Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia Terancam
Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 02 March 2026 | 10:13 AM


amanditmedia.id, Teheran - Iran resmi menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026. Laporan media kawasan Teluk menyebut kapal-kapal yang berada di perairan tersebut menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran yang memperingatkan bahwa tidak ada izin melintas di jalur itu.
Langkah ini langsung memicu kegelisahan pasar energi global. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik transit minyak paling strategis di dunia. Data menunjukkan sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati perairan sempit tersebut setiap hari.
Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Pada bagian tersempitnya, lebarnya sekitar 33 kilometer dengan masing-masing jalur pelayaran hanya sekitar 3 kilometer untuk dua arah, membuat lalu lintas kapal padat dan rentan terhadap gangguan.
Posisi Iran di pantai utara selat memberikan pengaruh besar terhadap akses keluar-masuk Teluk Persia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak bergantung pada jalur ini sebelum dikirim ke pasar internasional.
Menurut data perusahaan pelacak energi Vortexa, sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan produk bahan bakar melintasi Selat Hormuz setiap hari. Selain minyak, ekspor gas alam cair dari Qatar juga sangat bergantung pada jalur tersebut.
Sebagian besar pasokan yang melewati selat ditujukan ke Asia. Negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi konsumen utama dan berpotensi paling terdampak jika gangguan berlangsung lama.
Meski demikian, penutupan jalur ini juga berisiko bagi Iran sendiri. Ekonomi negara tersebut sangat bergantung pada ekspor minyak yang seluruhnya berbasis jalur laut, termasuk pengiriman ke China sebagai pembeli utama. Sejumlah analis energi menilai langkah tersebut dapat merugikan kepentingan ekonomi Teheran dalam jangka panjang.
Dengan posisi Selat Hormuz sebagai titik penyempitan transit minyak terpenting di dunia, setiap gangguan di kawasan ini hampir pasti berdampak langsung terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi global.
Next News

Diskon Iuran BPJS Ketenagakerjaan 50 Persen untuk Ojol hingga Kurir, Berlaku sampai 2027
2 days ago

BPJS Ketenagakerjaan Perluas Perlindungan Pekerja Informal Lewat RT/RW dan Komunitas Masjid
2 days ago

Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026, BI Batasi Maksimal Rp5,3 Juta per Orang
2 days ago

Ekonom Peringatkan Dampak Jika Harga BBM Naik: Inflasi Tinggi hingga Risiko Resesi
2 days ago

Pemerintah Jamin Stok BBM Aman di Tengah Ketegangan Global
2 days ago

Filipina Pangkas Jam Kerja Demi Hemat Energi, Indonesia Masih Kaji Kebijakan Efisiensi
2 days ago

Prabowo Undang SBY dan Jokowi Hadiri Acara di Istana Merdeka Malam Ini
9 days ago

920 Cartridge Vape Berisi Narkoba Etomidate Diamankan Polisi di Jakarta Pusat
9 days ago

Kemendagri: OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Jadi Peringatan Tegas bagi Kepala Daerah
9 days ago

KPK Tangkap Bupati Pekalongan Fadia Arafiq dalam Operasi Tangkap Tangan di Jateng
9 days ago





