Kamis, 25 Juni 2026
Amandit FM
Kesehatan

Bukan Cuma COVID-19, Ini Cerita Hantavirus yang Sempat Viral

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 11 May 2026 | 05:00 PM

Background
Bukan Cuma COVID-19, Ini Cerita Hantavirus yang Sempat Viral
Ilustrasi virus (Pexels.com/ Max Mishin)

Hantavirus vs COVID-19: Jangan Langsung Panik, Kenali Bedanya Biar Nggak Overthink!

Masih ingat nggak sih, pas awal-awal pandemi COVID-19 lagi panas-panasnya sekitar tahun 2020 lalu, tiba-tiba ada berita viral soal seseorang di China yang meninggal gara-gara Hantavirus? Netizen yang waktu itu lagi parno-parnonya langsung auto-heboh. Kolom komentar di media sosial penuh dengan spekulasi liar: "Waduh, ada pandemi baru lagi?" atau "Gila, satu virus aja belum kelar, udah muncul temennya."

Jujur aja, reaksi panik itu manusiawi banget. Tapi, kalau kita bedah pelan-pelan pakai kepala dingin, Hantavirus dan COVID-19 itu sebenarnya kayak bumi dan langit. Meskipun sama-sama virus dan sama-sama punya potensi bikin nyawa melayang, cara main mereka beda jauh. Nah, biar kamu nggak gampang termakan judul berita yang clickbait, mending kita bahas tuntas perbedaan "si pendatang lama" Hantavirus ini dengan COVID-19 yang sudah mengubah gaya hidup kita selama beberapa tahun terakhir.

Bukan Pemain Baru di Dunia Virus

Hal pertama yang perlu kamu tahu, Hantavirus itu bukan virus baru yang tiba-tiba muncul kemarin sore. Berbeda dengan COVID-19 (SARS-CoV-2) yang sempat bikin dunia kaget karena kemunculannya yang mendadak dan penyebarannya yang super masif, Hantavirus sebenarnya sudah dikenal oleh dunia medis sejak puluhan tahun lalu. Nama "Hanta" sendiri diambil dari Sungai Hantan di Korea Selatan, tempat virus ini pertama kali diisolasi pada tahun 70-an.

Jadi, secara silsilah, Hantavirus ini bisa dibilang "senior" yang sudah lama menetap di sekitar kita. Bedanya, dia nggak se-eksis COVID-19 yang hobi "cari panggung" lewat transmisi antarmanusia yang sangat cepat. Hantavirus lebih suka main di balik layar, alias jarang banget bikin drama pandemi global.

Transmisi: Antara Kerumunan Manusia dan Kotoran Tikus

Ngomongin soal cara nularnya, kedua virus ini punya gaya hidup yang kontras banget. COVID-19 itu ibarat orang yang ekstrovert banget; dia suka kerumunan. Penularannya lewat droplet (percikan cairan) saat orang batuk, bersin, atau sekadar ngobrol. Karena manusia itu makhluk sosial yang hobinya kumpul-kumpul, ya nggak heran kalau COVID-19 bisa keliling dunia cuma dalam hitungan bulan.

Nah, kalau Hantavirus ini tipe yang introvert dan "antisosial" terhadap manusia. Dia nggak butuh manusia untuk bertahan hidup. Inang aslinya adalah tikus atau hewan pengerat (rodent). Kamu bisa tertular Hantavirus kalau secara nggak sengaja menghirup udara yang terkontaminasi oleh urine, kotoran, atau air liur tikus yang sudah terinfeksi virus ini. Istilah kerennya adalah airborne transmission dari feses kering yang terbang tertiup angin atau terhirup saat kita lagi bersih-bersih gudang yang banyak tikusnya.

Yang paling penting untuk dicatat: Hantavirus itu jarang banget, bahkan hampir nggak pernah, nular dari manusia ke manusia. Jadi, kalau tetangga kamu (amit-amit) kena Hantavirus, kamu nggak perlu parno bakal ketularan cuma gara-gara papasan di depan pagar. Beda cerita kalau itu COVID-19, kan?

