak di Lidah, Siksa di Kaki

Makan seafood bareng teman-teman di pinggir jalan memang punya vibe yang asik banget. Tapi buat kamu yang sudah punya riwayat asam urat, kepiting, udang, kerang, dan cumi adalah barisan "bom waktu". Seafood mengandung kadar purin yang cukup tinggi. Seringkali kita merasa baik-baik saja saat makan, eh, tiga jam kemudian kaki langsung kaku. Bahkan ikan-ikan tertentu yang sering dianggap sehat seperti sarden, makarel, dan teri juga masuk dalam daftar waspada. Jadi, kalau diajak makan seafood tumpah, mending kamu pesan cah kangkung saja—eh, tapi tunggu dulu, kangkung juga ada catatannya!

Sayuran yang Ternyata 'Berkhianat'

Ini adalah bagian yang paling membingungkan sekaligus menyebalkan. Kita selalu diajarkan bahwa makan sayur itu sehat. Tapi di dunia asam urat, nggak semua sayur itu teman. Ada beberapa jenis sayuran hijau yang diam-diam menyimpan purin dalam jumlah moderat. Contohnya bayam, kangkung, kembang kol, dan buncis. Memang dampaknya nggak se-ekstrem kalau kamu makan hati sapi, tapi kalau dikonsumsi dalam jumlah besar, ya sama saja bohong.

Dan jangan lupakan satu tersangka utama dalam kuliner Indonesia: Melinjo. Baik dalam bentuk sayur lodeh maupun emping goreng. Emping itu ibarat kerupuk yang mematikan bagi penderita asam urat. Makan satu-dua keping mungkin nggak terasa, tapi kalau satu toples dihabiskan sambil nonton Netflix, besok pagi siap-siap saja jalan pakai kruk. Ini adalah ironi kehidupan paling nyata; makanan paling gurih justru yang paling bikin sakit.

Minuman Manis dan Gula Fruktosa

Banyak orang mengira asam urat cuma urusan daging-dagingan. Padahal, gula—terutama jenis fruktosa—adalah pemicu tersembunyi yang jarang disadari. Minuman kekinian seperti boba, es kopi susu gula aren, atau minuman kaleng bersoda itu jahat banget buat asam urat kamu. Fruktosa dalam tubuh bisa mempercepat pemecahan purin dan menghambat pembuangan asam urat melalui urine. Jadi, meskipun kamu sudah berhenti makan sate kambing tapi masih hobi "ngoboba" setiap sore, kadar asam uratmu bakal tetap nangkring di angka tinggi.

Alkohol: Sahabat Karib Rasa Sakit

Kalau kamu suka nongkrong sambil minum bir, ini saatnya untuk evaluasi diri. Bir mengandung ragi yang sangat kaya akan purin. Alkohol secara umum juga bikin ginjal lebih sibuk membuang sisa metabolisme alkohol daripada membuang asam urat. Hasilnya? Asam urat menumpuk di dalam darah dan nggak bisa keluar. Nggak jarang orang mengalami serangan gout hebat setelah malamnya minum-minum. Jadi, mending beralih ke air putih atau jus buah tanpa gula. Boring? Mungkin. Tapi jauh lebih baik daripada kesakitan semalaman.

Lalu, Harus Makan Apa?

Membaca daftar pantangan di atas mungkin bikin kamu merasa dunia sudah berakhir dan makanan enak sudah nggak ada lagi. Tenang, belum separah itu kok. Kamu masih bisa makan dengan enak asalkan tahu triknya. Perbanyak minum air putih untuk membantu ginjal membilas asam urat. Konsumsi buah-buahan yang kaya vitamin C seperti jeruk atau stroberi, karena menurut beberapa penelitian, vitamin C bisa membantu menurunkan kadar asam urat.

Kesimpulannya, asam urat itu sebenarnya adalah cara tubuh memberi tahu kalau kita sudah terlalu "zalim" pada diri sendiri. Kita terlalu banyak memasukkan zat yang nggak sanggup diproses oleh tubuh. Mengatur pola makan bukan berarti menyiksa diri, tapi justru bentuk sayang pada diri sendiri supaya di masa tua nanti kita masih bisa jalan-jalan tanpa perlu meringis kesakitan di setiap langkah. Jadi, sebelum mengambil tusukan sate jeroan yang kelima, coba tanya pada jempol kakimu: "Siap nggak kita lembur nahan sakit besok pagi?"

Tags