Nostalgia The Script: Band Spesialis Pengaduk Emosi Sejak 2000-an
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 03:00 PM


The Script: Sang Maestro Lagu Galau yang Menolak Padam
Kalau kita bicara soal band yang punya spesialisasi bikin pendengarnya merasa dikuliti emosinya, nama The Script pasti nangkring di urutan teratas. Buat anak-anak yang tumbuh besar di akhir 2000-an atau awal 2010-an, lagu-lagu mereka bukan cuma sekadar musik latar di radio atau mall, tapi sudah kayak "kitab suci" buat mereka yang lagi mengalami fase gagal move on. Dari sudut kafe di Dublin sampai panggung megah di Jakarta, trio asal Irlandia ini punya cara magis buat bikin lirik sederhana jadi terasa sangat personal.
Jujur saja, siapa sih yang nggak pernah minimal sekali seumur hidup karaokean lagu "The Man Who Can't Be Moved" sambil ngebayangin mantan? Atau teriak-teriak pas bagian chorus "Breakeven" karena merasa hati lagi terbelah dua? Itulah kekuatan The Script. Mereka nggak jualan teknik vokal yang ribet atau eksperimen musik yang bikin dahi mengkerut. Mereka jualan perasaan. Dan di dunia yang makin sinis ini, kejujuran emosional macam itu justru yang paling dicari.
Berawal dari Persahabatan di Jalanan Dublin
Cerita The Script ini sebenarnya klasik banget, tapi tetap asyik buat disimak. Intinya adalah persahabatan antara Danny O'Donoghue dan mendiang Mark Sheehan. Mereka itu sudah kayak dua sisi koin yang nggak bisa dipisahkan sejak remaja di Dublin. Sebelum jadi bintang rock global, mereka berdua sempat merantau ke Amerika Serikat buat jadi produser dan penulis lagu buat artis-artis besar. Bayangkan, mereka belajar "dapur" musik langsung dari para master di sana.
Tapi namanya juga jodoh, mereka akhirnya merasa butuh membentuk wadah sendiri. Pas pulang ke Dublin, mereka ketemu Glen Power, drummer yang energinya nggak habis-habis. Terbentuklah The Script di tahun 2001. Perjalanan mereka nggak langsung mulus kayak jalan tol. Mereka harus nunggu beberapa tahun sampai akhirnya album debut self-titled mereka rilis di 2008 dan langsung meledak. Di saat band-band lain sibuk main indie-rock yang sok keren, The Script datang dengan pop-rock yang ada bumbu soul dan R&B-nya. Hasilnya? Manis banget di telinga.
Danny, Mark, dan Glen: Formula yang Pas
Kenapa The Script bisa bertahan lama? Jawabannya ada di dinamika mereka. Danny O'Donoghue itu punya karisma vokalis yang "nggak neko-neko". Suaranya punya serak-serak basah yang pas buat lagu sedih tapi tetap kuat buat lagu anthemik. Sementara Mark Sheehan bukan cuma gitaris; dia adalah otak di balik lirik-lirik puitis yang seringkali terasa kayak curhatan teman sendiri. Mark tahu betul cara meramu kata-kata yang relate sama kehidupan sehari-hari.
Lalu ada Glen Power di drum. Mungkin orang jarang bahas drummer, tapi di The Script, ketukan Glen itu yang ngasih "nyawa" supaya lagu mereka nggak cuma jadi balada menye-menye. Musik mereka punya groove. Makanya, meskipun liriknya sedih, kita tetap bisa angguk-angguk kepala pas dengerin. Mereka adalah bukti kalau pop-rock itu nggak harus dangkal. Ada kedalaman di setiap dentuman bass dan petikan gitarnya.
Tragedi dan Masa Sulit yang Mendewasakan
Dunia musik berduka ketika Mark Sheehan menghembuskan napas terakhirnya pada April 2023 lalu. Ini adalah pukulan telak, bukan cuma buat fans, tapi terutama buat Danny dan Glen. Mark bukan cuma rekan kerja, dia adalah separuh jiwa dari band ini. Banyak yang sempat mikir, "Wah, The Script bakal bubar nih." Dan itu masuk akal, karena kehilangan pilar utama itu nggak gampang.
Namun, dalam gaya The Script yang sejati, mereka memilih untuk terus berjalan. Bukan karena nggak peduli, tapi justru sebagai penghormatan buat warisan Mark. Mereka sempat vakum sebentar buat menata hati, sampai akhirnya mereka kembali dengan formasi baru untuk tur dan album teranyar mereka, "Satellites". Kini, mereka dibantu oleh Ben Sargeant dan Ben Weaver untuk mengisi kekosongan di atas panggung. Meskipun rasanya ada yang beda tanpa senyum khas Mark, semangat "the show must go on" itu kerasa banget.
Kenapa Indonesia Begitu Cinta The Script?
Kalau kita perhatikan, setiap kali The Script konser di Indonesia, tiketnya hampir selalu ludes dalam hitungan jam. Kenapa sih orang kita doyan banget sama mereka? Mungkin karena kultur kita yang memang senang "galau berjamaah". Lagu-lagu The Script itu punya frekuensi yang sama dengan selera pendengar di sini: melodi yang ear-catching, lirik yang bisa dijadikan caption Instagram, dan vibe yang emosional.
Selain itu, The Script itu tipe band yang ramah banget sama fans. Mereka nggak jaga image atau merasa terlalu superstar. Danny sering turun ke barisan penonton, ngambil HP fans buat selfie, atau bahkan nelpon mantan pacar salah satu penonton pas lagi bawakan lagu "Nothing". Interaksi semacam ini yang bikin hubungan antara band dan fans di Indonesia jadi terasa sangat intim. Kita nggak cuma nonton konser musik, kita lagi datang ke sesi curhat massal.
Menatap Masa Depan: Satelit yang Terus Mengorbit
Memasuki era baru dengan album "Satellites", The Script mencoba berevolusi. Mereka nggak mau cuma terjebak di zona nyaman lagu-lagu sedih. Ada elemen elektronik dan folk yang lebih kental sekarang. Tapi tenang saja, inti dari musik mereka tetap sama: lagu-lagu yang punya harapan. Kalau dulu mereka dikenal lewat lagu patah hati, sekarang mereka juga dikenal lewat lagu-lagu penyemangat seperti "Superheroes" atau "Hall of Fame".
The Script telah membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar tren sesaat. Mereka sudah jadi bagian dari soundtrack hidup banyak orang. Lewat masa-masa sulit, kehilangan sahabat, hingga perubahan industri musik, mereka tetap konsisten. Buat kalian yang mungkin lagi merasa dunianya runtuh, coba dengerin lagi diskografi mereka dari awal. Ada semacam rasa tenang ketika tahu bahwa di luar sana, ada orang-orang dari Irlandia yang mengerti persis apa yang kalian rasakan. Dan itulah alasan kenapa The Script akan selalu punya tempat spesial di telinga dan hati kita.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
14 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
14 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
15 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
15 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
15 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
15 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
15 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
15 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
18 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
16 days ago





