Rabu, 22 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Bukan Cuma Soal Sate, Ini Sederet Kesalahan Saat Berkurban yang Sering Kita Sepelekan

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 26 March 2026 | 06:00 PM

Background
Bukan Cuma Soal Sate, Ini Sederet Kesalahan Saat Berkurban yang Sering Kita Sepelekan
Apa yang harus dilakukan saat Idul Adha? (Pexels.com/MART PRODUCTION)

Setiap kali Idul Adha datang, atmosfer di sekitar kita mendadak berubah. Aroma prengus kambing mulai tercium dari pojokan gang, suara lenguhan sapi jadi latar musik alami sejak subuh, dan grup WhatsApp keluarga mendadak penuh dengan foto-foto hewan kurban yang diberi caption "Bismillah, otw surga". Suasana gotong royong di masjid pun terasa hangat—bapak-bapak sibuk mengasah pisau, ibu-ibu menyiapkan bumbu sate, dan anak-anak kecil berlarian sambil sesekali menggoda sapi yang sedang galau.

Tapi, di balik keriuhan dan semangat berbagi itu, sering kali ada hal-hal krusial yang luput dari perhatian kita. Berkurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan lalu bagi-bagi daging buat stok kulkas seminggu ke depan. Ada esensi ibadah yang sangat dalam, yang sayangnya sering tergerus oleh kebiasaan-kebiasaan salah kaprah yang sudah dianggap lumrah. Alih-alih dapat pahala maksimal, eh, malah terjebak dalam kesalahan teknis yang bikin ibadah kita jadi terasa kurang sreg.

Biar tahun ini kurban kita nggak cuma dapet capek dan kenyangnya doang, yuk kita bedah pelan-pelan kesalahan umum apa saja yang harus dihindari. Sambil ngopi, mari kita refleksi sejenak.

1. Konten Dulu, Ibadah Kemudian: Jebakan Flexing di Media Sosial

Zaman sekarang, kalau nggak di-post di Instagram Story atau TikTok rasanya ada yang kurang, ya? Memang sih, berbagi kebahagiaan itu boleh-boleh saja. Tapi, sering kali batas antara "mensyukuri nikmat" dan "pamer harta" itu tipis banget, setipis irisan daging buat steak. Banyak dari kita yang lebih sibuk nyari angle foto terbaik bareng sapi seberat satu ton daripada fokus menata niat di dalam hati.

Ingat, esensi kurban itu adalah ketulusan Nabi Ibrahim AS. Kalau niat kita sudah bergeser pengen dianggap "orang kaya" atau "dermawan" oleh followers, wah, ini gawat. Jangan sampai nilai kurban kita yang harganya belasan atau puluhan juta itu menguap begitu saja cuma gara-gara satu postingan yang haus validasi. Simpan dulu gadget-mu saat prosesi penyembelihan, rasakan momen syahdunya, baru deh kalau sudah selesai dan dagingnya dibagikan, silakan dokumentasikan untuk laporan transparansi panitia.

2. Melupakan Adab Terhadap Hewan (Ihsan)

Sering nggak sih kalian melihat sapi atau kambing yang diseret-seret kasar, dipukuli, atau bahkan dijatuhkan dengan cara yang bikin kita yang melihatnya saja merasa linu? Ini adalah kesalahan fatal. Dalam Islam, ada konsep Ihsan—berbuat baik kepada segala sesuatu, termasuk kepada hewan yang akan disembelih.

Beberapa kesalahan teknis yang sering terjadi adalah mengasah pisau di depan mata si hewan, atau menyembelih hewan di hadapan teman-temannya yang lain. Bayangkan stresnya hewan-hewan itu. Hewan yang stres akan menghasilkan daging yang kualitasnya menurun karena hormon kortisol yang melonjak. Secara syariat pun, menyakiti hewan di luar keperluan penyembelihan itu sangat dilarang. Perlakukan mereka dengan lembut, beri makan dan minum yang cukup sebelum waktunya tiba. Ingat, mereka adalah "kendaraan" menuju kebaikan, bukan benda mati.

