Fenomena Rp50 Ribu Cepat Ludes: Inflasi atau Gaya Hidup?
Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 28 February 2026 | 05:00 AM


Ketika Harga Gorengan Tak Lagi Ramah di Kantong: Apa Jadinya Kalau Inflasi Jalan Terus?
Pernah nggak sih kamu merasa, beberapa tahun lalu bawa uang Rp50 ribu ke pasar atau minimarket itu rasanya kayak jadi sultan kecil? Bisa dapat mi instan satu kardus, minyak goreng, sampai sisa kembaliannya masih cukup buat beli es cendol. Sekarang? Bawa Rp50 ribu ke minimarket, kedip sebentar pas di kasir, eh tahu-tahu cuma dapat sabun cuci piring sama tisu dua pak. Sisanya? Tinggal kenangan dan struk panjang yang bikin sakit hati.
Itulah penampakan nyata dari monster yang namanya inflasi. Secara teori sih, inflasi itu kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu. Tapi kalau ngomongin realitanya, inflasi itu rasanya kayak mantan yang pelan-pelan ngabisin kebahagiaan kita: nggak berisik, tapi efeknya bikin sesak napas. Masalahnya, gimana kalau inflasi ini nggak mau berhenti dan terus-terusan naik? Apakah kita bakal balik lagi ke zaman barter pakai batu atau gimana?
Duit yang Jadi 'Kertas Tak Berdaya'
Dampak paling pertama yang bakal kita rasain kalau inflasi terus terjadi adalah penurunan daya beli. Bayangin aja, gaji kamu naik 5 persen setahun—itu pun kalau bos lagi baik hati—tapi harga beras, cabai, dan bensin naiknya bisa 15 persen. Artinya, secara teknis, kamu itu sebenarnya lagi mengalami penurunan gaji. Uang Rp100 ribu kamu hari ini nggak akan punya "tenaga" yang sama dengan Rp100 ribu tahun depan.
Kalau ini terus terjadi, fenomena "Shrinkflation" bakal makin gila-gilaan. Kamu tahu kan, bungkus snack yang isinya makin banyak angin daripada keripiknya? Atau sabun batangan yang ukurannya makin lama makin mirip penghapus pensil? Produsen itu pusing kalau harga bahan baku naik tapi mereka takut naikin harga jual karena takut nggak laku. Solusinya ya itu: ukurannya dikecilin. Kalau inflasi nggak berhenti, lama-lama kita mungkin bakal beli kopi di kafe cuma dapat setengah cangkir dengan harga yang lebih mahal dari satu liter bensin.
Si Kaya Makin Cuan, Si Miskin Makin Boncos
Ini adalah sisi gelap inflasi yang sering bikin miris. Inflasi itu kayak filter yang memisahkan mereka yang punya aset dengan mereka yang cuma punya tabungan di bawah bantal. Orang-orang kaya yang punya tanah, emas, atau saham biasanya santai-santai aja. Kenapa? Karena nilai aset mereka bakal ikut naik seiring inflasi. Harga rumah naik, mereka makin kaya. Harga saham naik, mereka makin makmur.
Tapi gimana dengan rakyat jelata yang gajinya habis buat makan doang? Mereka ini yang paling kena hantam. Nggak ada sisa uang buat investasi, sementara harga kebutuhan pokok meroket. Kesenjangan sosial bakal makin lebar. Orang makin susah buat naik kelas secara ekonomi karena buat bertahan hidup aja sudah setengah mati. Kalau kondisi ini terus berlanjut tanpa rem, jangan kaget kalau angka kriminalitas ikutan naik karena perut lapar nggak bisa diajak kompromi.
Suku Bunga Ikutan 'Terbang' ke Langit
Nah, buat ngerem inflasi yang kegendutan, biasanya Bank Sentral (kalau di kita ya Bank Indonesia) bakal naikin suku bunga. Tujuannya biar orang malas belanja dan lebih milih nabung, terus peredaran uang jadi berkurang. Tapi efek sampingnya buat kita-kita yang lagi nyicil motor, mobil, atau KPR rumah itu berasa banget.
Cicilan yang tadinya flat atau masih masuk akal, tiba-tiba bisa melonjak. Uang yang harusnya bisa buat beli kopi kekinian atau nonton bioskop, malah habis buat bayar bunga bank yang makin hari makin nggak ngotak. Kalau inflasi terus terjadi dan bunga bank ikutan naik, daya beli masyarakat bakal benar-benar lumpuh. Ekonomi jadi lesu karena orang-orang lebih milih "bertapa" di rumah daripada jajan di luar.
Ketidakpastian yang Bikin Pusing Tujuh Keliling
Hal paling menyebalkan dari inflasi yang terus-menerus adalah hilangnya kepastian. Bayangin kamu seorang pengusaha kecil yang jualan martabak. Hari ini harga telur naik, besok harga terigu melonjak, lusa harga mentega ikutan gila. Kamu jadi bingung mau pasang harga berapa. Kalau kemahalan, pelanggan kabur. Kalau kemurahan, kamu malah nombok.
Kondisi ini bikin orang jadi takut buat mulai bisnis atau investasi jangka panjang. Investor asing juga bakal mikir dua kali buat naruh duit di negara yang harganya nggak stabil. Ujung-ujungnya apa? Lapangan kerja jadi makin dikit. Kita yang lagi cari kerja atau pengen pindah kantor jadi makin susah karena perusahaan pada mode "surviving" alias cuma berusaha bertahan hidup doang tanpa mau ekspansi.
Apa Kita Harus Panik?
Sebenarnya, inflasi dalam kadar kecil itu dianggap sehat buat ekonomi karena menandakan ada aktivitas jual-beli. Tapi kalau sudah jadi inflasi yang terus-menerus dan nggak terkendali (hyperinflation), itu baru horor. Kita bisa belajar dari negara-negara yang pernah ngalamin itu, di mana harga roti aja bisa naik tiap jam. Orang bawa uang satu gerobak cuma buat beli satu butir telur.
Lalu, apa yang bisa kita lakuin? Ya, minimal jangan cuma diam. Mulailah melek finansial. Jangan taruh semua uang di tabungan biasa yang bunganya kemakan biaya admin. Coba lirik investasi yang bisa ngelawan inflasi, kayak emas atau reksadana. Dan yang paling penting, mulai belajar bedain mana "kebutuhan" dan mana "keinginan" yang cuma sekadar buat pamer di Instagram Story.
Inflasi emang nggak bisa kita hentikan sendirian, karena itu urusan makroekonomi yang melibatkan pemerintah dan kebijakan dunia. Tapi, dengan tetap waspada dan nggak konsumtif secara membabi buta, kita setidaknya punya payung sebelum hujan badai harga-harga benar-benar datang menerjang dompet kita. Tetap semangat, ya! Meskipun harga gorengan naik, semoga rezeki kita naiknya lebih kencang lagi.
Next News

