Minggu, 31 Mei 2026
Amandit FM
Hiburan

Jangan Asal Lapar, Ini Aturan Penting Puasa Ramadan Wajib Tahu

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 26 February 2026 | 06:00 AM

Background
Jangan Asal Lapar, Ini Aturan Penting Puasa Ramadan Wajib Tahu
Berpuasa ada aturannya (Pexels.com/Jack Sparrow)

Gak Cuma Nahan Laper, Yuk Pahami Rukun Puasa Biar Ibadahmu Nggak 'Zonk'

Siapa sih yang nggak kangen sama aroma gorengan hangat dan sirup es buah pas jam-jam kritis menjelang maghrib? Ramadan itu emang punya magisnya sendiri. Dari mulai circle pertemanan yang mendadak rajin bikin grup WhatsApp buat 'bukber'—yang ujung-ujungnya cuma jadi wacana—sampai drama bangun sahur yang susahnya minta ampun gara-gara kebanyakan scrolling TikTok semalaman. Tapi, di balik hiruk-pikuk takjil dan baju lebaran, kita sering lupa satu hal fundamental: Puasa itu ada aturannya. Bukan asal laper, bukan asal nggak minum.

Sering nggak sih kita ngerasa puasa itu rutinitas tahunan aja? Kayak semacam tantangan diet sebulan penuh tapi dapet pahala. Padahal, kalau kita mau bedah lebih dalam, puasa itu ibarat sebuah bangunan. Kalau fondasinya nggak kuat, ya roboh. Nah, fondasi dalam dunia per-fiqih-an itu namanya Rukun. Kalau syarat sah itu pintu masuknya, rukun ini adalah isi rumahnya. Tanpa rukun, puasa kita mungkin cuma dapet haus dan laper doang, alias 'zonk'.

Niat: Si 'Engine' yang Kadang Kita Lupa Panasin

Rukun puasa yang pertama dan paling krusial itu adalah niat. Bayangin kamu lagi lari maraton tapi nggak tahu tujuannya ke mana, pasti capek doang kan? Nah, niat ini fungsinya buat membedakan mana yang beneran ibadah, mana yang cuma sekadar 'mager' makan karena dompet lagi tipis atau emang lagi program diet ketat.

Dalam madzhab Syafi'i yang banyak dianut di Indonesia, niat puasa Ramadhan itu harus dilakukan di malam hari, alias sebelum fajar shodiq (waktu subuh) tiba. Makanya, ada tradisi baca niat bareng-bareng setelah salat Tarawih. Itu sebenernya 'life hack' biar kita nggak kelupaan. Soalnya kalau kamu baru kepikiran niat pas jam 9 pagi gara-gara telat bangun sahur dan semalem belum niat, ya secara teknis puasa kamu hari itu nggak dianggap sebagai puasa wajib Ramadhan.

Tapi tenang, niat itu urusan hati. Nggak harus pakai bahasa Arab yang super fasih sampai tajwidnya sempurna banget kalau emang nggak hafal. Yang penting, di dalam hati kamu sudah ada ketetapan: "Oke, besok gue mau puasa Ramadhan karena Allah." Sesimpel itu. Niat itu ibarat kita neken tombol 'start' di mesin mobil. Kalau tombolnya nggak diteken, ya mobilnya nggak bakal jalan, meskipun bensinnya penuh.

Menahan Diri: Pertarungan Melawan Ego

Rukun yang kedua adalah Imsak, alias menahan diri. Secara teknis, ini artinya kita nggak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Makan, minum, dan berhubungan suami istri itu jelas 'big no'. Tapi sebenernya, menahan diri ini levelnya lebih dalam lagi kalau kita mau naik kelas.

Zaman sekarang, godaan puasa itu bukan cuma es teh manis di siang bolong atau aroma mi instan dari tetangga. Godaan terbesar kita adalah jempol. Menahan diri dari ghibah di kolom komentar, menahan diri dari menyebar hoax, atau sekadar menahan diri buat nggak julid pas liat story temen yang lagi liburan sementara kita lagi tipes ngerjain deadline. Menahan diri itu paket lengkap, lahir dan batin.

Banyak orang yang terjebak di rukun ini secara fisik doang. Perut kosong, tapi mulut tetap 'pedes'. Padahal, inti dari rukun ini adalah kontrol diri. Kita diajarkan buat jadi bos atas diri kita sendiri. Biasanya kita apa-apa diturutin: laper makan, haus minum, marah ya maki-maki. Nah, di bulan puasa, rukun menahan diri ini melatih kita buat bilang "Nanti dulu ya" ke nafsu kita sendiri.

Subjek Puasa: Kamu Sehat dan Sadar, Kan?

Secara teknis, rukun puasa itu memang sering diringkas jadi dua (niat dan menahan diri). Tapi, ada satu elemen yang nggak boleh lepas: adanya orang yang menjalankan puasa itu sendiri. Orang ini haruslah seorang Muslim, sudah baligh (dewasa secara biologis), berakal sehat (nggak lagi halu atau gangguan jiwa), dan mampu (nggak lagi sakit parah atau lansia yang emang udah nggak kuat).

Lucunya, kadang ada orang yang badannya sehat walafiat, gym tiap hari sanggup angkat beban puluhan kilo, tapi pas disuruh puasa mendadak ngerasa paling lemah sedunia. Padahal, puasa itu juga soal mental. Rukun ini mengingatkan kita bahwa ibadah ini emang didesain buat manusia yang sadar akan eksistensinya. Kalau kamu sadar kamu hamba Tuhan, ya puasa jadi masuk akal. Tapi kalau ego lebih gede dari kesadaran, ya puasa cuma jadi beban yang pengen cepet-cepet diselesaikan.

Kenapa Harus Ribet Mikirin Rukun?

Mungkin ada yang mikir, "Duh, ribet amat sih bahas teori, yang penting kan gue nggak makan." Tapi coba pikir gini, kalau kita beli gadget mahal tapi nggak baca manual book-nya, terus salah ngecas dan rusak, yang rugi siapa? Kita juga kan?

Memahami rukun puasa itu kayak kita lagi baca manual book spiritual. Biar kita tahu batasannya, biar kita tahu esensinya. Ibadah puasa itu bukan hukuman dari Tuhan biar kita kelaparan. Bukan. Puasa itu cara semesta buat 'restart' sistem tubuh dan jiwa kita yang udah penuh sama 'cache' sampah selama setahun terakhir. Niat yang bener bikin mental kita fokus, menahan diri bikin karakter kita kuat.

Jadi, mumpung Ramadan masih atau akan berjalan, yuk kita benerin lagi niatnya tiap malem. Jangan sampai puasa kita cuma dapet capeknya doang. Jangan sampai kita cuma jago nahan laper tapi gagal nahan amarah. Karena pada akhirnya, kualitas puasa kita nggak ditentukan dari seberapa mewah menu buka puasa kita, tapi seberapa jujur kita menjalankan rukun-rukunnya di hadapan Sang Pencipta.

Selamat menjalankan ibadah puasa buat kamu yang menjalankan. Tetap semangat, jangan terlalu sering liatin jam dinding kalau masih jam 10 pagi, dan inget, 'vibe' Ramadhan itu cuma sebentar, jadi manfaatin sebaik mungkin ya!

Tags