Terlintas – Bernadya dan Kegelisahan Tentang Akhir yang Belum Tentu
Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 13 February 2026 | 12:44 AM


Dirilis pada 2023, Terlintas menjadi salah satu lagu Bernadya yang sarat perenungan. Lagu ini tidak berbicara tentang konflik besar atau pertengkaran, melainkan tentang kegelisahan yang datang diam-diam sebelum tidur—tentang masa depan, kehilangan, dan kemungkinan berakhirnya sebuah kisah cinta.
Sejak awal, liriknya membuka ruang kontemplasi: "Terlintas di kepala sebelum kupejamkan mata." Momen menjelang tidur sering kali menjadi saat paling jujur, ketika pikiran tak lagi bisa dialihkan. Pertanyaan besar pun muncul: "Akankah di masa mendatang kutemukan yang selamanya?" Ini bukan sekadar tentang pasangan saat ini, tetapi tentang konsep "selamanya" yang selalu terdengar indah namun belum tentu nyata.
Kegelisahan itu meluas menjadi lebih eksistensial ketika ia bertanya, "Akankah semua yang bernyawa berpisah dan saling melupa?" Di sini, lagu ini menyentuh ketakutan universal: bahwa pada akhirnya semua hubungan bisa saja selesai, bahkan kenangan pun memudar. Ada kecemasan akan kefanaan—baik cinta maupun hidup itu sendiri.
Refrain "Lalu bagaimana, akhirnya bagaimana? Akankah kisahnya berakhir bahagia?" mempertegas tema utama lagu ini: ketidakpastian. Bernadya mengulang pertanyaan itu seperti orang yang tidak menemukan jawaban, hanya bisa berharap. Kalimat "S'moga hanya bahagia yang akan terasa di panjangnya sisa masa" menunjukkan harapan sederhana—bukan meminta segalanya sempurna, hanya ingin akhirnya bahagia.
Pada bait berikutnya, suasana semakin sunyi: "Tinggal bintang bulan menyala, semua pikiranku melayang dan aku kini sendirian." Gambaran malam memperkuat rasa sepi. Dalam kesendirian itu, meski pikirannya kacau dan dipenuhi berbagai kemungkinan, satu hal tetap pasti: "Kau tetap menjadi bagian." Artinya, seberapa pun ia mencoba berpikir rasional, sosok itu tetap hadir dalam bayangannya tentang masa depan.
Menjelang akhir, pertanyaannya menjadi lebih personal: "Aku bagaimana, tanpamu bagaimana?" Jika sebelumnya ia bertanya tentang "kisahnya", kini berubah menjadi "kisahku". Ada pergeseran dari hubungan sebagai entitas bersama menjadi ketakutan individu akan hidup tanpa orang tersebut.
Terlintas pada akhirnya adalah lagu tentang overthinking yang manusiawi. Tentang malam-malam panjang yang dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban. Tentang harapan agar semua kekhawatiran itu bermuara pada satu hal: kebahagiaan, meski belum tahu bagaimana jalannya.
Next News

Festival Bamboo Rafting Loksado 2026, Sensasi Menyusuri Sungai Amandit dengan Rakit Bambu di Pegunungan Meratus
a month ago

Westlife: Rahasia Kenapa Mas-Mas Irlandia Ini Masih Jadi Juara di Hati Kita
2 months ago

Bukan Sekadar Boyband, Westlife Adalah Definisi Tongkrongan yang Menolak Bubar
2 months ago

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
2 months ago

Nostalgia Meteor Garden: Cerita di Balik Terbentuknya F4 yang Pernah Mengacak-acak Hati Kita
2 months ago

Nostalgia F4: Menelusuri Jejak Para Pangeran Meteor Garden yang Kini Sudah Senior
2 months ago

Westlife: Bukan Sekadar Modal Kursi Bar dan Wajah Tampan, Ini Sisi Lain yang Jarang Terungkap
2 months ago

Nostalgia Tipis-Tipis: Deretan Album Westlife Terbaik yang Wajib Masuk Playlist Kamu
2 months ago

Fenomena F4: Saat Seluruh Indonesia Terkena Demam Meteor Garden
2 months ago

Westlife: Kenapa Boyband 'Bapak-Bapak Wangi' Ini Tetap Jadi Juara di Hati Orang Indonesia?
2 months ago





