Taylor Swift dan Seni Bercerita: Ketika folklore dan evermore Menjadikan Lagu Seperti Cerpen
Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 26 January 2026 | 09:13 PM


Taylor Swift kerap dipuji sebagai penulis lagu yang jujur dan personal. Namun pada album folklore (2020) dan evermore (2020), ia melangkah lebih jauh: meninggalkan pusat cerita "aku" dan memasuki dunia fiksi yang sunyi, reflektif, dan nyaris sastra. Dua album ini menandai fase penting dalam karier Taylor Swift—bukan sekadar perubahan genre, tetapi pendewasaan cara bercerita.
Di sinilah Taylor Swift tidak lagi hanya menulis lagu, melainkan merangkai cerpen dalam bentuk musik.
Dari Pengakuan Pribadi ke Narasi Fiktif
Pada era-era awal, kekuatan Taylor Swift terletak pada pengalaman personal yang transparan. Namun folklore dan evermore justru menunjukkan kematangan artistik: keberanian untuk tidak selalu menjadi tokoh utama.
Ia menciptakan karakter, konflik, dan latar:
- Cinta segitiga remaja (betty, august, cardigan)
- Perempuan yang ditinggalkan dalam kesunyian emosional (tolerate it)
- Tokoh-tokoh terpinggirkan dengan luka yang tak terucap (this is me trying, happiness)
Pendekatan ini menyerupai teknik penulisan fiksi pendek, di mana emosi dibangun melalui situasi dan detail, bukan pernyataan eksplisit.
Teknik Storytelling ala Taylor Swift
1. Detail Kecil sebagai Simbol Emosi
Alih-alih menjelaskan perasaan secara langsung, Taylor menggunakan objek dan adegan sederhana: dapur, pesta kecil, meja makan, mobil, atau cahaya sore. Detail-detail ini bekerja seperti simbol dalam cerpen—diam, tetapi berbicara banyak.
2. Sudut Pandang yang Berlapis
Dalam trilogi betty–august–cardigan, satu peristiwa yang sama diceritakan dari sudut pandang berbeda. Ini bukan teknik pop lazim, melainkan pendekatan naratif yang kompleks, mengajak pendengar menjadi pembaca aktif.
3. Emosi yang Ditahan, Bukan Dilampiaskan
Lagu-lagu di folklore dan evermore jarang mencapai klimaks emosional yang eksplosif. Justru kekuatannya ada pada emosi yang tertahan, seperti cerita yang berakhir tanpa penjelasan tuntas—membekas lebih lama.
folklore dan evermore: Ketika Kesunyian Menjadi Pilihan Artistik
Dirilis tanpa promosi besar dan di tengah pandemi, folklore terasa seperti keputusan untuk mundur dari hiruk-pikuk pop. Sementara evermore memperluas dunia yang sama, dengan nada lebih gelap dan kontemplatif.
Kedua album ini:
- Mengurangi ego selebritas
- Mengedepankan narasi dibanding persona
- Membiarkan musik menjadi ruang hening untuk refleksi
Ini bukan album untuk sing-along massal, melainkan untuk didengarkan sendirian.
Mengapa Pendekatan Ini Begitu Kuat?
Karena Taylor Swift memahami bahwa pendengar tidak selalu ingin diceramahi tentang perasaan, tetapi diundang masuk ke dalam cerita. Dengan pendekatan seperti cerpen, lagu-lagunya menjadi ruang empati—pendengar bisa menemukan diri mereka tanpa harus persis sama dengan kisahnya.
Ia tidak berkata, "ini perasaanku," melainkan, "inilah sebuah cerita—jika kamu pernah merasakannya, kamu akan mengerti."
folklore dan evermore menegaskan posisi Taylor Swift bukan hanya sebagai bintang pop, tetapi storyteller modern yang memanfaatkan format lagu layaknya sastra pendek. Di era musik yang serba cepat dan instan, Taylor justru memilih pelan, sunyi, dan mendalam.
Dan mungkin di situlah letak kekuatannya: cerita yang tidak berteriak, tetapi bertahan lama.
Next News

Chef Rakyat Bobon Santoso Pensiun dari YouTube, Kanal 18 Juta Subscriber Dijual
16 hours ago

Merasa Kaya Tanpa Uang: Kebahagiaan Sederhana dalam Millionaires dari The Script
17 hours ago

Tak Ada yang Baik dari Perpisahan: Luka Emosional dalam No Good In Goodbye dari The Script
18 hours ago

Sebelum Semua Rusak: Penyesalan dan Kerinduan dalam Before The Worst – The Script
18 hours ago

Di Atas Tali Rapuh: Makna Lagu Man On A Wire dari The Script
19 hours ago

Pintu yang Selalu Terbuka: Makna Lagu If You Ever Come Back dari The Script
16 hours ago

Makna Lagu Six Degrees of Separation – The Script: Tahapan Patah Hati yang Tak Bisa Dilewati Sekali Jalan
in 2 hours

Makna Lagu Rain – The Script, Saat Kenangan Turun Seperti Hujan yang Tak Pernah Reda
in 18 minutes

Makna Lagu For the First Time – The Script, Saat Hidup Tidak Lagi Sesuai Rencana
in an hour

Makna Lagu Nothing – The Script, Saat Patah Hati Berubah Jadi Keputusasaan
in 4 hours





