Kamis, 5 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Taylor Swift dan Seni Bercerita: Ketika folklore dan evermore Menjadikan Lagu Seperti Cerpen

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 26 January 2026 | 09:13 PM

Background
Taylor Swift dan Seni Bercerita: Ketika folklore dan evermore Menjadikan Lagu Seperti Cerpen
Taylor Swift (Instagram/@taylorswift)

Taylor Swift kerap dipuji sebagai penulis lagu yang jujur dan personal. Namun pada album folklore (2020) dan evermore (2020), ia melangkah lebih jauh: meninggalkan pusat cerita "aku" dan memasuki dunia fiksi yang sunyi, reflektif, dan nyaris sastra. Dua album ini menandai fase penting dalam karier Taylor Swift—bukan sekadar perubahan genre, tetapi pendewasaan cara bercerita.

Di sinilah Taylor Swift tidak lagi hanya menulis lagu, melainkan merangkai cerpen dalam bentuk musik.

Dari Pengakuan Pribadi ke Narasi Fiktif

Pada era-era awal, kekuatan Taylor Swift terletak pada pengalaman personal yang transparan. Namun folklore dan evermore justru menunjukkan kematangan artistik: keberanian untuk tidak selalu menjadi tokoh utama.

Ia menciptakan karakter, konflik, dan latar:

  • Cinta segitiga remaja (betty, august, cardigan)
  • Perempuan yang ditinggalkan dalam kesunyian emosional (tolerate it)
  • Tokoh-tokoh terpinggirkan dengan luka yang tak terucap (this is me trying, happiness)

Pendekatan ini menyerupai teknik penulisan fiksi pendek, di mana emosi dibangun melalui situasi dan detail, bukan pernyataan eksplisit.

Teknik Storytelling ala Taylor Swift

1. Detail Kecil sebagai Simbol Emosi

Alih-alih menjelaskan perasaan secara langsung, Taylor menggunakan objek dan adegan sederhana: dapur, pesta kecil, meja makan, mobil, atau cahaya sore. Detail-detail ini bekerja seperti simbol dalam cerpen—diam, tetapi berbicara banyak.

2. Sudut Pandang yang Berlapis

Dalam trilogi betty–august–cardigan, satu peristiwa yang sama diceritakan dari sudut pandang berbeda. Ini bukan teknik pop lazim, melainkan pendekatan naratif yang kompleks, mengajak pendengar menjadi pembaca aktif.

3. Emosi yang Ditahan, Bukan Dilampiaskan

Lagu-lagu di folklore dan evermore jarang mencapai klimaks emosional yang eksplosif. Justru kekuatannya ada pada emosi yang tertahan, seperti cerita yang berakhir tanpa penjelasan tuntas—membekas lebih lama.

folklore dan evermore: Ketika Kesunyian Menjadi Pilihan Artistik

Dirilis tanpa promosi besar dan di tengah pandemi, folklore terasa seperti keputusan untuk mundur dari hiruk-pikuk pop. Sementara evermore memperluas dunia yang sama, dengan nada lebih gelap dan kontemplatif.

Kedua album ini:

  • Mengurangi ego selebritas
  • Mengedepankan narasi dibanding persona
  • Membiarkan musik menjadi ruang hening untuk refleksi

Ini bukan album untuk sing-along massal, melainkan untuk didengarkan sendirian.

Mengapa Pendekatan Ini Begitu Kuat?

Karena Taylor Swift memahami bahwa pendengar tidak selalu ingin diceramahi tentang perasaan, tetapi diundang masuk ke dalam cerita. Dengan pendekatan seperti cerpen, lagu-lagunya menjadi ruang empati—pendengar bisa menemukan diri mereka tanpa harus persis sama dengan kisahnya.

Ia tidak berkata, "ini perasaanku," melainkan, "inilah sebuah cerita—jika kamu pernah merasakannya, kamu akan mengerti."


folklore dan evermore menegaskan posisi Taylor Swift bukan hanya sebagai bintang pop, tetapi storyteller modern yang memanfaatkan format lagu layaknya sastra pendek. Di era musik yang serba cepat dan instan, Taylor justru memilih pelan, sunyi, dan mendalam.

Dan mungkin di situlah letak kekuatannya: cerita yang tidak berteriak, tetapi bertahan lama.