Selasa, 2 Juni 2026
Amandit FM
Hiburan

Renungan Dzulhijjah: Menggali Arti Kurban yang Sebenarnya

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 02 June 2026 | 08:00 PM

Background
Renungan Dzulhijjah: Menggali Arti Kurban yang Sebenarnya
(Pexels.com/Monirul Islam)

Idul Adha, Kisah Plot Twist Terbesar dalam Sejarah, dan Mengapa Kita Masih Nyate Sampai Sekarang

Setiap kali bulan Dzulhijjah datang, aroma asap sate mulai tercium dari gang-gang sempit sampai perumahan elit. Suara takbir berkumandang, dan mendadak semua orang jadi ahli memotong daging atau minimal jadi panitia dadakan yang sibuk bungkus-bungkus kresek. Tapi, jujur deh, di balik euforia makan besar dan libur panjang ini, seberapa sering kita benar-benar merenung soal kenapa kita harus menyembelih kambing atau sapi setiap tahunnya?

Kalau kita bicara soal Idul Adha, kita nggak bisa lepas dari sosok Nabi Ibrahim AS. Bisa dibilang, Ibrahim adalah tokoh utama dalam sebuah narasi besar tentang cinta, logika yang diuji, dan ketaatan yang berada di luar nalar manusia biasa. Kalau hidup Ibrahim difilmkan hari ini, mungkin genre-nya adalah drama-psikologis dengan plot twist yang bikin penonton satu bioskop melongo.

Ujian Kesabaran yang Nggak Ada Habisnya

Bayangkan posisi Ibrahim. Beliau ini sudah berumur, tapi belum juga dikaruniai anak. Puluhan tahun beliau menunggu, berdoa, dan mungkin sempat ada momen-momen "overthinking" soal siapa yang bakal meneruskan perjuangannya. Baru setelah rambutnya memutih, hadirlah Ismail dari rahim Siti Hajar. Bayangkan betapa sayangnya seorang ayah yang menunggu buah hati selama itu. Ismail bukan cuma sekadar anak, dia adalah jawaban dari doa yang dipanjatkan siang dan malam.

Namun, di sinilah "game" yang sebenarnya dimulai. Tuhan memberikan perintah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Coba kita pakai logika manusia modern sebentar. Kalau kita ada di posisi itu, mungkin kita bakal mikir itu cuma bunga tidur, efek kecapekan, atau gangguan jin. Tapi Ibrahim tahu, ini adalah wahyu. Di sinilah letak ngerinya ketaatan Ibrahim. Beliau nggak lantas protes atau demo ke langit. Beliau mendatangi Ismail dan bertanya pendapat anaknya.

Dan respon Ismail? Ini yang bikin geleng-geleng kepala. Anak muda ini nggak lari, nggak nangis histeris, apalagi update status galau di media sosial. Ismail malah bilang, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu." Kesetiaan Ismail ini levelnya sudah nggak masuk akal buat ukuran manusia zaman sekarang yang disuruh naruh HP sebentar pas makan aja susahnya minta ampun.

Bukan Soal Darah, Tapi Soal Ego

Detik-detik saat pisau sudah di leher Ismail, itulah puncak dari drama kemanusiaan ini. Dan tepat saat itu, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar dari surga. Kejadian ini bukan cuma soal keajaiban, tapi sebuah pesan keras buat kita semua: Tuhan nggak butuh darah hewan, apalagi nyawa manusia. Yang Tuhan mau lihat adalah seberapa berani kita melepaskan apa yang paling kita cintai demi sesuatu yang lebih besar.

Bagi Ibrahim, yang harus disembelih sebenarnya bukan Ismail, melainkan rasa kepemilikan yang berlebihan. Ibrahim diingatkan bahwa Ismail itu titipan, bukan properti pribadinya. Nah, kalau ditarik ke zaman sekarang, "Ismail-Ismail" kita itu apa? Mungkin jabatan kita, gengsi kita, koleksi sneakers mahal kita, atau mungkin ego kita yang merasa paling benar di kolom komentar medsos. Kurban itu intinya adalah "killing the ego".

Napak Tilas Perjuangan Ibu: Siti Hajar

Bicara Idul Adha tanpa menyebut Siti Hajar itu ibarat makan sate tanpa bumbu kacang; hambar. Sejarah kurban dan rangkaian haji sangat kental dengan perjuangan seorang ibu. Ingat lari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah? Itu adalah reka ulang kepanikan Siti Hajar saat mencari air untuk Ismail yang masih bayi di tengah padang pasir yang gersang.

Siti Hajar adalah simbol ketangguhan perempuan yang nggak kenal menyerah. Dia ditinggalkan di tempat yang nggak ada kehidupan, tapi dia punya satu keyakinan: kalau ini perintah Tuhan, Dia nggak akan membiarkan kita celaka. Dari kaki kecil Ismail yang menendang tanah, keluarlah mata air Zamzam yang sampai sekarang nggak pernah kering. Ini adalah pesan optimisme bahwa di tengah keputusasaan yang paling gelap sekalipun, bantuan itu selalu ada bagi mereka yang berusaha.

Relevansi Kurban di Era Flexing

Di zaman sekarang, Idul Adha seringkali terjebak jadi ajang pamer. Ada yang bangga banget bisa beli sapi seberat satu ton terus difoto buat konten TikTok dengan caption religius. Nggak salah sih, tapi jangan sampai esensinya hilang. Esensi kurban itu adalah berbagi. Daging kurban itu haknya orang-orang yang jarang makan enak, mereka yang mungkin cuma bisa melihat etalase restoran steak dari balik kaca.

Idul Adha mengajarkan kita soal solidaritas sosial. Bahwa di hari itu, nggak boleh ada orang yang kelaparan. Semua orang berhak mencium aroma daging yang dibakar. Ini adalah momen di mana jurang antara si kaya dan si miskin dijembatani oleh seplastik daging mentah. Receh? Mungkin. Tapi buat mereka yang setiap harinya berjuang buat sekadar makan nasi aking, itu adalah kemewahan luar biasa.

Jadi, saat nanti kita menerima bungkusan daging atau ikut memegang tali sapi yang meronta, ingatlah bahwa kita sedang merayakan sebuah sejarah besar tentang cinta yang melampaui logika. Idul Adha adalah pengingat bahwa hidup ini bukan cuma soal mengumpulkan, tapi juga soal melepaskan. Karena pada akhirnya, apa yang kita berikan itulah yang benar-benar menjadi milik kita di kemudian hari. Selamat hari raya, jangan lupa bagi-bagi satenya, dan yang paling penting, sembelih juga sifat sombong kita masing-masing!

Tags