OJK: Sektor Jasa Keuangan Kalsel Tetap Stabil, Kredit Tumbuh 6,71 Persen
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 15 March 2026 | 05:44 AM


amanditmedia.id, Banjarmasin - Kinerja sektor jasa keuangan di Kalimantan Selatan pada awal 2026 dinilai tetap stabil dengan tingkat risiko yang masih terjaga. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit perbankan serta likuiditas yang dinilai memadai.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan, Agus Maiyo, mengatakan stabilitas sektor keuangan daerah masih sejalan dengan kondisi ekonomi global yang relatif terjaga.
"Tiga sektor utama penopang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Selatan masih didominasi sektor pertambangan dengan porsi 23,20 persen, diikuti sektor pertanian 12,68 persen, serta industri pengolahan 11,37 persen," kata Agus di Banjarmasin, Sabtu (14/3/2026).
Secara regional, ekonomi Kalimantan Selatan pada kuartal IV 2025 tumbuh 5,46 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,19 persen. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Kalsel tercatat 5,22 persen atau sedikit di atas capaian nasional yang berada di angka 5,11 persen.
Dari sisi perbankan, penyaluran kredit hingga Januari 2026 mencapai Rp82,29 triliun atau tumbuh 6,71 persen (yoy). Rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,63 persen.
"Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu 28,16 persen, diikuti kredit konsumsi yang tumbuh 6,78 persen, sementara kredit modal kerja mengalami kontraksi 8,23 persen," ujarnya.
Kredit investasi terbesar tercatat di Kota Banjarmasin dengan nilai Rp19,05 triliun. Sementara itu, porsi kredit untuk UMKM mencapai 26,86 persen dari total kredit di Kalsel.
Penghimpunan dana masyarakat juga meningkat. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,68 persen (yoy), sementara total aset perbankan naik 6,05 persen (yoy). Pangsa DPK terbesar masih berada di Banjarmasin dengan nilai Rp61,2 triliun atau sekitar 62,42 persen dari total dana masyarakat.
Di sisi lain, aset perbankan syariah tercatat turun 12,97 persen (yoy) menjadi Rp10,49 triliun. Meski begitu, pembiayaan justru meningkat 10,33 persen (yoy) menjadi Rp9,36 triliun.
"Likuiditas perbankan syariah juga tetap terjaga di angka 100,54 persen dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross sebesar 2,03 persen," ungkapnya.
Next News

Komitmen Pelestarian Naskah Kuno Diperkuat, Dorong Digitalisasi Warisan Daerah
a day ago

Tim Pemilihan Dewan SDA Kalsel Disusun, Fokus Atasi Banjir hingga Kekeringan
a day ago

Inovasi Hidroponik Diuji untuk Pembenihan Cabai dan Tomat di Kalsel
a day ago

Penilaian BUMDesa Kalsel Pakai Skema Baru, Dua Tahap hingga Verifikasi Lapangan
a day ago

Magang 40 Hari, Klien PPRSAR Mulia Satria Didorong Siap Masuk Dunia Kerja
a day ago

Pokja I Komisi Irigasi Matangkan Agenda Pleno, Soroti Kekeringan hingga Banjir
a day ago

Pelatihan TPKS Digelar, Perkuat Kapasitas Penanganan Kasus Kekerasan Seksual di Kalsel
a day ago

Ratusan ASN Antusias Aktivasi IKD, Disdukcapil Kalsel Kejar Target 49 SKPD
a day ago

Workshop Konsiliasi Data Digelar, Disdukcapil Kalsel Perkuat Akurasi Profil Kependudukan
2 days ago

Inkubator Usaha Didorong Jadi Motor UMKM, Kalsel Berbagi Skema Pengembangan
2 days ago