Strategi Menentukan Skala Prioritas Materi UTBK: Karena Waktu Tak Bisa Disogok Pakai SKS Semalam
14 days ago

Lulus PTN Tanpa Kuras Rekening Orang Tua: Panduan Belajar UTBK Mandiri Buat Kamu yang Anti-Bimbel
15 days ago

Jangan Cuma Modal Nekat: Mengapa Tryout UTBK Itu Koentji dan Gimana Cara Biar Nggak Sia-sia
15 days ago

Qurban Online: Praktis Sih, Tapi Sah Enggak Ya? Yuk, Simak Kupas Tuntasnya!
17 days ago

Marina Budiman: Sosok di Balik Penyimpanan Data TikTok dan IG
21 days ago

Mengenal Lebih Dekat Jensen Huang Sosok di Balik Kesuksesan Nvidia
21 days ago

Profil Steve Ballmer: Pemain Lama yang Kini Makin Tajir Melintir
21 days ago

Mark Zuckerberg: Dari Meme Robot sampai Jadi Manusia 3.500 Triliun Rupiah
22 days ago

Gila, Harta Jeff Bezos Tembus $255 Miliar: Kapan Lagi Bisa Beli Pulau Sambil Merem?
22 days ago

Sergey Brin: Si Ilmuwan Nyentrik dengan Harta 256 Miliar Dollar yang Bikin Kita Semua Merasa Miskin Berjamaah
22 days ago





