Cara Ampuh Atasi Mata Lengket Saat Dengar Imsak
Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 27 February 2026 | 05:00 PM


Imsak Bukan Kiamat Kecil: Seni Tetap Kalem Saat Sirine Masjid Mulai Bunyi
Bayangkan skenario ini: Kamu terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, mata masih lengket, dan kesadaran baru mencapai sepuluh persen. Tiba-tiba, suara sirine dari pengeras suara masjid tetangga meraung panjang, disusul suara bariton bapak-bapak pengurus takmir yang mengumumkan dengan penuh wibawa: "Imsaaak, imsaaaak!"
Seketika itu juga, suasana rumah yang tadinya tenang berubah jadi lokasi syuting film aksi. Kakakmu lari ke dapur kayak dikejar debt collector, ibumu sibuk menuangkan air putih seolah-olah besok dunia bakal kekeringan, dan kamu sendiri mendadak punya kekuatan super untuk mengunyah rendang tanpa perlu dikunyah tiga puluh dua kali. Semua orang panik. Semua orang merasa waktu telah habis.
Padahal, kalau kita mau jujur dan sedikit lebih santai, imsak itu bukanlah "titik mati" di mana gerbang makanan tertutup rapat dan malaikat pencatat amal langsung menutup buku menu sahur kita. Fenomena panik imsak ini sebenarnya adalah warisan budaya kolektif yang unik di Indonesia, tapi kalau dipikir-pikir lagi, seringkali malah bikin ibadah kita jadi terasa grasak-grusuk dan nggak estetik sama sekali.
Imsak Itu Lampu Kuning, Bukan Lampu Merah
Secara teknis dan syariat, batas kita berhenti makan dan minum itu adalah waktu Subuh, alias saat fajar shadiq menyingsing. Imsak, yang biasanya ditetapkan sepuluh menit sebelum Subuh di Indonesia, sebenarnya adalah "early warning system". Fungsinya mirip lampu kuning di lampu merah; kita disuruh bersiap-siap buat ngerem, bukan malah tancap gas sampai mesin jebol atau malah berhenti mendadak di tengah jalan.
Kenapa ada imsak? Ya biar kita punya waktu buat sikat gigi, cuci muka, atau sekadar minum segelas air putih terakhir tanpa perlu keselek. Tapi entah kenapa, di mindset banyak orang kita, imsak itu dianggap sebagai garis finish. Begitu sirine bunyi, ada ketakutan eksistensial kalau satu butir nasi yang masuk setelah suara itu bakal membatalkan puasa. Padahal, ya nggak gitu juga konsepnya, Malih!
Kepanikan ini seringkali berujung pada perilaku yang agak ajaib. Ada yang minum air sampai satu galon dalam waktu dua menit—yang alih-alih bikin terhidrasi, malah bikin perut kembung dan bolak-balik ke kamar mandi tiap sepuluh menit. Ada juga yang memaksakan makan gorengan panas-panas sampai lidahnya melepuh. Alhasil, pagi harinya bukan segar yang didapat, malah sariawan dan perut mulas.
Seni Sahur "Slow Living"
Untuk bisa tetap kalem meski imsak sudah berkumandang, kuncinya cuma satu: manajemen waktu yang nggak amburadul. Masalahnya, banyak dari kita yang punya hobi "scrolling" TikTok atau Instagram sampai jam dua pagi, lalu baru tidur dan berharap bisa bangun jam setengah empat dengan segar bugar. Realitanya? Kita bangun jam empat lewat lima menit, tepat saat suara "imsak" mulai mengalun merdu.
Coba deh, sekali-kali terapkan gaya hidup sahur yang lebih manusiawi. Siapkan makanan di malam hari. Kalau kamu tipe orang yang nggak bisa masak ribet di pagi hari, stoklah makanan yang tinggal dipanaskan atau setidaknya sudah dipotong-potong bahannya. Jadi, pas bangun, kamu nggak perlu lagi drama nyari ulekan yang entah sembunyi di mana.
Kalau kita tenang, sistem pencernaan juga bakal berterima kasih. Makan dengan santai bikin nutrisi terserap lebih baik. Lagipula, apa gunanya sahur kalau setelah makan kita malah merasa mau muntah karena kekenyangan yang dipaksakan akibat buru-buru?
Menghadapi Imsak dengan Kedewasaan Spiritual
Ada pendapat menarik dari beberapa ulama yang menyebutkan bahwa esensi imsak adalah kehati-hatian (ihtiyat). Tapi kehati-hatian itu beda tipis sama ketakutan yang berlebihan. Kalau kamu memang baru bangun pas imsak, ya sudah, jangan lari-larian. Ambil nasi secukupnya, lauk yang simpel, dan makanlah dengan tenang. Kamu masih punya waktu sekitar sepuluh menit sampai azan Subuh berkumandang.
Gunakan waktu imsak itu untuk hal-hal yang lebih bermakna daripada sekadar adu cepat masukin karbohidrat ke mulut. Mungkin bisa dipakai buat istighfar, atau sekadar duduk tenang sambil meresapi betapa nikmatnya masih dikasih kesempatan buat puasa lagi tahun ini. Suasana sunyi di waktu imsak itu sebenarnya syahdu banget kalau nggak dirusak sama suara piring yang beradu karena kepanikan.
Observasi kecil saya, orang-orang yang panik saat imsak biasanya adalah mereka yang kurang persiapan secara mental. Mereka memandang puasa sebagai beban "menahan lapar" daripada sebuah proses detoksifikasi jiwa dan raga. Kalau kita memandang sahur sebagai berkah, kita nggak bakal mau merusaknya dengan emosi negatif kayak panik atau marah-marah karena lauknya masih panas.
Kesimpulan: Tarik Napas, Minum Pelan-pelan
Jadi, besok-besok kalau denger sirine imsak, nggak perlu lah itu akrobat lari dari tempat tidur ke meja makan. Tetaplah kalem. Tarik napas panjang. Ingat, kamu bukan lagi ikut lomba makan cepat di acara 17 Agustusan. Kamu sedang mempersiapkan diri untuk ibadah seharian penuh. Ketenangan adalah kunci agar energi kita nggak habis di awal hari cuma gara-gara stres mikirin waktu imsak.
Lagipula, Tuhan itu Maha Baik. Dia nggak bakal menghukum hambanya yang cuma gara-gara telat menelan sebutir nasi saat azan baru mulai dikumandangkan—meskipun ya jangan disengaja juga setiap hari. Intinya, hargai waktu imsak sebagai pengingat, bukan sebagai momok yang menakutkan.
Sahur itu ibadah yang penuh berkah, maka jemputlah berkah itu dengan cara yang elegan. Bukan dengan cara gelagapan kayak orang yang baru aja liat mantan jalan sama gebetan baru. Tetap santuy, tetap kenyang, dan selamat menjalankan ibadah puasa dengan kepala dingin!
Next News

