Makna Lagu Nina – .Feast dan Pesan Haru tentang Cinta Ayah yang Tak Pernah Selesai
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 22 February 2026 | 02:18 AM


Lagu Nina yang dirilis pada 2024 oleh .Feast adalah potret paling jujur tentang cinta orang tua yang dibalut jarak, waktu, dan rasa takut kehilangan. Dari liriknya, terasa jelas bahwa lagu ini dibangun sebagai monolog seorang ayah kepada anaknya. Bukan sekadar ungkapan rindu, melainkan juga pengakuan tentang pengorbanan, ketidaksempurnaan, dan kecemasan akan masa depan.
Sejak awal, lagu ini langsung menempatkan kita pada situasi perpisahan. Ketika sang anak tertidur, ia justru pergi "menghibur". Ada ironi di sana. Seolah-olah kebahagiaan orang lain menjadi bagian dari pekerjaannya, sementara kebersamaan dengan anak justru harus ditunda. Frasa "beda kota, pisah raga" menegaskan bahwa jarak fisik adalah kenyataan yang tak terhindarkan. Namun, melihat wajah sang anak di layar sudah cukup membuatnya bersyukur. Teknologi menjadi penghubung, meski tetap tak mampu menggantikan kehadiran nyata.
Bagian paling menyentuh hadir ketika ia berkata, "Tumbuh lebih baik, cari panggilanmu, jadi lebih baik dibanding diriku." Kalimat ini menyiratkan harapan yang sangat besar. Setiap orang tua pada dasarnya ingin anaknya melampaui dirinya, hidup lebih layak, lebih mapan, lebih bahagia. Ada kesadaran bahwa hidupnya mungkin penuh keterbatasan, sehingga sang anak diharapkan bisa memutus rantai itu.
Lagu ini semakin emosional ketika menyinggung kemungkinan kematian lebih awal. "Jika ku berpulang lebih awal, tidak apa" bukan kalimat yang ringan. Ada penerimaan yang tenang, tetapi juga terselip rasa takut yang tidak diucapkan secara gamblang. Ia seperti sedang menyiapkan anaknya menghadapi kenyataan bahwa suatu hari nanti, ia mungkin tidak lagi ada. Namun ia menenangkan dengan janji bahwa mereka akan "berjumpa lagi di sana". Keyakinan ini membuat lagu terasa spiritual tanpa harus menjadi khotbah.
Satu bagian yang sangat kuat adalah pengakuan bahwa dunia akan melukai. Ia meminta anaknya tertawa lepas sekarang, karena kelak akan tersakiti. Ini adalah bentuk kejujuran paling realistis. Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah. Ia hanya berjanji akan berusaha melindungi selama masih mampu. Bahkan ia mengakui perjalanan mereka tidak sempurna, ada tengkar, ada salah. Permintaan maaf itu membuat lagu terasa manusiawi.
Pengulangan kalimat "Saat dewasa kau 'kan mengerti" menjadi penutup yang menggantung sekaligus menenangkan. Seolah semua keputusan yang hari ini terasa menyakitkan—pergi jauh, jarang pulang, tidak selalu hadir—suatu saat akan dipahami sebagai bentuk cinta.
Secara keseluruhan, Nina bukan hanya lagu tentang ayah dan anak. Ini adalah refleksi tentang waktu yang berjalan cepat, tentang kerja keras yang sering kali mengorbankan kebersamaan, dan tentang harapan agar generasi berikutnya hidup lebih baik. Lagu ini bekerja karena ia sederhana, jujur, dan terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak orang.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
15 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
15 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
16 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
16 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
16 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
16 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
16 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
16 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
19 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
17 days ago





