Kemenkes Terima Notifikasi Dua Kasus Campak WNA Australia dengan Riwayat Perjalanan ke Indonesia
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 03:23 AM


amanditmedia.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menerima notifikasi dari International Health Regulations (IHR) Australia terkait dua kasus campak pada warga negara asing asal Australia yang sebelumnya melakukan perjalanan ke Indonesia.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menerangkan kasus pertama dialami perempuan berusia 18 tahun yang terbang dari Jakarta ke Perth pada 7 Februari 2026 dan tiba pada dini hari 8 Februari.
"Pasiennya adalah perempuan usia 18 tahun, dengan gejala cuman ruam ya, dan melakukan penerbangan dari Jakarta ke Perth tanggal 7, tibanya dini hari tanggal 8 di Perth. Dan kasus ini, penderita ini, sebenarnya adalah warga negara Australia. Ya, tapi mereka punya, yang bersangkutan punya keluarga di Indonesia," ujar Andi dalam konferensi pers daring, Kamis (26/2).
Ia menjelaskan pasien tersebut telah menerima vaksinasi MMR lengkap pada 2009 saat berusia 1 dan 4 tahun. Pasien dinyatakan sembuh pada 24 Februari 2026. Dinas Kesehatan Jawa Barat telah melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kontak erat di Bandung, termasuk asisten rumah tangga dan sopir, dan tidak menemukan gejala campak.
Kasus kedua terjadi pada anak perempuan berusia 6 tahun yang masuk ke Indonesia pada 9 Januari dan tinggal lebih dari satu bulan.
"Untuk kasus ini, pasien ini dari riwayatnya tidak memiliki riwayat vaksinasi. Pasien ini lahir di Indonesia namun besarnya itu di Australia, berkembang di Australia," jelas Andi. Anak tersebut sempat berada di Jakarta dan sejumlah wilayah di Sumatera sebelum kembali ke Australia.
Data Kemenkes hingga minggu ke-7 tahun 2026 menunjukkan terdapat 8.224 kasus suspek campak dan 572 kasus terkonfirmasi laboratorium. Meski secara Year on Year angka Januari 2026 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) dilaporkan tetap rendah.
"Meninggal 4 kasus, dan CFR-nya itu 0,05%. Artinya lebih rendah daripada angka daripada negara maju, yakni tadi 0,1% ya, kita lebih baik ya," ungkapnya.
Sebagai pembanding, sepanjang 2025 tercatat 116 kejadian luar biasa (KLB) campak di 16 provinsi dengan 11.094 kasus konfirmasi laboratorium dan 69 kematian atau CFR 0,1%. Lima provinsi dengan KLB terbanyak pada awal 2026 yakni Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Sebagai tindak lanjut, Kemenkes melakukan penguatan surveilans nasional terutama di daerah dengan riwayat KLB pada 2025 dan 2026, serta memastikan penyelidikan epidemiologi dilakukan maksimal 24 jam setelah kasus terdeteksi.
"Surveillance campak itu harus dikuatkan secara nasional terutama pada daerah-daerah yang mengalami KLB pada tahun 2025 dan 2026. Kemudian jika ada kasus, penyelidikan epidemiologi dalam kurun waktu 24 jam," tegas Andi.
Selain itu, skrining di pintu masuk negara diperketat melalui platform Satusehat Health Pass dan kapasitas 11 laboratorium rujukan nasional turut diperkuat untuk mendukung deteksi dan konfirmasi kasus.
Next News

Prabowo Undang SBY dan Jokowi Hadiri Acara di Istana Merdeka Malam Ini
2 days ago

920 Cartridge Vape Berisi Narkoba Etomidate Diamankan Polisi di Jakarta Pusat
a day ago

Kemendagri: OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Jadi Peringatan Tegas bagi Kepala Daerah
2 days ago

KPK Tangkap Bupati Pekalongan Fadia Arafiq dalam Operasi Tangkap Tangan di Jateng
2 days ago

Persib Bandung Ditahan Imbang Persebaya 2-2, Hodak Pilih Diam Soal Kepemimpinan Wasit
2 days ago

Persita Tangerang Bangkit Dramatis, Bekuk PSM Makassar 4-2 di Pare-pare
2 days ago

Profil Try Sutrisno, Wapres Ke-6 RI yang Berkarier dari Militer
3 days ago

Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno Wafat, Pemerintah Siapkan Upacara Militer
3 days ago

Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di Usia 90 Tahun
3 days ago

Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia Terancam
3 days ago





