Makna Lagu Dalam Hitungan – .Feast dan Satire tentang Tuhan Digital
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 22 February 2026 | 11:40 AM


Lagu Dalam Hitungan dari .Feast yang dirilis pada 2019 adalah salah satu satire paling tajam tentang budaya angka, validasi digital, dan komodifikasi iman. Lagu ini memotret dunia yang segalanya diukur: dari mimpi, moralitas, hingga keselamatan jiwa.
Baris pembuka "Aku tak berguna jika tak diukur angka" langsung menohok. Identitas manusia direduksi menjadi statistik—engagement rate, jumlah penonton, impresi. Bahkan "bertobat di media" terasa seperti performa, bukan proses spiritual. Ada sindiran bahwa Tuhan pun bisa "salah sangka" ketika pertobatan dilakukan demi citra.
Lirik "Mimpi butuh dana, engagement rate mu berapa" dan "Terka jarak berita tragedi milik siapa" menunjukkan bagaimana tragedi dan harapan sama-sama menjadi komoditas. Nilai moral ditentukan algoritma. Realitas disaring oleh redaksi dan timeline.
Bagian "Memahat citra sesuai standar-Nya, surga buka cabang kita semua pialang" adalah kritik keras terhadap komersialisasi agama. Surga digambarkan seperti waralaba, manusia menjadi broker pahala. "Seratus ribu per sepuluh giga" menyatukan bahasa data dan transaksi dengan konsep akhirat—sebuah metafora tentang iman yang dipaketkan layaknya kuota internet.
Refrain "Kita membangun bersama Tuhan yang baru" memperlihatkan inti satire lagu ini. Tuhan yang baru bukan entitas spiritual, melainkan sistem: algoritma, metrik, dan pengawasan digital. "Taman Eden dengan wifi dan kamera depan" adalah ironi—surga versi modern lengkap dengan konektivitas dan kamera selfie. Bahkan malaikat "mengukur dalam hitungan," seolah pahala dan dosa dihitung real time seperti analytics.
"Kematian disiarkan Instagram TV, sangkakala seindah bunyi notifikasi" memperkuat kritik terhadap sensasi dan eksposur. Notifikasi menggantikan sakralitas. Pengumuman kiamat terdengar seperti alert ponsel.
Bagian akhir yang mengulang "Semoga rohku selalu kekal dalam hitungan, tidak diretas oleh umat luar jaringan" adalah sindiran paling getir. Roh pun dibayangkan sebagai data yang bisa diretas. Keabadian bukan lagi soal iman, tetapi soal keamanan sistem dan akses jaringan.
Secara keseluruhan, Dalam Hitungan adalah refleksi tentang zaman ketika nilai diri ditentukan oleh angka dan eksistensi spiritual bercampur dengan performa digital. .Feast tidak sekadar mengkritik media sosial, tetapi juga mentalitas yang menjadikan metrik sebagai Tuhan baru. Lagu ini mengingatkan bahwa ketika semuanya diukur dalam hitungan, yang hilang mungkin justru makna itu sendiri.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
15 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
15 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
16 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
16 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
16 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
16 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
16 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
16 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
19 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
17 days ago





