Makna Lagu Komodifikasi – .Feast dan Dunia yang Menjual Segalanya
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 22 February 2026 | 02:47 PM


Lagu Komodifikasi dari .Feast yang dirilis pada 2020 adalah kritik tajam terhadap budaya kapitalisme modern—ketika hampir semua aspek kehidupan bisa dijadikan produk. Dari konflik, agama, keluarga, hingga identitas pribadi, semuanya bisa dipaketkan dan dijual.
Baris "Ciptakan kebutuhan yang tak ada, menjual cerita konflik manusia" menjadi inti lagu ini. Dalam logika komodifikasi, kebutuhan tidak lagi sekadar dipenuhi—tetapi diciptakan. Konflik pun tak lagi diselesaikan, melainkan dipertahankan karena bernilai jual. Kontroversi menjadi komoditas, drama menjadi strategi pemasaran.
Lirik "Menciptakan piramida di padang pasir, dulu berserah sekarang disembah" menyindir pergeseran nilai. Yang dulu sakral atau sederhana kini dibangun menjadi simbol kemegahan dan kekuasaan. Ada kritik terhadap bagaimana sesuatu yang awalnya tulus bisa berubah menjadi objek kultus.
Bagian "Selamat datang di tingkat tertinggi" terdengar seperti undangan ke puncak industri hiburan dan popularitas. Namun kalimat lanjutan "Kalau kurang ya tinggal tuang lagi, dikuras habis kau sampai mati" memperlihatkan sisi gelapnya. Sistem ini tidak pernah puas. Ia terus menuntut konten, sensasi, dan eksposur—bahkan jika harus menguras individu sampai habis.
Lagu ini juga menyinggung budaya konsumsi terhadap kehidupan personal publik figur: "Tentang keluarga dan rumah luasnya, tentang ketaatannya beragama, percintaan dan pernikahannya." Semua aspek privat menjadi tontonan. Publik merasa berhak tahu, dan industri siap menjualnya.
Menariknya, ada refleksi personal di bagian "Sempat ku berharap… buka baju komodifikasi, bisa menjual mulut sendiri." Ini menunjukkan kesadaran bahwa siapa pun bisa terjebak dalam sistem yang sama. Bahkan kritik terhadap komodifikasi pun bisa dikomodifikasi.
Secara keseluruhan, Komodifikasi adalah cermin zaman. Ia menyoroti bagaimana nilai, konflik, dan identitas manusia berubah menjadi barang dagangan. .Feast tidak hanya mengkritik industri dan media, tetapi juga budaya kolektif yang menikmati drama dan membeli cerita. Lagu ini mengajak pendengar bertanya: ketika segalanya bisa dijual, apa yang masih benar-benar otentik?
Next News

Festival Bamboo Rafting Loksado 2026, Sensasi Menyusuri Sungai Amandit dengan Rakit Bambu di Pegunungan Meratus
3 months ago

Westlife: Rahasia Kenapa Mas-Mas Irlandia Ini Masih Jadi Juara di Hati Kita
3 months ago

Bukan Sekadar Boyband, Westlife Adalah Definisi Tongkrongan yang Menolak Bubar
3 months ago

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
3 months ago

Nostalgia Meteor Garden: Cerita di Balik Terbentuknya F4 yang Pernah Mengacak-acak Hati Kita
3 months ago

Nostalgia F4: Menelusuri Jejak Para Pangeran Meteor Garden yang Kini Sudah Senior
3 months ago

Westlife: Bukan Sekadar Modal Kursi Bar dan Wajah Tampan, Ini Sisi Lain yang Jarang Terungkap
3 months ago

Nostalgia Tipis-Tipis: Deretan Album Westlife Terbaik yang Wajib Masuk Playlist Kamu
3 months ago

Fenomena F4: Saat Seluruh Indonesia Terkena Demam Meteor Garden
3 months ago

Westlife: Kenapa Boyband 'Bapak-Bapak Wangi' Ini Tetap Jadi Juara di Hati Orang Indonesia?
3 months ago