Festival Bamboo Rafting Loksado 2026, Sensasi Menyusuri Sungai Amandit dengan Rakit Bambu di Pegunungan Meratus
2 months ago

Westlife: Rahasia Kenapa Mas-Mas Irlandia Ini Masih Jadi Juara di Hati Kita
2 months ago

Bukan Sekadar Boyband, Westlife Adalah Definisi Tongkrongan yang Menolak Bubar
2 months ago

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
2 months ago

Nostalgia Meteor Garden: Cerita di Balik Terbentuknya F4 yang Pernah Mengacak-acak Hati Kita
2 months ago

Nostalgia F4: Menelusuri Jejak Para Pangeran Meteor Garden yang Kini Sudah Senior
2 months ago

Westlife: Bukan Sekadar Modal Kursi Bar dan Wajah Tampan, Ini Sisi Lain yang Jarang Terungkap
2 months ago

Nostalgia Tipis-Tipis: Deretan Album Westlife Terbaik yang Wajib Masuk Playlist Kamu
2 months ago

Fenomena F4: Saat Seluruh Indonesia Terkena Demam Meteor Garden
2 months ago

Westlife: Kenapa Boyband 'Bapak-Bapak Wangi' Ini Tetap Jadi Juara di Hati Orang Indonesia?
2 months ago





