Sabtu, 14 Maret 2026
Amandit FM
Science & Technology

Dompet Kena Prank? Simak Cara Menghadapi Inflasi di Kehidupan Nyata

Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 28 February 2026 | 04:00 AM

Background
Dompet Kena Prank? Simak Cara Menghadapi Inflasi di Kehidupan Nyata
Semua mahal (Pexels.com/Dziana Hasanbekava)

Dompet Menipis, Harga Selangit: Curhat Rakyat Jelata Menghadapi Inflasi yang Nggak Ada Akhlak

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau uang seratus ribu rupiah sekarang tuh udah kayak uang sepuluh ribu? Baru aja narik di ATM, mampir ke minimarket beli sabun cuci piring, kopi sachet, sama beberapa camilan, eh pas liat struk, kembaliannya cuma recehan yang bahkan buat bayar parkir aja kurang. Rasanya tuh kayak kena prank, tapi prank-nya beneran dan pelakunya adalah fenomena ekonomi yang sering kita sebut sebagai inflasi.

Inflasi itu sebenernya istilah keren buat kondisi di mana harga-harga barang dan jasa naik terus secara kompak dan berjamaah dalam waktu yang lama. Kalau kata anak ekonomi sih ini hal yang wajar, tanda ekonomi bertumbuh. Tapi bagi kita-kita yang gajinya cuma mampir lewat doang, inflasi itu ibarat tamu tak diundang yang hobinya ngerampok isi dompet secara halus. Efeknya? Bukan cuma soal harga cabai yang bikin emak-emak teriak di pasar, tapi udah merembet ke segala lini kehidupan kita yang makin ke sini makin nggak masuk akal.

Strategi Bertahan Hidup di Tengah Fenomena 'Shrinkflation'

Salah satu dampak inflasi yang paling nyebelin tapi sering nggak kita sadari adalah fenomena 'shrinkflation'. Ini adalah strategi licik—eh, maksudnya cerdik—dari para produsen buat nggak naikin harga tapi ngecilin ukurannya. Pernah beli keripik kentang yang bungkusnya gede banget tapi pas dibuka isinya banyakan angin daripada isinya? Nah, itu dia. Atau deterjen yang dulu isinya penuh, sekarang volumenya menyusut tapi harganya tetap stabil.

Kita sebagai konsumen lama-lama jadi kayak detektif dadakan. Tiap belanja, kita harus teliti liat gramasi di pojok kemasan. "Loh, perasaan kemarin 250 gram, kok sekarang jadi 225 gram?" keluh kita dalam hati. Dampaknya ya ke gaya hidup. Kita yang tadinya hobi jajan kopi susu kekinian yang harganya setara paket makan siang di warteg, sekarang mulai mikir dua kali. Alhasil, gerakan 'back to kopi sachet' atau 'bawa botol minum sendiri' jadi tren bukan karena kita tiba-tiba jadi pecinta lingkungan, tapi ya karena emang keadaan yang memaksa. Dompet kita udah teriak minta tolong, bung!

Mimpi Punya Rumah yang Makin Terasa Kayak Dongeng

Kalau kita bicara dampak inflasi jangka panjang, yang paling bikin nyesek adalah soal papan atau tempat tinggal. Dulu, orang tua kita mungkin bisa beli tanah dan bangun rumah pelan-pelan pakai gaji PNS atau karyawan biasa. Zaman sekarang? Boro-boro beli rumah di pinggir kota, nyicil apartemen studio yang ukurannya cuma beda tipis sama kamar kos aja udah bikin napas ngos-ngosan. Harga properti naiknya nggak pake ngerem, sementara kenaikan gaji tahunan kita seringkali cuma cukup buat nutupin kenaikan harga bensin sama kuota internet.

Ini yang bikin banyak anak muda sekarang ngalamin yang namanya 'existential crisis'. Kita kerja banting tulang, lembur sampai tipes, tapi pas liat tabungan, rasanya mimpi punya rumah sendiri itu makin jauh kayak ngejar bayangan. Inflasi bikin daya beli kita tergerus perlahan tapi pasti. Akhirnya, banyak yang milih buat jadi 'forever renter' alias pengontrak abadi atau numpang di rumah mertua sampai waktu yang tidak ditentukan. Sedih? Banget. Tapi ya mau gimana lagi, realitanya emang sekejam itu.

Kesehatan Mental yang Ikut Terkikis

Jangan salah, inflasi itu nggak cuma nyerang dompet, tapi juga nyerang kesehatan mental. Coba bayangin, tiap hari kita disuguhin berita kenaikan harga BBM, harga beras yang makin liar, sampai tarif listrik yang ikut-ikutan naik. Belum lagi godaan media sosial yang pamer gaya hidup mewah, makin bikin kita merasa 'miskin' dan gagal. Tekanan ekonomi ini seringkali jadi pemicu stres yang luar biasa.

Banyak dari kita yang akhirnya terjebak dalam lingkaran setan pinjaman online alias pinjol karena butuh uang cepat buat nutupin kebutuhan hidup yang harganya makin nggak ngotak. Ujung-ujungnya, bukannya masalah selesai, malah nambah masalah baru yang bikin susah tidur. Inflasi bikin kita jadi manusia yang penuh kecemasan. Kita jadi takut buat sakit, takut buat nikah, bahkan takut buat sekadar punya hobi karena semuanya butuh biaya yang makin hari makin mahal. 'Healing' yang tadinya jadi pelarian dari stres, sekarang malah bikin stres karena harganya yang juga ikutan kena inflasi.

Sisi Positif yang Dipaksakan: Jadi Lebih Kreatif

Tapi ya, namanya juga manusia, selalu ada cara buat survive. Di tengah gempuran inflasi, kita jadi dipaksa buat lebih kreatif dan melek finansial. Sekarang makin banyak konten-konten soal 'frugal living' atau cara mengatur keuangan yang viral. Orang-orang mulai belajar investasi, mulai dari reksadana sampai emas, biar uangnya nggak dimakan rayap inflasi. Kita jadi lebih pinter membedakan mana 'keinginan' dan mana 'kebutuhan'.

Mungkin sisi baiknya adalah kita jadi lebih menghargai setiap perak yang kita hasilkan. Makan di warteg sekarang rasanya lebih nikmat karena kita tau perjuangan buat dapet sepiring nasi itu nggak mudah. Kita juga jadi lebih solider. Banyak komunitas yang bikin gerakan 'berbagi makanan' atau 'pasar murah' buat bantu sesama yang terdampak paling parah. Inflasi emang pahit, tapi setidaknya dia ngajarin kita buat tetap berpijak di bumi dan nggak gampang foya-foya.

Akhir kata, inflasi itu emang kenyataan pahit yang harus kita telan setiap hari. Kita nggak bisa ngontrol harga minyak dunia atau kebijakan moneter pemerintah, tapi kita punya kendali penuh atas gimana cara kita bereaksi. Tetap waras di tengah harga yang makin gila itu prestasi tersendiri. Jadi, kalau hari ini kamu masih bisa makan enak dan bayar kosan tepat waktu, selamat! Kamu adalah pejuang tangguh di era inflasi yang nggak ada akhlak ini. Jangan lupa bahagia, walau saldo ATM lagi nggak oke-oke banget.

Tags