Makna Lagu Bintang Massa Aksi – .Feast dan Kritik atas Pahlawan Instan
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 22 February 2026 | 01:45 PM


Lagu Bintang Massa Aksi dari .Feast yang dirilis pada 2022 terdengar seperti teriakan penuh percaya diri. Namun jika dicermati, lagu ini bukan sekadar soal keberanian—melainkan sindiran terhadap figur-figur yang menjadikan gerakan massa sebagai panggung personal.
Sejak awal, lirik "Bawa temanmu yang centang biru" merujuk pada simbol verifikasi media sosial—status, pengaruh, dan validasi digital. "Lawyer sponsor partaimu mana aku tak takut" memperlihatkan konteks politik dan kekuasaan. Ini bukan lagi debat biasa, tetapi pertarungan narasi yang melibatkan elite, hukum, dan popularitas.
Nada lagu terasa konfrontatif: "Coba buatku kalut ayo sini pengecut." Namun konfrontasi ini bisa dibaca sebagai parodi terhadap maskulinitas rapuh dan ego yang dibangun di atas panggung aksi. Frasa "maskulin rapuh, lemah permisif angkuh" adalah kritik terhadap mereka yang lantang bersuara, tetapi tak tahan diuji.
Bagian "Kalengan hanya melek jualan" menyindir aktivisme yang dikomodifikasi. Ada kesan bahwa sebagian orang hanya memanfaatkan isu untuk kepentingan branding atau keuntungan. Ketika idealisme bercampur promosi, batasnya menjadi kabur.
Refrain "Aku kan taklukkan jalanan, aku kan taklukkan angkasa" terdengar seperti deklarasi heroik. Tetapi ketika ditambahkan "Aku adalah median semua massa," maknanya menjadi ambigu. Median adalah titik tengah, penghubung, atau bahkan pengendali arus informasi. Ini bisa dimaknai sebagai kritik terhadap figur yang memposisikan diri sebagai pusat gerakan—seolah semua suara harus lewat dirinya.
Lirik "Sini mana teman-temanmu hilang satu per satu" menggambarkan rapuhnya solidaritas ketika tekanan datang. Banyak yang lantang di awal, tetapi mundur ketika risiko nyata muncul. "Tutup akun sekarang menyerahlah dan pulang" seperti sindiran terhadap aktivisme yang berhenti di layar.
Secara keseluruhan, Bintang Massa Aksi adalah potret tentang dinamika gerakan sosial di era digital: antara idealisme dan pencitraan, antara keberanian dan ego. .Feast seperti mengingatkan bahwa menjadi "bintang" dalam massa aksi bisa berbahaya—karena perjuangan sejati bukan soal siapa yang paling bersinar, melainkan seberapa konsisten dan tulus dalam membela nilai yang diperjuangkan.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
15 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
15 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
16 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
16 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
16 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
16 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
16 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
16 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
19 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
17 days ago





