Benarkah Gerhana Matahari Bikin Buta? Simak Faktanya di Sini
Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 28 February 2026 | 09:00 AM


Gerhana: Antara Takut Buta, Mitos Kolong Kasur, dan Fenomena FOMO Massal
Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya ngopi di siang bolong, terus tiba-tiba suasana berubah jadi redup? Bukan karena mau hujan badai, tapi karena matahari perlahan "dimakan" sama bulan. Di momen itu, biasanya ada dua tipe manusia: yang satu sibuk nyari kacamata hitam buat pamer di Instagram Story, yang satu lagi panik setengah mati nyuruh semua orang masuk rumah karena takut buta atau kena kutukan. Klasik banget, kan?
Pertanyaan "apakah gerhana itu berbahaya" sebenarnya punya jawaban yang nggak cuma hitam-putih. Kayak hubungan kamu sama mantan, ada sisi yang memang toksik tapi ada juga yang sebenarnya cuma prasangka belaka. Secara saintifik, gerhana itu fenomena alam yang luar biasa cantik, tapi kalau kita modal nekat dan minim literasi, ya memang bisa berujung petaka bagi kesehatan mata. Mari kita bedah pelan-pelan supaya nggak salah kaprah.
Mitos Kolong Kasur yang Masih Awet
Dulu, pas zaman kakek-nenek kita, gerhana matahari dianggap sebagai peristiwa yang bikin merinding. Ada narasi tentang Batara Kala yang lagi lapar dan menelan matahari. Di beberapa daerah, ibu hamil dipaksa masuk ke kolong kasur supaya bayinya nggak "kena apa-apa." Kedengarannya lucu buat anak zaman sekarang yang apa-apa dicek di Google, tapi secara sosiologis, mitos ini sebenarnya bentuk "proteksi diri" dari nenek moyang kita yang belum punya teknologi filter UV.
Logikanya gini: karena orang dulu nggak tahu cara melihat matahari yang aman, mending dilarang sekalian dengan cara ditakut-takuti pakai cerita seram. Jadi, bahayanya sebenarnya bukan karena ada kekuatan mistis yang turun dari langit, melainkan karena rasa penasaran manusia yang sering kali melampaui batas keamanan matanya sendiri. Sampai sekarang, masih ada lho yang percaya kalau gerhana itu pembawa sial. Padahal ya, itu cuma urusan presisi orbit benda langit saja.
Radiasi yang Nggak Main-Main
Nah, sekarang kita bahas dari sisi medis. Bahaya utama gerhana matahari bukan terletak pada kegelapannya, tapi pada saat matahari mulai muncul kembali atau saat fase sabit. Cahaya matahari itu mengandung radiasi ultraviolet (UV) dan inframerah yang kuat banget. Masalahnya, pas gerhana, cahaya matahari tertutup sebagian, jadi mata kita nggak ngerasa silau yang "nyakitin". Pupil mata kita malah melebar karena suasana gelap, nah di saat itulah radiasi masuk secara maksimal tanpa kita sadari.
Kondisi ini namanya solar retinopathy. Bayangin lensa mata kamu itu kayak kaca pembesar yang fokusin sinar matahari ke satu titik di kertas sampai kebakar. Bedanya, "kertas" itu adalah retina kamu. Sialnya lagi, retina itu nggak punya saraf perasa sakit. Jadi pas mata kamu lagi "dipanggang" oleh sinar matahari, kamu nggak akan ngerasa perih. Baru deh besoknya penglihatan jadi kabur atau ada titik hitam di tengah. Ngeri, kan? Jadi kalau ada yang nanya berbahaya atau nggak, jawabannya: sangat berbahaya buat mata kalau kamu nggak pakai pelindung yang benar.
