Sabtu, 14 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Dari Es Kopi ke Gibah: Mengapa Kita Hobi Bahas Urusan Orang?

Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 27 February 2026 | 03:00 AM

Background
Dari Es Kopi ke Gibah: Mengapa Kita Hobi Bahas Urusan Orang?
Ilustrasi mengobrol bersama teman (Pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Seni Menutup Mulut: Kenapa Berhenti Menggosip Itu Healing yang Sesungguhnya

Bayangkan situasinya seperti ini: Kamu lagi nongkrong santai di coffee shop yang estetik, pesanan es kopi susu gula aren sudah di tangan, dan tiba-tiba salah satu temanmu mencondongkan badan ke depan dengan mata berbinar-binar. Kalimat saktinya keluar: "Eh, kalian sudah dengar belum soal si X? Katanya sih ya..." Boom. Dalam sekejap, atmosfer meja berubah. Dari yang tadinya bahas rencana liburan atau keluh kesah pekerjaan, tiba-tiba berubah jadi sidang pleno bahas urusan hidup orang lain.

Menggosip, atau istilah kerennya sekarang 'spill the tea', memang sudah jadi semacam olahraga nasional yang nggak butuh keringat tapi bikin ketagihan. Rasanya tuh ada sensasi menggelitik di dada saat kita tahu sebuah rahasia atau keburukan orang lain yang belum diketahui publik. Ada rasa 'power' tersendiri karena kita memegang informasi. Tapi jujur saja, pernah nggak sih kamu merasa capek sendiri setelah sesi gibah marathon selama tiga jam? Ada perasaan hampa, sedikit rasa bersalah, dan tiba-tiba muncul rasa insecure: "Kalau tadi kita ngomongin si X, jangan-jangan kalau aku nggak ada, mereka ngomongin aku juga?"

Kenapa Kita Hobi Banget Ngurusin Hidup Orang?

Secara psikologis, gosip itu sebenarnya cara manusia purba untuk bonding. Dulu, nenek moyang kita perlu tahu siapa yang bisa dipercaya di dalam kelompok. Tapi di zaman sekarang, fungsinya bergeser jadi alat validasi diri. Saat kita membicarakan kegagalan orang lain, secara tidak sadar ego kita merasa lebih baik. "Untung hidupku nggak seberantakan dia," pikir kita. Jahat memang, tapi itulah cara otak kita bekerja kalau tidak dijaga.

Masalahnya, gosip itu seperti micin. Enak di lidah, bikin nagih, tapi kalau kebanyakan bisa bikin pusing dan nggak sehat buat kesehatan mental. Terlalu sering ikut campur dalam drama orang lain cuma bakal bikin energi kita terkuras habis. Padahal, energi itu bisa dipakai buat hal-hal yang lebih berfaedah, misalnya belajar skill baru, scroll TikTok cari resep masakan, atau sesederhana tidur siang dengan tenang tanpa beban pikiran.

Langkah Takis Biar Nggak Terjebak Lingkaran Setan Gibah

Berhenti menggosip itu susah-susah gampang, apalagi kalau circle pertemanan kita tipikalnya 'lambe turah' banget. Tapi, bukan berarti nggak bisa dilakukan. Langkah pertama yang paling ampuh adalah dengan mempraktikkan teknik "Alihkan Isu". Pas temanmu sudah mulai memancing dengan kalimat "Eh, si itu kok sekarang gitu ya?", kamu bisa langsung menimpali dengan hal random. Misalnya, "Eh iya ya? Eh bentar, eh lo liat nggak promo di e-commerce tadi pagi? Gila sih diskonnya!"

Memang bakal terasa canggung di awal. Kamu mungkin bakal dicap "nggak asik" atau "sok suci". Tapi percayalah, menjadi orang yang membosankan untuk diajak menggosip adalah sebuah pencapaian. Kalau kamu konsisten nggak memberikan respons yang antusias saat ada gosip baru, perlahan orang-orang akan berhenti menjadikanmu tempat 'sampah' informasi mereka. Mereka bakal tahu kalau dilempar gosip ke kamu, nggak bakal ada umpan balik yang seru. Dan itu adalah hal yang bagus!

Gunakan Filter Tiga Lapis

Kalau kamu tipikal orang yang suka mikir sebelum bicara, coba pakai metodenya Socrates yang legendaris itu. Sebelum menyebarkan atau mendengarkan sebuah berita, lewatkan dulu di tiga saringan. Pertama, apakah ini benar? Kalau cuma katanya-katanya atau dapet dari grup WhatsApp keluarga yang nggak jelas sumbernya, mending skip. Kedua, apakah ini baik? Kalau isinya cuma menelanjangi aib orang, buat apa? Ketiga, apakah ini berguna? Kalau tahu si X putus sama pacarnya nggak bikin saldo ATM-mu bertambah atau bikin skripsimu selesai, ya sudah, tutup telinga saja.

Menghindari gosip juga soal membangun empati. Coba deh posisikan dirimu jadi objek pembicaraan. Rasanya nggak enak banget kan kalau hal-hal privatmu dikuliti di meja makan orang lain sambil ketawa-ketiwi? Dengan berhenti menggosip, kita sebenarnya sedang belajar menghargai privasi orang lain dan, secara otomatis, menjaga kualitas karakter kita sendiri.

Healing yang Sebenarnya Adalah Ketenangan Pikiran

Banyak orang bilang pengen 'healing' dengan pergi ke Bali atau staycation di hotel mewah, tapi setelah pulang mereka tetap merasa stres karena lingkungan pertemanannya toxic dan penuh gosip. Padahal, healing yang paling murah dan efektif adalah dengan membersihkan timeline hidup kita dari drama-drama nggak penting. Ketika kita berhenti mengurusi hidup orang, dunia terasa jauh lebih luas. Kita nggak lagi terbebani dengan rasa benci atau prasangka ke orang yang bahkan mungkin nggak kita kenal dekat.

Jadi, yuk mulai sekarang kurangi porsi "spill the tea" dan perbanyak porsi "spill the dreams". Alihkan pembicaraan dari "siapa ngapain sama siapa" menjadi "besok kita mau bikin apa". Circle yang berkualitas nggak dibangun dari seberapa banyak aib orang yang kalian tahu, tapi dari seberapa banyak dukungan dan ide positif yang kalian bagi. Ingat, mulutmu harimaumu, tapi kalau diam atau bicara hal baik, mulutmu bisa jadi sumber ketenanganmu. Hidup sudah berat, jangan ditambah beban dengan ngurusin urusan orang lain yang nggak ada ujungnya.

Stay cool, stay positive, dan biarkan hidup orang lain jadi urusan mereka masing-masing. Fokus saja ke diri sendiri, karena di akhir hari, yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu ya cuma kamu, bukan gosip terbaru tentang selebgram atau teman kantor yang gaya hidupnya mencurigakan itu.

Tags