Sabtu, 4 April 2026
Amandit FM
Habar Banua

Kejar Target Juli 2026, Pembangunan Koperasi Desa di HSS Dikebut Meski Terkendala Lahan Rawa

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 31 March 2026 | 01:19 PM

Background
Kejar Target Juli 2026, Pembangunan Koperasi Desa di HSS Dikebut Meski Terkendala Lahan Rawa
Rapat progres pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) (Facebook/Kominfo HSS)

amanditmedia.id, Kandangan - Proyek koperasi desa di Hulu Sungai Selatan lagi dikebut, tapi jalannya nggak selalu mulus. Sejumlah titik pembangunan masih bergulat dengan kondisi lahan, terutama di kawasan rawa yang bikin proses konstruksi jadi lebih rumit.

Di tengah tantangan itu, progres tetap berjalan. Saat ini, pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sudah berlangsung di 25 desa. Dari angka itu, Desa Lumpangi jadi yang paling ngebut dengan capaian 82 persen.

Wakil Bupati HSS, H. Suriani, S.Sos., M.AP menyampaikan percepatan pembangunan fisik jadi fokus utama saat ini. Dari total target, masih ada 17 titik yang baru masuk tahap persiapan.

"Kita terus mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah sebagai lokasi pembangunan. Ini bagian dari upaya konkret untuk memenuhi target yang telah ditetapkan," ujarnya saat rapat progres di Aula Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Senin (30/3).

Program ini sendiri merupakan bagian dari Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025. Targetnya, daerah menyiapkan lahan untuk koperasi sebagai penggerak ekonomi berbasis desa.

Secara keseluruhan, HSS menargetkan 43 gerai koperasi atau sekitar 30 persen dari total 148 desa dan kelurahan. Ambisinya, minimal target itu bisa tercapai pada Juli 2026.

Dari sisi administrasi, semua koperasi sudah mengantongi legalitas. Jadwal Rapat Anggota Tahunan juga sudah tersusun rapi. Sambil menunggu pembangunan fisik rampung, beberapa unit usaha bahkan mulai dirintis lewat kemitraan, seperti penjualan pupuk di Taniran Kubah dan pakan ternak di Gumbil.

Tantangan terbesar datang dari wilayah seperti Daha Selatan, Daha Utara, Daha Barat, hingga sebagian Kalumpang. Karakter lahan rawa membuat desain bangunan standar jadi kurang cocok diterapkan.

Meski begitu, upaya mencari solusi terus dilakukan bersama TNI dan instansi terkait, termasuk mencari alternatif lahan yang sesuai aturan.

Dengan progres yang terus berjalan dan kolaborasi lintas pihak, koperasi desa ini diproyeksikan jadi penggerak ekonomi baru di tingkat lokal, sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja ke depannya.

Tags