Bukan Sekadar Viral: Mengenal Lebih Dekat Idgitaf, Suara Jujur Generasi yang Sedang Takut-takutnya Tumbuh Dewasa
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 15 March 2026 | 07:00 AM


Kalau kita memutar waktu kembali ke tahun 2020, saat dunia lagi berantakan gara-gara pandemi dan kita semua cuma bisa pasrah mengurung diri di kamar, ada satu fenomena yang barangkali menyelamatkan kesehatan mental banyak orang: TikTok. Di tengah gempuran konten joget-joget yang kadang bikin dahi berkerut, muncul seorang perempuan muda dengan kacamata, senyum lebar, dan suara yang punya karakter unik banget. Dia bukan sekadar "content creator" biasa. Dia adalah Brigitta Sriulina Beru Meliala, atau yang lebih kita kenal dengan nama panggungnya yang cukup nyentrik, Idgitaf.
Mungkin bagi sebagian orang, nama Idgitaf terdengar seperti sandi rahasia atau istilah teknis yang sulit dieja. Tapi buat anak-anak muda yang sering "sambat" di media sosial, nama ini adalah jaminan lagu-lagu yang sanggup memvalidasi rasa galau. Nama Idgitaf sendiri sebenarnya adalah singkatan dari kalimat bahasa Inggris yang cukup berani: "I Don't Give It A Fuck". Sebuah pernyataan sikap yang menunjukkan kalau dia nggak mau ambil pusing dengan omongan orang lain dan memilih untuk jadi diri sendiri. Dan jujur saja, di industri musik yang seringkali menuntut kesempurnaan visual dan vokal yang "mainstream", sikap masa bodoh yang elegan ini justru jadi kekuatan utamanya.
Berawal dari Duet Maut yang Mengubah Nasib
Ingat nggak momen ketika dia melakukan duet dengan musisi Francis Karel? Video itu meledak luar biasa. Idgitaf menambahkan harmoni dan lirik tambahan pada lagu yang sedang dikerjakan Francis, dan hasilnya? Magis. Suaranya yang serak-serak basah tapi punya power yang pas itu langsung bikin orang bertanya-tanya, "Ini siapa sih? Kok enak banget dengerinnya?"
Dari situ, perjalanan Gita—panggilan akrabnya—nggak berhenti jadi sekadar keajaiban satu malam atau "one-hit wonder" di medsos. Dia membuktikan kalau dia punya isi kepala yang brilian lewat tulisan-tulisannya. Idgitaf bukan cuma penyanyi yang nunggu dikasih lagu, dia adalah storyteller. Dia menangkap keresahan-keresahan kecil yang sering kita alami tapi susah buat diungkapkan. Misalnya, rasa takut jadi dewasa, rasa tidak enak hati dengan ekspektasi orang tua, sampai urusan trauma masa lalu yang belum sembuh-sembuh amat.
Takut: Lagu Kebangsaan Para Pejuang Quarter-Life Crisis
Kalau harus menunjuk satu lagu yang benar-benar melambungkan namanya ke level yang berbeda, jawabannya sudah pasti lagu berjudul "Takut". Lagu ini rilis di saat yang sangat tepat, di mana banyak orang merasa tersesat setelah lulus kuliah atau terjebak di pekerjaan yang nggak mereka sukai. Liriknya sederhana tapi menohok, seperti baris: "Takut tambah dewasa, takut aku kecewa."
Dengar lagu ini rasanya seperti diajak ngobrol sama teman lama di pinggir jalan sambil minum kopi sachet. Nggak ada kesan menggurui, nggak ada kesan sok kuat. Gita cuma bilang, "Eh, gue juga takut lho jadi gede. Ternyata dunia orang dewasa itu serem, ya?" Kejujuran semacam inilah yang bikin pendengarnya merasa dipeluk. Di tangan Idgitaf, kerentanan (vulnerability) bukan sebuah kelemahan, melainkan sebuah karya seni yang sangat indah.
Transformasi Menuju "Mengudara"
Setelah sukses dengan beberapa single yang viral, Idgitaf nggak mau terjebak di zona nyaman sebagai "penyanyi TikTok". Dia serius menggarap karirnya dengan merilis album penuh berjudul "Mengudara". Di album ini, kita bisa melihat pendewasaan Gita sebagai seorang musisi. Kalau dulu dia banyak bicara soal rasa takut, di album ini dia mulai bicara soal penerimaan dan bagaimana caranya "sembuh".
Coba dengarkan lagu "Satu-Satu". Lagu ini belakangan sering banget seliweran di media sosial sebagai latar musik video-video healing atau cerita tentang bangkit dari keterpurukan. Liriknya yang berbunyi "Aku sudah tak marah, walau masih teringat," itu dalam banget, lho. Itu adalah level tertinggi dari sebuah kedewasaan: ketika kita sudah bisa berdamai dengan masa lalu tanpa harus melupakannya. Lewat lagu-lagu seperti ini, Idgitaf memposisikan dirinya bukan sekadar penyanyi pop, tapi sebagai sahabat bagi generasinya.
Gaya Nyentrik yang Apa Adanya
Satu hal lagi yang bikin Idgitaf menarik adalah personanya yang sangat membumi. Dia sering tampil dengan pakaian yang warna-warni, gaya rambut yang kadang unik, dan tanpa makeup yang berlebihan. Dia menunjukkan kalau untuk jadi bintang, kamu nggak perlu jadi orang lain yang terlihat sempurna seperti boneka porselen. Keaslian (authenticity) adalah komoditas mahal di zaman sekarang, dan Gita punya itu secara alami.
Dia juga sangat vokal dalam berinteraksi dengan penggemarnya. Dia nggak ragu buat berbagi cerita tentang proses kreatifnya yang kadang penuh tekanan, atau sekadar membagikan momen-momen konyol di belakang panggung. Kedekatan ini yang membuat basis penggemarnya sangat loyal. Mereka merasa memiliki koneksi personal dengan sosok di balik layar ponsel tersebut.
Kenapa Kita Butuh Lebih Banyak Musisi Seperti Idgitaf?
Di tengah gempuran musik yang hanya mengejar angka streaming atau tren joget sesaat, kehadiran Idgitaf adalah napas segar. Dia membuktikan bahwa lirik yang puitis tapi tetap relate dengan bahasa sehari-hari masih punya tempat di hati pendengar. Dia membawa kembali esensi dari musik sebagai sarana katarsis—tempat kita menaruh segala beban pikiran yang sulit keluar lewat kata-kata biasa.
Idgitaf adalah bukti nyata bahwa talenta yang lahir dari platform digital bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang solid dan berjangka panjang asal punya kualitas dan integritas. Dia bukan cuma sekadar viral, dia adalah sebuah fenomena budaya bagi anak muda Indonesia saat ini. Jadi, buat kalian yang mungkin lagi merasa dunia sedang nggak berpihak, coba deh dengerin satu atau dua lagu Idgitaf. Siapa tahu, lewat suaranya yang menenangkan itu, kalian bisa menemukan sedikit kekuatan buat menghadapi hari esok, meski masih sambil takut-takut sedikit.
Kesimpulannya, Idgitaf adalah potret seniman masa kini yang cerdas, peka, dan berani jujur. Dia adalah kawan bagi mereka yang merasa "terpikat" pada masa lalu tapi ingin terus "mengudara" ke masa depan. Dan kita semua, rasanya masih ingin terus mendengarkan apa lagi yang akan dia ceritakan selanjutnya.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
20 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
20 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
21 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
21 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
21 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
21 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
21 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
21 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
24 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
22 days ago





