Ali Khamenei Dikonfirmasi Tewas, Ini Jejak Kekuasaan dan Krisis Terakhirnya
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 01 March 2026 | 02:39 PM


amanditmedia.id, Teheran - Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran mengonfirmasi wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada Ahad (1/3) sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. Hingga kini belum ada rincian resmi mengenai kronologi kematiannya, namun kabar tersebut muncul di tengah eskalasi serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran.
Sebelum kabar kematian ini, tekanan terhadap Khamenei sebenarnya sudah meningkat. Gelombang protes nasional pada awal tahun berubah menjadi salah satu penindakan paling berdarah selama hampir empat dekade kepemimpinannya. Ribuan orang dilaporkan tewas dalam demonstrasi yang dipicu krisis ekonomi, anjloknya nilai mata uang rial, serta kemarahan publik terhadap situasi politik dalam negeri.
Dalam salah satu pernyataannya saat protes memuncak, Khamenei menegaskan, "Perusuh harus diberi pelajaran." Aparat keamanan kemudian menembaki massa ketika ratusan ribu warga turun ke jalan pada awal Januari. Aktivis menyebut ribuan korban jiwa, sementara pemerintah mengakui lebih dari 3.000 orang tewas.
Di sisi lain, tekanan eksternal juga kian kuat. Serangan Israel dan AS sebelumnya dilaporkan merusak fasilitas nuklir, sistem rudal, dan kapabilitas militer Iran. Jaringan proksi regional Iran turut melemah sejak konflik Gaza meluas. Dalam situasi itu, Khamenei tetap membuka ruang negosiasi nuklir dengan Washington, meski menolak tuntutan penghentian total pengayaan uranium.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selama 36 tahun, ia memperkuat posisi ulama dalam struktur negara dan mendorong Garda Revolusi menjadi kekuatan dominan di bidang militer, politik, dan ekonomi. Loyalitas institusi tersebut menjadi penopang utama kekuasaannya.
Kini, dengan konfirmasi wafatnya pemimpin tertinggi tersebut, Iran menghadapi babak baru yang penuh ketidakpastian. Secara formal, panel ulama Syiah bertugas memilih pengganti. Namun sejumlah analis menilai peralihan kekuasaan bisa saja dikendalikan sementara oleh lingkaran elite keamanan hingga situasi dinilai stabil.
Next News

Kaesang Pangarep: Dari Tukang Pisang, Raja Meme, Hingga Jadi Kapten Politik Dadakan
a day ago

Profil Bahlil Lahadalia: Mantan Loper Koran Kini Nakhoda Golkar
a day ago

Diskon Iuran BPJS Ketenagakerjaan 50 Persen untuk Ojol hingga Kurir, Berlaku sampai 2027
4 days ago

BPJS Ketenagakerjaan Perluas Perlindungan Pekerja Informal Lewat RT/RW dan Komunitas Masjid
4 days ago

Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026, BI Batasi Maksimal Rp5,3 Juta per Orang
4 days ago

Ekonom Peringatkan Dampak Jika Harga BBM Naik: Inflasi Tinggi hingga Risiko Resesi
4 days ago

Pemerintah Jamin Stok BBM Aman di Tengah Ketegangan Global
4 days ago

Filipina Pangkas Jam Kerja Demi Hemat Energi, Indonesia Masih Kaji Kebijakan Efisiensi
4 days ago

Prabowo Undang SBY dan Jokowi Hadiri Acara di Istana Merdeka Malam Ini
11 days ago

920 Cartridge Vape Berisi Narkoba Etomidate Diamankan Polisi di Jakarta Pusat
11 days ago





