Kamis, 4 Juni 2026
Amandit FM
Hiburan

Kurban: Antara Ibadah, Gengsi, dan Penebus Dosa

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 04 June 2026 | 04:00 PM

Background
Kurban: Antara Ibadah, Gengsi, dan Penebus Dosa
(Pexels.com/John Kostopoulos)

Setiap kali bulan Dzulhijjah datang, pemandangan di pinggir jalan mendadak berubah. Trotoar yang biasanya kosong atau cuma diisi tukang gorengan, tiba-tiba berubah jadi "showroom" kambing dan sapi dadakan. Bau khas prengus mulai tercium di mana-mana. Buat sebagian orang, ini adalah pertanda libur panjang, tapi buat umat Muslim, ini adalah momen krusial untuk bertanya pada diri sendiri: "Tahun ini, gue kurban nggak ya?"

Kurban itu unik. Di satu sisi, ia adalah ritual ibadah yang sangat sakral. Di sisi lain, di era media sosial sekarang, kurban kadang bergeser jadi ajang pamer ukuran sapi di Instagram Story. Tapi, sebelum kita kejebak dalam debat soal sapi siapa yang paling gemoy, ada baiknya kita bedah tipis-tipis soal apa sih sebenarnya hukum berkurban dan kenapa kita kudu repot-repot nabung jutaan perak demi seekor hewan.

Sunnah atau Wajib? Sebuah Dilema Dompet dan Iman

Kalau kita ngomongin hukum, biasanya pikiran kita langsung lari ke urusan hitam-putih. Mayoritas ulama, termasuk dalam Mazhab Syafi'i yang banyak dianut di Indonesia, bilang kalau kurban itu hukumnya Sunnah Muakkadah. Artinya, ini ibadah yang sangat ditekankan. Ibaratnya, kalau kurban itu adalah sebuah fitur di aplikasi, dia bukan fitur opsional yang nggak guna, tapi lebih ke fitur "highly recommended" yang rugi banget kalau nggak lo aktivasi.

Tapi, ada plot twist-nya. Mazhab Hanafi punya pandangan yang agak lebih "galak". Bagi mereka, kurban itu wajib bagi siapa pun yang mampu dan tidak dalam keadaan bepergian (musafir). Nah, kata "mampu" ini sering jadi bahan perdebatan di tongkrongan. Mampu itu standar siapa? Apakah harus nunggu saldo ATM tujuh digit atau nunggu cicilan mobil lunas dulu?

Logika sederhananya begini: kalau kita sanggup beli handphone keluaran terbaru dengan sistem cicilan tiap bulan, atau sanggup beli kopi susu kekinian setiap sore yang kalau ditotal setahun bisa dapet dua ekor kambing, masa iya kita bilang nggak mampu buat kurban? Di sinilah kurban jadi ujian buat ego kita. Antara memuaskan gaya hidup atau menjalankan perintah Tuhan.

Bukan Soal Darah, Tapi Soal Keikhlasan yang Hakiki

Mungkin ada yang mikir, "Duh, kasihan ya hewannya dipotong." Atau, "Kenapa sih ibadahnya harus tumpah darah?" Kalau kita cuma lihat dari permukaan, kurban memang kelihatan seperti ritual penyembelihan biasa. Tapi kalau ditarik ke sejarahnya, ini soal drama keluarga Nabi Ibrahim AS yang luar biasa berat. Bayangin, nunggu anak puluhan tahun, pas sudah gede dan lucu-lucunya, malah disuruh sembelih lewat mimpi.

Kurban itu simbolisme. Yang disembelih sebenarnya bukan cuma kambing atau sapi, tapi sifat-sifat "kebinatangan" dalam diri manusia: rakus, egois, sombong, dan merasa memiliki segalanya. Tuhan nggak butuh dagingnya, nggak butuh darahnya. Yang sampai ke langit itu ketakwaan dan keikhlasan kita. Jadi, kalau kurban tapi masih sering nyinyirin tetangga atau pamer di medsos biar dibilang dermawan, ya esensinya jadi agak geser dikit, kan?

Keutamaan Kurban: Penebus Dosa Hingga "Kendaraan" di Akhirat

Ngomongin soal keuntungan, Islam nggak pelit kasih reward buat mereka yang mau berbagi. Ada beberapa keutamaan yang bikin ibadah ini jadi dambaan banyak orang:

  • Ampunan Dosa: Ada riwayat yang menyebutkan bahwa pada tetesan darah pertama hewan kurban yang jatuh ke tanah, dosa-dosa orang yang berkurban akan diampuni. Ini semacam reset button buat kita yang merasa dosanya sudah setumpuk cucian kotor di hari Senin.
  • Tiap Helai Bulu adalah Kebaikan: Rasulullah SAW pernah bersabda kalau setiap helai bulu hewan kurban itu ada kebaikannya. Bayangin satu ekor domba garut yang bulunya lebat banget, berapa juta poin pahala yang bisa kita dapetin? Ini hitung-hitungan yang jauh lebih menguntungkan daripada investasi saham mana pun.
  • Manfaat Sosial yang Nyata: Jangan lupa, kurban itu adalah momen "pesta daging" buat mereka yang jarang banget makan enak. Di saat kita mungkin bosan makan steak atau shabu-shabu, ada keluarga di gang sempit yang nungguin jatah daging setahun sekali buat bikin rendang. Ada dimensi keadilan sosial di sini yang bikin Islam itu terasa indah banget.

Budgeting Kurban buat Gen Z dan Milenial

Banyak dari kita yang merasa kurban itu berat karena penginnya langsung beli sapi seberat satu ton kayak para artis. Padahal, Islam itu fleksibel. Nggak sanggup sapi sendirian? Ya patungan bertujuh. Masih belum sanggup juga? Kambing satu ekor juga sah banget.

Tips buat kita-kita yang gajinya pas-pasan tapi pengin dapet pahala gede: coba deh bikin pos tabungan kurban. Kalau harga kambing tiga juta, bagi 12 bulan, cuma sekitar 250 ribu sebulan. Itu setara sama lima kali nongkrong di kafe atau sekali checkout barang diskonan yang sebenarnya nggak kita butuhin banget. Masalahnya seringkali bukan di uangnya, tapi di niat yang suka goyah kegoda promo tanggal kembar.

Penutup: Kurban adalah Bentuk "Self-Healing" yang Sebenarnya

Di dunia yang makin kompetitif dan bikin stres ini, kita sering cari cara buat "healing" dengan belanja atau jalan-jalan. Tapi pernah nggak mikir kalau berbagi dengan tulus itu adalah healing yang paling mujarab buat hati?

Berkurban melatih kita buat nggak jadi orang yang kikir. Ia mengajarkan kalau apa yang kita punya sekarang itu titipan. Jadi, mumpung masih ada waktu dan rezeki masih mengalir, yuk mulai lirik-lirik hewan kurban. Nggak harus yang paling mahal, yang penting paling ikhlas. Karena pada akhirnya, yang bakal nemenin kita di "sana" nanti bukan iPhone 15 atau mobil kinclong, tapi amal jariyah dari seekor hewan yang pernah kita bagikan dagingnya buat sesama.

Tags