Gejala yang Bikin Bingung

Kalau kita bicara soal gejala, awalnya emang agak mirip sih. Keduanya sama-sama bikin badan demam, sakit kepala, dan pegel-pegel kayak habis angkat beban berat. Tapi setelah beberapa hari, "jalur" penyakitnya bakal mulai bercabang.

COVID-19 biasanya menyerang saluran pernapasan dengan gejala khas seperti batuk kering, sesak napas, sampai kehilangan indra penciuman (anosmia). Sedangkan Hantavirus punya dua "wajah" utama tergantung jenisnya. Ada yang namanya Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang bikin paru-paru penuh cairan dan bikin sesak napas parah. Ada juga Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih menyerang ke ginjal dan bisa bikin tekanan darah drop drastis.

Intinya, kalau Hantavirus sudah mulai menyerang, biasanya kondisinya bakal langsung drop banget dan butuh penanganan intensif di rumah sakit. Nggak ada ceritanya "isolasi mandiri" di rumah sambil minum vitamin doang kalau sudah kena gejala berat Hantavirus.

Mana yang Lebih Bahaya?

Kalau ditanya mana yang lebih mematikan, hitung-hitungannya agak tricky. Secara statistik case fatality rate (tingkat kematian per kasus), Hantavirus jauh lebih sangar daripada COVID-19. Beberapa jenis Hantavirus punya tingkat kematian mencapai 38% sampai 40%. Artinya, dari 10 orang yang kena, 4 orang bisa meninggal. Serem, kan?

Tapi, jangan langsung lemes dulu. Meskipun tingkat kematiannya tinggi, jumlah kasus Hantavirus itu dikit banget kalau dibandingin sama COVID-19. Karena cara penularannya yang susah (harus lewat kontak dengan tikus), kemungkinan kamu kena Hantavirus itu jauh lebih kecil daripada kemungkinan kamu kena flu biasa atau COVID-19. Jadi, secara risiko publik, COVID-19 tetap lebih berbahaya karena dia bisa menginfeksi jutaan orang sekaligus dalam waktu singkat, yang akhirnya bikin fasilitas kesehatan kolaps.

Mencegahnya Gimana?

Karena musuh utamanya beda, cara perangnya pun beda. Kalau buat lawan COVID-19 kita sudah khatam soal pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Nah, kalau buat lawan Hantavirus, musuh utama kamu bukan orang lain, melainkan kebersihan rumah sendiri.

Langkah paling ampuh buat menangkal Hantavirus adalah dengan memastikan nggak ada tikus yang "kos" di rumah kamu. Jangan biarkan sisa makanan berceceran, tutup lubang-lubang kecil yang bisa jadi pintu masuk tikus, dan kalau lagi bersih-bersih gudang yang berdebu banget, pakailah masker dan gunakan disinfektan. Jangan asal sapu debu kering yang mungkin ada kotoran tikusnya, mending dipel basah biar debunya nggak terbang dan terhirup.

Kesimpulan: Stay Clean, Don't Panic

Jadi, pesan moralnya adalah: jangan gampang kemakan hoaks atau ketakutan yang berlebihan. Hantavirus memang bahaya, tapi dia bukan ancaman pandemi global yang bakal bikin kita dikurung di rumah lagi kayak tahun-tahun kemarin. Selama kamu rajin cuci tangan dan menjaga rumah tetap bersih dari gangguan tikus, kamu sudah melakukan langkah pencegahan yang sangat efektif.

Dunia medis sudah jauh lebih siap sekarang. Kita sudah belajar banyak dari pandemi COVID-19 tentang bagaimana cara merespons virus. Jadi, daripada overthink mikirin virus yang jauh di sana, mending fokus jaga kesehatan diri sendiri, makan enak yang bergizi, dan jangan lupa bahagia. Karena jujur aja, stres mikirin berita yang belum tentu benar itu justru lebih cepat bikin imun tubuh drop, lho!

Tags