Rabu, 15 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Makna Lagu What If I Told You That I Love You – Ali Gatie dan Penyesalan yang Terlambat

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 23 February 2026 | 01:55 AM

Background
Makna Lagu What If I Told You That I Love You – Ali Gatie dan Penyesalan yang Terlambat
Ali Gatie - What If I Told You That I Love You (YouTube/ Ali Gatie)

Lagu What If I Told You That I Love You dari Ali Gatie yang dirilis pada 2021 adalah potret kegelisahan seseorang yang takut mengungkapkan perasaan—dan akhirnya menyesal karena terlambat.

Sejak awal, lagu ini dibangun dari pertanyaan berulang: "What if I told you that I love you? Would you tell me that you love me back?" Pola ini menunjukkan keraguan dan kebutuhan akan kepastian. Ia tidak hanya ingin mengungkapkan cinta, tetapi juga memastikan perasaannya terbalas. Ada ketakutan ditolak, ketakutan tidak dianggap serius.

Bagian tengah lagu memperlihatkan luka masa lalu. "When you told me that you loved me, was I a fool to believe in you?" Ini menunjukkan trauma kepercayaan. Ia pernah merasa dibohongi atau setidaknya dikecewakan. Karena itu, kini ia ragu membuka diri lagi. Ia tidak ingin mengatakan "I miss you" jika tidak yakin perasaan itu timbal balik.

Konflik batin semakin terasa ketika ia berkata, "I don't wanna say the wrong thing, if I do there's no coming back." Dalam cinta, satu pengakuan bisa mengubah segalanya. Ia sadar bahwa kata-kata memiliki konsekuensi. Diam terasa aman, tetapi juga menyakitkan.

Puncak emosional lagu ada pada pengakuan terlambat: "I wish I told you that I loved you, now it's too late, you have someone new." Di sini, lagu berubah menjadi penyesalan. Ia kehilangan kesempatan karena terlalu lama ragu. Kini, orang yang ia cintai telah bersama orang lain.

Secara keseluruhan, What If I Told You That I Love You adalah lagu tentang ketakutan akan penolakan dan risiko yang datang bersama kejujuran. Lagu ini mengajarkan bahwa menahan perasaan demi keamanan bisa berujung kehilangan. Ali Gatie menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang membutuhkan keberanian—karena tanpa keberanian itu, yang tersisa hanyalah pertanyaan "what if" yang tak pernah terjawab.