Buried in Detroit: Mike Posner, Big Sean, dan Janji untuk Pulang ke Akar
Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 28 February 2026 | 08:36 PM


Dirilis pada 2016 dalam album At Night, Alone., Buried in Detroit (Remix) memperlihatkan sisi reflektif dari Mike Posner dengan tambahan verse dari Big Sean. Diproduseri oleh Mike Posner dan Martin Terefe, lagu ini bukan sekadar tentang kota, tetapi tentang identitas, keluarga, dan tempat yang membentuk seseorang sejak awal.
Sejak verse pertama, Posner memperkenalkan dirinya dengan sederhana, "I'm a writer and a lover, I'm a Midwest music man". Ia tidak menyebut dirinya superstar atau selebritas, melainkan pria Midwest yang mencintai musik. Meski ia telah bepergian ke banyak tempat dan namanya dikenal hingga Paris, ia menegaskan bahwa semua perjalanan itu tidak mengubah akar dirinya.
Hook lagu ini menjadi pernyataan paling kuat, "I'll be buried in Detroit, next to my father, and my father's father, too". Kalimat ini bukan hanya literal tentang tempat pemakaman. Ini simbol loyalitas terhadap kampung halaman. Detroit sering diasosiasikan dengan kota industri yang keras dan pernah mengalami kemunduran ekonomi. Bahkan Posner menyebutnya sebagai "that place people avoid". Namun justru di situlah nilai emosionalnya berada.
Ketika ia menyanyikan "I used to live in New York City, but baby, that ain't no substitute", maknanya jelas. Kota besar seperti New York menawarkan peluang, glamor, dan jaringan industri. Tetapi bagi Posner, semua itu tidak bisa menggantikan rasa memiliki yang ia temukan di Detroit. Ini kontras yang menarik antara ambisi global dan akar lokal.
Baris "I've made love in every city, but I'll be buried in Detroit" menggambarkan perjalanan hidup yang luas, pengalaman di berbagai tempat, namun hati tetap pulang. Cinta, karier, dan kesuksesan bisa terjadi di mana saja, tetapi identitas tetap melekat pada tanah kelahiran.
Di verse berikutnya, Posner berkata, "I don't claim to be a prophet, I just speak my mind". Ia menegaskan bahwa lagu ini bukan khotbah, melainkan kejujuran. Ketika ia menambahkan "sometimes God makes it rhyme", ada sentuhan spiritual yang menunjukkan bahwa musik baginya adalah panggilan, bukan sekadar profesi.
Remix dengan kehadiran Big Sean menjadi semakin bermakna karena Big Sean juga berasal dari Detroit. Kolaborasi ini seperti pertemuan dua anak kota yang sama sama merantau dan sukses, namun tetap membawa nama kota mereka ke panggung dunia. Ada rasa bangga yang tidak berlebihan, tetapi tulus.
Secara keseluruhan, Buried in Detroit adalah pernyataan identitas. Lagu ini berbicara tentang pentingnya akar keluarga, tentang bagaimana kesuksesan tidak harus menghapus asal usul. Mike Posner menunjukkan bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada tempat yang membentuk cara berpikir, cara bermimpi, dan cara mencintai. Detroit dalam lagu ini bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol rumah yang akan selalu ia pilih, bahkan hingga akhir hayat.
Next News

Festival Bamboo Rafting Loksado 2026, Sensasi Menyusuri Sungai Amandit dengan Rakit Bambu di Pegunungan Meratus
18 hours ago

Westlife: Rahasia Kenapa Mas-Mas Irlandia Ini Masih Jadi Juara di Hati Kita
17 days ago

Bukan Sekadar Boyband, Westlife Adalah Definisi Tongkrongan yang Menolak Bubar
17 days ago

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
17 days ago

Nostalgia Meteor Garden: Cerita di Balik Terbentuknya F4 yang Pernah Mengacak-acak Hati Kita
17 days ago

Nostalgia F4: Menelusuri Jejak Para Pangeran Meteor Garden yang Kini Sudah Senior
17 days ago

Westlife: Bukan Sekadar Modal Kursi Bar dan Wajah Tampan, Ini Sisi Lain yang Jarang Terungkap
17 days ago

Nostalgia Tipis-Tipis: Deretan Album Westlife Terbaik yang Wajib Masuk Playlist Kamu
18 days ago

Fenomena F4: Saat Seluruh Indonesia Terkena Demam Meteor Garden
18 days ago

Westlife: Kenapa Boyband 'Bapak-Bapak Wangi' Ini Tetap Jadi Juara di Hati Orang Indonesia?
18 days ago




