Kamis, 5 Maret 2026
Amandit FM
Nasional

Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia Terancam

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 02 March 2026 | 10:13 AM

Background
Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia Terancam
Selat Hormuz (Google/Media Indonesia)

amanditmedia.id, Teheran - Iran resmi menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026. Laporan media kawasan Teluk menyebut kapal-kapal yang berada di perairan tersebut menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran yang memperingatkan bahwa tidak ada izin melintas di jalur itu.

Langkah ini langsung memicu kegelisahan pasar energi global. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik transit minyak paling strategis di dunia. Data menunjukkan sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati perairan sempit tersebut setiap hari.

Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Pada bagian tersempitnya, lebarnya sekitar 33 kilometer dengan masing-masing jalur pelayaran hanya sekitar 3 kilometer untuk dua arah, membuat lalu lintas kapal padat dan rentan terhadap gangguan.

Posisi Iran di pantai utara selat memberikan pengaruh besar terhadap akses keluar-masuk Teluk Persia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak bergantung pada jalur ini sebelum dikirim ke pasar internasional.

Menurut data perusahaan pelacak energi Vortexa, sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan produk bahan bakar melintasi Selat Hormuz setiap hari. Selain minyak, ekspor gas alam cair dari Qatar juga sangat bergantung pada jalur tersebut.

Sebagian besar pasokan yang melewati selat ditujukan ke Asia. Negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi konsumen utama dan berpotensi paling terdampak jika gangguan berlangsung lama.

Meski demikian, penutupan jalur ini juga berisiko bagi Iran sendiri. Ekonomi negara tersebut sangat bergantung pada ekspor minyak yang seluruhnya berbasis jalur laut, termasuk pengiriman ke China sebagai pembeli utama. Sejumlah analis energi menilai langkah tersebut dapat merugikan kepentingan ekonomi Teheran dalam jangka panjang.

Dengan posisi Selat Hormuz sebagai titik penyempitan transit minyak terpenting di dunia, setiap gangguan di kawasan ini hampir pasti berdampak langsung terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi global.

Tags