Minggu, 7 Juni 2026
Amandit FM
Kesehatan

Musim Hujan: Antara Galau, Mie Instan, dan Sederet Penyakit yang Mengintai

Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 09 May 2026 | 03:00 PM

Background
Musim Hujan: Antara Galau, Mie Instan, dan Sederet Penyakit yang Mengintai
dampak hujan deras terhadap kesehatan tubuh (Pexels.com/ tu nguyen)

Ada yang bilang musim hujan itu musimnya orang galau. Suasana syahdu, rintik air di jendela, dan lagu-lagu indie yang tiba-tiba terasa sepuluh kali lipat lebih menyedihkan. Tapi, buat kita yang tinggal di iklim tropis seperti Indonesia, musim hujan bukan cuma soal estetika kopi hangat atau maraton film di balik selimut. Ada realitas yang jauh lebih menyebalkan daripada sekadar jemuran nggak kering-kering: serangan penyakit yang mendadak muncul tanpa permisi.

Begitu awan mendung mulai betah nongkrong di langit, tubuh kita sebenarnya sedang dipaksa melakukan penyesuaian ekstrem. Perubahan suhu yang drastis, kelembapan udara yang tinggi, sampai urusan genangan air di mana-mana adalah "karpet merah" bagi kuman, bakteri, dan virus. Kalau kita nggak sigap pasang badan, niatnya mau menikmati suasana hujan malah berakhir meringkuk di bawah kompresan. Mari kita bedah satu per satu penyakit langganan musim hujan ini dan gimana caranya biar kita tetap tangguh menghadapi gempuran cuaca.

DBD: Nyamuk Elit yang Senang Genangan Jernih

Penyakit pertama yang selalu jadi superstar saat musim hujan adalah Demam Berdarah Dengue atau DBD. Lucunya, nyamuk Aedes aegypti ini tergolong nyamuk yang "pilih-pilih". Mereka nggak suka air kotor yang bau. Mereka lebih suka genangan air yang relatif jernih, seperti di dispenser, pot bunga, atau kaleng bekas yang terisi air hujan. Ibaratnya, mereka ini adalah tamu tak diundang yang paling nggak tahu diri.

Cara mencegahnya? Kamu pasti sudah hafal di luar kepala soal 3M (Menguras, Menutup, Mengubur). Tapi jujur saja, di zaman sekarang kita sering lalai. Coba deh sesekali cek kolong meja atau belakang lemari, siapa tahu ada genangan air sisa AC yang luput dari pantauan. Menggunakan lotion antinyamuk atau menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender di sudut kamar bisa jadi langkah proteksi tambahan yang lebih estetik daripada sekadar menyemprot obat nyamuk kimia setiap saat.

Flu dan Batuk: Ritual Bersin Berjamaah

Musim hujan tanpa flu itu seperti makan bakso tanpa sambal, rasanya ada yang kurang. Begitu suhu turun, virus influenza jadi lebih aktif dan mudah menular lewat udara. Apalagi kalau kamu sering berdesak-desakan di transportasi umum saat pulang kerja dalam kondisi baju setengah basah karena kehujanan. Rasanya, satu orang bersin di gerbong kereta, besoknya satu gerbong bisa ikutan "meler" berjamaah.

Jangan anggap remeh flu. Meskipun kelihatannya penyakit "biasa", flu bisa bikin produktivitas hancur lebur. Cara mencegahnya sebenarnya klasik tapi sering diabaikan: cuci tangan pakai sabun setiap habis dari luar. Selain itu, pastikan asupan vitamin C dan D kamu tercukupi. Kalau sudah merasa tenggorokan gatal, jangan malah jajan es boba. Ganti dulu dengan air putih hangat atau jahe panas. Tubuhmu butuh amunisi untuk melawan virus, bukan tambahan beban gula yang bikin imun makin drop.

Leptospirosis: Ancaman dari Balik Genangan

Nah, yang ini agak seram dan sering terlupakan. Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang keluar lewat kencing tikus. Saat hujan deras dan banjir terjadi, urine tikus ini bercampur dengan air genangan. Kalau kamu nekat main air atau jalan kaki menembus banjir dengan luka terbuka di kaki, bakteri ini bisa masuk ke aliran darah. Rasanya? Demam tinggi, nyeri otot hebat, bahkan bisa menyerang ginjal.

Observasi jujur saya: banyak orang menganggap banjir itu ajang main air atau setidaknya tantangan yang harus diterjang demi sampai ke rumah. Padahal, air genangan di jalanan itu isinya "sup bakteri". Jadi, kalau terpaksa banget harus lewat genangan, pakailah sepatu bot karet yang rapat. Dan begitu sampai rumah, segera mandi pakai sabun antiseptik. Jangan tunda-tunda sampai besok pagi, karena kuman nggak kenal jam istirahat.

Masalah Pencernaan dan Diare

Musim hujan bikin perut kita gampang merasa lapar. Sayangnya, kebersihan lingkungan saat musim hujan seringkali menurun. Lalat-lalat makin rajin hinggap di makanan, dan sumber air bersih bisa saja terkontaminasi limbah yang meluap. Hasilnya? Diare atau tipes siap menyergap. Kita sering tergoda jajan di pinggir jalan saat cuaca dingin, tapi kita nggak tahu apakah air yang dipakai buat cuci piring itu bersih atau sudah tercampur air hujan.

Kuncinya adalah selektif. Kalau mau jajan, carilah tempat yang benar-benar bersih. Lebih baik lagi kalau kamu memasak sendiri di rumah. Selain lebih hemat, kamu punya kendali penuh atas kebersihan bahan makanannya. Ingat, sistem imun yang kuat itu mulainya dari usus yang sehat.

Jangan Lupa Menjaga Kewarasan Mental

Mungkin poin ini jarang dibahas di artikel kesehatan formal, tapi musim hujan yang berkepanjangan kadang bikin orang jadi lemas dan malas (mager). Kurangnya sinar matahari bisa mempengaruhi mood kita secara biologis. Kalau kita sudah stres atau sedih, imun tubuh biasanya ikut menurun, dan akhirnya penyakit fisik pun lebih gampang masuk.

Jadi, cara mencegah penyakit saat musim hujan bukan cuma soal minum suplemen atau pakai payung. Kamu juga perlu tetap aktif. Meskipun di luar hujan, usahakan tetap bergerak atau olahraga ringan di dalam ruangan. Cari hobi yang bikin kamu senang, misalnya membaca buku atau mencoba resep masakan baru. Saat pikiranmu bahagia dan tubuhmu aktif bergerak, kuman-kuman di luar sana bakal lebih susah buat merobohkan pertahanan tubuhmu.

Intinya, musim hujan bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Dengan sedikit lebih perhatian pada kebersihan lingkungan, menjaga asupan nutrisi, dan tetap aktif, kita bisa melewati masa-masa basah ini tanpa harus langganan ke dokter. Tetap waspada, tetap hangat, dan jangan lupa sedia payung sebelum benar-benar basah kuyup!

Tags