Gerhana Bulan: Si Sepupu yang Lebih Santai
Kalau gerhana matahari itu ibarat konser rock yang liar dan butuh pengamanan ketat, gerhana bulan itu kayak dengerin lagu indie di senja hari—sangat aman dan chill. Banyak orang masih bingung dan menyamakan risiko keduanya. Padahal, gerhana bulan itu benar-benar 100 persen aman dilihat pakai mata telanjang. Mau kamu melototin bulan merah darah itu sampai pagi pun, mata kamu bakal baik-baik saja.
Kenapa? Karena bulan itu nggak memancarkan cahayanya sendiri. Dia cuma memantulkan sinar matahari. Pas gerhana bulan, cahaya yang sampai ke mata kita itu intensitasnya sudah jauh berkurang. Jadi, buat kamu yang suka hal-hal estetik, momen gerhana bulan adalah waktu yang tepat buat bengong sambil mikirin cicilan tanpa perlu takut buta.
FOMO dan Kacamata "Kaleng-Kaleng"
Zaman sekarang, bahaya gerhana bertambah satu lagi: FOMO alias Fear of Missing Out. Demi konten di media sosial, banyak orang yang nekat pakai alat seadanya buat ngelihat gerhana matahari. Ada yang pakai kaca film mobil, negatif film (masih ada yang punya?), sampai kacamata hitam biasa yang ditumpuk-tumpuk. Ini nih yang bahaya banget.
Kacamata hitam biasa, semahal apa pun merknya, nggak dirancang buat menatap matahari langsung. Kamu butuh filter khusus bernama ISO 12312-2. Tanpa itu, kamu cuma sekadar bikin gelap penglihatan, tapi radiasi UV-nya tetap nembus ke belakang mata. Jangan sampai demi dapet foto yang dapet like banyak, kamu harus kehilangan kemampuan buat ngelihat indahnya dunia secara permanen. Kan nggak sebanding banget harganya.
Kesimpulan: Nikmati, Jangan Takut, Tapi Tetap Pintar
Gerhana itu adalah pengingat kalau kita ini cuma butiran debu di semesta yang luas banget. Nggak perlu ketakutan berlebihan sampai harus ngumpet di bawah kasur atau nutupin semua ventilasi rumah pakai kain hitam. Itu mah sudah lewat masanya. Dunia sudah maju, informasi sudah di genggaman.
Bahaya gerhana itu nyata secara biologis terhadap mata, tapi bukan sesuatu yang harus bikin kita parno kalau kita tahu prosedurnya. Siapkan kacamata khusus, cari spot yang asyik, dan nikmati pertunjukan gratis dari alam. Kalau nggak punya kacamatanya? Pakai metode proyeksi lubang jarum (pinhole) aja pakai kertas karton. Kreatif dikit lah, daripada nekat taruhan pakai kesehatan mata. Jadi, siap buat gerhana berikutnya? Jangan lupa cek jadwal di BMKG dan jangan lupa bahagia!
Next News

Nasib Selat Hormuz: Kapan Jalur Vital Ini Kembali Tenang?
4 days ago

Dampak Penutupan Selat Hormuz Terhadap Harga Kebutuhan Pokok
5 days ago

Mengenal Selat Hormuz, Penentu Harga BBM di Seluruh Dunia
5 days ago

Apa Itu SINTA? Panduan Lengkap Indeks Jurnal Nasional Terakreditasi
5 days ago

Mengenal Jurnal Scopus dan Cara Mengaksesnya
5 days ago

Leon Kembali! Resident Evil Requiem Rilis Global 27 Februari 2026
9 days ago

Sering Ngantuk Pas Puasa? Lakukan Hal Ini Agar Tetap Melek
6 days ago

Cara Setting Audio Agar Bass Mantap dan Tidak Cemplang
6 days ago

Dari Indie ke Metal: Semua Akan Dangdut Pada Waktunya
6 days ago

Menelusuri Jejak Kendang yang Menghentak: Mengapa Sih Dangdut Koplo Itu Ada?
6 days ago