3. Pisau yang Kurang Tajam dan Eksekusi yang Amatiran

Ini masalah teknis yang dampaknya besar. Banyak panitia kurban yang mungkin karena semangatnya membara, lupa mengecek ketajaman senjata tajamnya. Menggunakan pisau yang tumpul itu sama saja dengan menyiksa hewan secara perlahan. Penyembelihan harus dilakukan dengan sekali sret (sekali gerak atau dalam waktu singkat) yang langsung memutus tiga saluran utama: jalan napas, jalan makan, dan pembuluh darah.

Jangan sampai ada drama "gorok berkali-kali" yang bikin hewan menderita lama. Itulah kenapa penting banget buat menyerahkan tugas ini kepada jagal yang profesional atau orang yang memang sudah ahli. Jangan cuma modal nekat demi konten atau gengsi ingin dibilang berani, tapi akhirnya malah menyakiti makhluk hidup.

4. Menjadikan Daging atau Bagian Hewan Sebagai "Upah" Jagal

Ini dia "salah kaprah" yang paling sering kita temui di lapangan. Biasanya, karena sudah merasa akrab atau pengen hemat anggaran, panitia atau orang yang berkurban memberikan kepala, kulit, atau kaki hewan kurban kepada tukang jagal sebagai bagian dari upah atau ongkos sembelih. Secara fikih, ini dilarang keras.

Tukang jagal harus dibayar dengan uang secara profesional dari dana yang sudah disiapkan sebelumnya, bukan diambil dari bagian hewan kurban. Kalau mau kasih daging ke tukang jagal, statusnya harus sebagai sedekah atau hadiah, bukan sebagai pengganti ongkos kerja. Jadi, pastikan kesepakatan di awal jelas: ongkos jagal sekian rupiah, dan daging yang dia bawa pulang adalah murni pemberian sukarela, bukan potongan biaya jasa.

5. Distribusi yang Salah Sasaran

Pernah lihat orang yang mampu secara ekonomi, rumahnya mentereng, tapi masih ikut antre panjang buat dapetin kupon daging kurban? Atau malah panitia yang sengaja menyimpan bagian terbaik (seperti sirloin atau paha belakang) buat kelompoknya sendiri saja? Nah, ini juga termasuk kesalahan dalam distribusi.

Memang benar, orang yang berkurban (shohibul qurban) boleh mengambil maksimal sepertiga bagian dagingnya. Tapi semangat utama kurban adalah memberi makan mereka yang jarang makan daging sepanjang tahun. Jangan sampai daging kurban malah berputar-putar di kalangan orang kaya saja (circle-nya itu-itu saja). Prioritaskan fakir miskin di lingkungan sekitar, orang-orang yang benar-benar butuh asupan protein tapi nggak mampu beli. Jangan biarkan mereka cuma jadi penonton saat asap sate mengepul di rumah-rumah mewah.

6. Kurang Peduli dengan Kebersihan dan Limbah

Terakhir, tapi nggak kalah penting: masalah kebersihan. Sering kali setelah kurban, area masjid atau lapangan jadi becek, bau, dan penuh darah yang menggenang. Bahkan ada yang nekat membuang jeroan atau kotoran hewan ke sungai. Ini sih namanya ibadah yang bikin polusi.

Islam itu sangat mencintai kebersihan. Panitia harus sudah punya rencana matang soal limbah. Darah harus dikubur, kotoran harus dikelola, dan tempat penyembelihan harus segera dibersihkan agar tidak menjadi sumber penyakit. Jangan sampai niat kita cari pahala malah jadi bahan omongan tetangga karena bau limbah yang nggak hilang-hilang sampai seminggu kemudian.

Berkurban itu tentang pengorbanan ego, harta, dan kemanusiaan. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas, kita nggak cuma sekadar menjalankan rutinitas tahunan, tapi benar-benar meresapi makna di balik setiap tetes darah hewan yang mengalir. Semoga kurban kita tahun ini diterima dan membawa keberkahan buat semua. Selamat merayakan hari raya, dan selamat nyate!

Tags