Sabtu, 14 Maret 2026
Amandit FM
Science & Technology

Mengapa Uang 50 Ribu Tak Lagi Sama? Ini Rahasia Inflasi

Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 28 February 2026 | 12:00 AM

Background
Mengapa Uang 50 Ribu Tak Lagi Sama? Ini Rahasia Inflasi
Inflasi (Pexels.com/Markus Winkler)

Nostalgia Uang 50 Ribu: Kenapa Sekarang Cuma Dapet Seblak, Padahal Dulu Bisa Traktir Satu Geng?

Mari kita mulai obrolan ini dengan sebuah kilas balik yang agak menyedihkan buat dompet kita semua. Masih ingat nggak zaman-zaman sekolah dulu, mungkin sekitar sepuluh atau lima belas tahun yang lalu? Waktu itu, pegang uang 50 ribu perak rasanya udah kayak jadi anak sultan di tongkrongan. Kamu bisa makan bakso, beli es teh manis, bayar angkot pulang-pergi, bahkan masih sisa buat beli pulsa atau main ke warnet dua jam. Hidup terasa begitu indah dan murah.

Sekarang, coba kamu bawa uang yang sama, selembar "biru" itu, ke minimarket atau mal. Keluar dari sana, paling-paling kamu cuma nenteng satu cup kopi kekinian atau seporsi seblak komplit dengan topping ceker. Sisanya? Paling cuma recehan yang habis buat bayar parkir ojol atau tukang parkir yang tiba-tiba muncul dari balik tiang. Fenomena menyebalkan inilah yang dalam bahasa keren orang kantoran disebut sebagai inflasi.

Apa Sih Inflasi Itu? Selain Bikin Miskin Mendadak

Secara teknis, inflasi itu adalah proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Kata kuncinya ada dua: "umum" dan "terus-menerus". Jadi, kalau cuma harga cabai yang naik gara-gara gagal panen tapi harga barang lain anteng-anteng saja, itu belum bisa dibilang inflasi nasional. Atau kalau harga tiket konser naik cuma pas ada Coldplay datang, itu namanya permintaan musiman, bukan inflasi.

Inflasi ini ibarat hantu yang nggak kelihatan tapi dampaknya nyata banget di struk belanjaan kita. Dia bukan sekadar "barang jadi mahal", tapi lebih tepatnya "nilai uang kita yang merosot". Bayangkan uang 100 ribu kamu itu kayak sebuah keranjang. Dulu, keranjang itu muat diisi beras, telur, minyak, dan sabun. Sekarang, keranjangnya masih sama, uangnya masih 100 ribu, tapi isi di dalamnya makin lama makin sedikit karena barang-barangnya "membengkak".

Kenapa Harga-harga Hobinya Naik? Nggak Bisa Turun Aja Apa?

Mungkin kamu mikir, "Kenapa pemerintah nggak cetak uang yang banyak aja terus bagi-bagiin ke rakyat biar kita semua kaya?". Nah, ini pemikiran yang bakal bikin negara kita jadi kayak Zimbabwe atau Venezuela. Kalau uang yang beredar terlalu banyak tapi jumlah barangnya segitu-gitu aja, harga barang otomatis bakal melonjak gila-gilaan. Itu hukum alam ekonomi, mirip kayak prinsip barang limited edition; makin langka barangnya dan makin banyak yang mau, makin mahal harganya.

Ada beberapa alasan kenapa inflasi ini terjadi. Pertama, ada yang namanya Demand-Pull Inflation. Ini terjadi ketika kita semua lagi nafsu-nafsunya belanja. Misalnya, semua orang tiba-tiba pengen beli iPhone terbaru di saat yang sama. Karena stoknya terbatas tapi peminatnya jutaan, harganya ya bakal terbang.

Kedua, ada Cost-Push Inflation. Ini urusannya sama dapur pabrik. Kalau harga bensin (BBM) naik, otomatis biaya angkut barang jadi mahal. Kalau gaji buruh naik, biaya produksi juga naik. Ujung-ujungnya? Pengusaha nggak mau rugi, jadi mereka naikin harga jual ke konsumen. Kita-kita juga yang akhirnya harus bayar lebih mahal buat barang yang sama.

Inflasi Itu Selalu Buruk? Nggak Juga, Sih

Anehnya, inflasi itu sebenarnya dibutuhkan dalam kadar yang pas. Ibarat bumbu dapur, kalau kebanyakan ya pahit, kalau nggak ada ya hambar. Para ahli ekonomi biasanya sepakat kalau inflasi di angka 2-3 persen itu sehat. Kenapa? Karena inflasi rendah menandakan ada aktivitas ekonomi. Orang masih mau belanja, perusahaan masih bisa untung, dan roda ekonomi berputar.

Bayangkan kalau terjadi deflasi (lawan dari inflasi, di mana harga-harga turun). Kamu pasti bakal mikir, "Ngapain beli HP sekarang? Bulan depan pasti lebih murah." Kalau semua orang mikir begitu, nggak ada yang belanja. Kalau nggak ada yang belanja, pabrik tutup, karyawan di-PHK, dan kita semua malah jadi susah. Jadi, inflasi itu semacam "cambuk" biar ekonomi terus bergerak, asal nggak kebablasan sampai jadi hiperinflasi yang bikin harga nasi goreng bisa naik tiap jam.

Gimana Caranya Biar Kita Nggak "Boncos"?

Menghadapi inflasi itu nggak bisa cuma dengan cara mengeluh di Twitter atau bikin thread di LinkedIn. Kita harus punya strategi biar nilai kekayaan kita nggak habis dimakan zaman. Masalahnya, kalau kamu cuma nabung di bawah kasur atau di rekening bank biasa yang bunganya cuma secuil, kamu sebenarnya lagi "merugi" secara pelan-pelan. Nilai uangmu menyusut sementara harga barang terus lari kencang.

Solusinya adalah investasi. Cari instrumen yang imbal hasilnya di atas angka inflasi. Bisa emas, saham, reksadana, atau Surat Berharga Negara (SBN). Intinya, kita harus bikin uang kita "bekerja" lebih keras daripada kenaikan harga nasi padang di depan gang. Kalau inflasi tahun ini 5 persen, tapi investasi kamu untung 10 persen, berarti kamu masih menang banyak.

Kesimpulan: Berdamai dengan Realita

Pada akhirnya, inflasi adalah bagian dari hidup yang nggak bisa kita hindari, mirip kayak mantan yang tiba-tiba nikah. Dia bakal selalu ada, menghantui setiap lembaran rupiah di dompet kita. Yang bisa kita lakukan bukan menghentikan inflasi—karena itu tugas bank sentral—tapi meningkatkan literasi keuangan kita.

Jangan kaget kalau sepuluh tahun lagi, uang 100 ribu mungkin cuma cukup buat beli parkir dan air mineral. Selama pendapatan kita naik lebih tinggi dari kenaikan harga barang, kita bakal baik-baik saja. Jadi, daripada pusing mikirin kenapa harga kopi makin mahal, mending mulai pikirin gimana caranya punya aset yang harganya ikut naik bareng inflasi. Tetap semangat cari cuan, ya!

Tags