Minggu, 14 Juni 2026
Amandit FM
Science & Technology

Gen Alfa dan Candu Layar: Saat Balita Lebih Jago Scrolling Daripada Ngikat Tali Sepatu

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 14 May 2026 | 12:00 PM

Background
Gen Alfa dan Candu Layar: Saat Balita Lebih Jago Scrolling Daripada Ngikat Tali Sepatu
Gen Alfa (Pexels.com/Pixabay)

Pernah nggak sih kalian lagi nongkrong di kafe, terus di meja sebelah ada anak kecil yang duduknya anteng banget? Saking antengnya, dia nggak ngerengek minta jajan atau lari-larian nabrak pelayan. Tapi pas kalian lirik, ternyata si bocil ini lagi fokus banget—matanya nggak lepas dari layar iPad yang nampilin video orang buka kado (unboxing) atau animasi warna-warni dengan lagu yang diulang-ulang. Selamat datang di era Gen Alfa, generasi yang lahir barengan sama populernya Instagram dan naiknya pamor TikTok.

Gen Alfa, mereka yang lahir antara tahun 2010 sampai pertengahan 2020-an, sering disebut sebagai "iPad Kids". Kalau generasi milenial dulu masih ngerasain transisi dari telepon kabel ke handphone layar kuning, anak-anak Gen Alfa ini sudah kenal algoritma bahkan sebelum mereka lancar ngomong R. Dampak media sosial ke mereka itu bukan cuma soal "main gadget doang", tapi sudah merasuk ke sumsum tulang perkembangan psikologis dan cara mereka memandang dunia.

TikTok Brain dan Hilangnya Daya Fokus

Masalah paling nyata yang sering diomongin para ahli—dan dirasain para orang tua—adalah soal rentang perhatian atau attention span. Media sosial sekarang itu sifatnya "sat-set". Video pendek di TikTok atau Reels itu durasinya cuma hitungan detik. Kalau nggak menarik dalam tiga detik pertama, tinggal swipe. Nah, kebiasaan swipe-swipe ini lama-lama bikin otak Gen Alfa terbiasa sama stimulasi instan.

Istilah populernya adalah "TikTok Brain". Efeknya apa? Anak-anak jadi gampang bosen kalau harus ngadepin sesuatu yang prosesnya lama. Baca buku? Kelamaan. Nunggu guru ngejelasin pelajaran di kelas? Berasa kayak nunggu antrean bansos. Mereka pengen semuanya serba instan karena algoritma media sosial sudah memanjakan dopamin mereka setiap detik. Jujur aja, kita yang dewasa aja sering kejebak scrolling berjam-jam sampai lupa mandi, apalagi anak kecil yang kontrol dirinya belum matang, kan?

Krisis Identitas di Balik Filter Cantik

Dulu, standar keren itu ya temen sekelas yang jago main bola atau yang punya koleksi kartu paling lengkap. Sekarang? Standar keren Gen Alfa itu ya influencer cilik atau kreator konten yang rumahnya estetik. Media sosial bikin anak-anak ini terpapar sama gaya hidup orang dewasa terlalu dini. Nggak heran kalau sekarang ada istilah "Sephora Kids", yaitu anak-anak SD yang sudah faham banget soal skincare retinol atau makeup high-end gara-gara keracunan konten beauty vlogger.

Secara psikologis, ini agak ngeri-ngeri sedap. Gen Alfa jadi punya beban untuk terlihat sempurna di depan kamera. Mereka jadi lebih peduli sama berapa jumlah "likes" atau "views" daripada asiknya main petak umpet. Identitas mereka jadi rapuh karena dibangun di atas validasi orang asing di internet. Kalau kontennya sepi, mereka merasa gagal. Padahal, masa kecil seharusnya jadi masa di mana kita bebas buat jadi "aneh" tanpa takut di-judge sama netizen se-Indonesia.

Bahasa Gaul dan Budaya "Brainrot"

Pernah denger anak kecil ngomong "Skibidi", "Rizz", atau "Sigma"? Kalau iya, selamat, kalian resmi jadi orang tua atau kakak yang ketinggalan zaman. Gen Alfa punya bahasa mereka sendiri yang lahir dari rahim meme-meme absurd di internet. Media sosial menciptakan sub-kultur yang benar-benar baru. Sisi positifnya, mereka memang jauh lebih kreatif dan punya sense of humor yang nggak ketebak. Tapi sisi gelapnya, seringkali mereka mengonsumsi konten "brainrot"—konten tanpa makna yang cuma buat lucu-lucuan tapi isinya kosong banget.

Selain itu, media sosial juga bikin mereka jadi lebih jago bahasa Inggris daripada bahasa daerahnya sendiri. Nonton YouTube Kids berjam-jam bikin aksen mereka jadi kayak anak-anak Amerika, tapi giliran disuruh ngomong sama kakek-neneknya pakai bahasa Jawa atau Sunda, malah plonga-plongo. Ini fenomena unik yang menunjukkan betapa kuatnya hegemoni konten digital dalam membentuk cara mereka berkomunikasi.

Nggak Selamanya Buruk, Kok!

Tapi ya, kita jangan cuma bisa ngomel dan nyalahin gadget. Media sosial juga punya peran jadi "sekolah kedua" buat mereka. Anak-anak Gen Alfa ini jauh lebih melek digital (digital literate) dibanding generasi sebelumnya. Mereka tahu cara cari informasi, cara edit video yang ciamik, bahkan ada yang sudah bisa cari duit sendiri lewat jalur konten kreator. Mereka jadi generasi yang lebih inklusif dan punya wawasan luas karena dunia ada di genggaman mereka.

Kuncinya sebenarnya bukan di "melarang", tapi di "mendampingi". Kalau dilepas gitu aja, ya media sosial bakal jadi hutan belantara yang buas buat mental mereka. Tapi kalau diarahkan, mereka bisa jadi generasi paling inovatif yang pernah ada. Masalahnya, kadang orang tuanya juga lebih asik scrolling daripada ngajak anaknya ngobrol. Jadi ya, sebelum kita protes soal Gen Alfa yang kecanduan gadget, mungkin kita perlu ngaca dulu: kita sudah ngasih contoh yang bener belum?

Penutup: Menjaga Keseimbangan di Dunia Virtual

Pada akhirnya, media sosial itu kayak pisau bermata dua buat Gen Alfa. Bisa buat motong buah yang manis, atau malah melukai tangan sendiri. Kita nggak bisa nyetop kemajuan teknologi, itu mustahil. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa meskipun jempol mereka lincah menari di atas layar, kaki mereka tetap menapak kuat di tanah.

Biarkan mereka tetap tahu rasanya baju kotor kena tanah, rasanya kalah main kelereng, dan rasanya bosen tanpa layar. Karena di balik semua algoritma canggih itu, mereka tetaplah anak-anak yang butuh pelukan, interaksi nyata, dan ruang untuk tumbuh tanpa perlu selalu direkam dan di-upload ke story. Masa depan Gen Alfa memang ada di internet, tapi pondasi kebahagiaan mereka tetap ada di dunia nyata.

Tags