Diskoria: Duo Pemutar Piringan Hitam yang Bikin Kita Semua Mendadak Retro
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 22 March 2026 | 01:00 AM


Bayangkan kamu sedang berada di sebuah kelab malam di Jakarta Pusat. Lampu remang-remang, kepulan uap vape di mana-mana, dan aroma parfum mahal bercampur aduk. Biasanya, telinga kita bakal dihajar musik EDM yang dentumannya bikin jantung serasa mau copot, atau paling banter lagu-lagu Top 40 yang diputar berulang-ulang sampai bosan. Tapi malam itu beda. Tiba-tiba, intro lagu "Galih dan Ratna" berkumandang. Dalam sekejap, lantai dansa yang tadinya penuh orang bergaya cool berubah jadi lautan manusia yang sing-along dengan penuh penghayatan.
Siapa dalangnya? Siapa lagi kalau bukan Diskoria. Duo yang digawangi oleh Merdi Simanjuntak dan Fadli Aat ini sukses melakukan sesuatu yang tadinya dianggap mustahil: membuat anak muda zaman sekarang bangga joget pakai lagu-lagu lawas Indonesia. Mereka bukan sekadar DJ yang asal pencet tombol "play" di laptop, mereka adalah kurator sejarah yang dibungkus dengan estetika modern.
Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Soal Rasa
Kalau kita tarik ke belakang, Diskoria ini muncul sebagai antitesis dari tren musik yang seragam. Merdi dan Aat berangkat dari hobi yang sama, yaitu mengoleksi piringan hitam alias vinyl. Mereka adalah "diggers" sejati yang rela blusukan ke pasar loak demi mencari harta karun berupa rilisan fisik musisi legendaris Indonesia tahun 70-an dan 80-an. Sebut saja nama-nama besar seperti Fariz RM, Chrisye, hingga Dian Pramana Poetra.
Awalnya, mungkin banyak yang sinis. "Halah, paling cuma jualan nostalgia," begitu kira-kira cibiran orang-orang skeptis. Tapi jujurly, Diskoria membuktikan kalau mereka punya visi yang lebih dalam dari itu. Mereka nggak cuma memutar lagu lama, mereka membangun atmosfer. Lewat koleksi vinyl-nya, mereka memperkenalkan genre City Pop versi lokal yang dulu sempat merajai radio-radio tanah air. Ternyata, musik Indonesia era dulu itu canggih banget, gais! Aransemennya megah, liriknya puitis tapi nggak cheesy, dan yang paling penting, groove-nya itu dapet banget buat goyang tipis-tipis.
Ledakan Kolaborasi: Dari Dian Sastro Hingga C.H.R.I.S.Y.E.
Puncak kejayaan Diskoria di kancah arus utama dimulai ketika mereka mulai merilis karya orisinal yang berkolaborasi dengan musisi masa kini. Ingat lagu "Serenata Jiwa Lara"? Itu adalah momen jenius. Mengajak Dian Sastrowardoyo—yang kita kenal sebagai aktris papan atas dan ikon kecantikan—untuk bernyanyi adalah strategi yang brilian. Lagunya terdengar sangat retro, seolah-olah ditarik langsung dari mesin waktu tahun 1984, tapi entah kenapa tetap terasa relevan diputar di Spotify tahun 2020.
Tak berhenti di situ, kolaborasi mereka dengan Laleilmanino dan Eva Celia dalam lagu "C.H.R.I.S.Y.E." benar-benar meledak di mana-mana. Lagu itu jadi anthem wajib di setiap pesta, pernikahan, bahkan di mall-mall. Diskoria berhasil menciptakan sebuah jembatan antar-generasi. Di satu sisi, orang tua kita bakal senyum-senyum sendiri dengar musiknya karena teringat masa muda, sementara di sisi lain, anak Gen Z merasa musik ini "vintage" dan estetik banget buat dijadikan latar video TikTok.
Kenapa Diskoria Begitu Diterima Anak Skena?
Mungkin kamu bertanya-tanya, kok bisa sih musik "jadoel" begini jadi tren di kalangan anak skena yang biasanya sangat pilih-pilih soal selera? Ada beberapa pengamatan menarik di sini:
- Estetika Visual: Diskoria tahu betul cara mengemas penampilan. Dari mulai pemilihan font di poster acara sampai gaya berpakaian mereka yang khas pria-pria mapan era 80-an dengan kemeja berpola dan potongan rambut rapi.
- Suara Disko: Kolektif ini bukan cuma soal dua orang DJ, tapi sebuah gerakan. Mereka menciptakan ekosistem bernama "Suara Disko" yang menjadi wadah bagi para pecinta musik lokal untuk berkumpul tanpa merasa kuno.
- Kualitas Produksi: Meskipun terdengar retro, kualitas audio yang dihasilkan tetap jernih dan sesuai standar modern. Mereka nggak cuma sekadar "copy-paste", tapi melakukan re-interpretasi terhadap sound masa lalu.
Secara tidak langsung, Diskoria juga menumbuhkan rasa bangga terhadap produk budaya dalam negeri. Kita sering kali mendewakan City Pop Jepang seperti lagu-lagu Mariya Takeuchi, padahal di gudang rumah kakek kita, mungkin tersimpan rekaman-rekaman dari musisi kita sendiri yang kualitasnya nggak kalah gahar. Diskoria adalah pengingat bahwa kita punya warisan musik yang sangat keren.
Efek Diskoria: Lantai Dansa yang Lebih Manusiawi
Menonton penampilan Diskoria itu beda rasanya dengan menonton DJ EDM luar negeri yang penuh dengan kembang api dan teriakan "put your hands up". Bersama Diskoria, suasananya lebih intim dan manusiawi. Kamu akan melihat orang-orang berdansa secara organik, tertawa bersama teman, dan yang paling penting: semua orang ikut bernyanyi. Ada rasa kebersamaan (sense of belonging) yang muncul ketika satu ruangan kompak menyanyikan lirik lagu lawas yang ternyata masih hafal di luar kepala.
Fenomena ini juga membuat banyak produser musik lain mulai berani bereksperimen dengan elemen retro. Sekarang, kita jadi sering dengar sound synthesizer ala 80-an muncul di lagu-lagu pop baru. Bisa dibilang, Diskoria adalah salah satu pemicu utama kenapa industri musik kita jadi lebih berwarna dan nggak cuma berisi lagu galau menye-menye yang itu-itu saja.
Penutup: Terus Berdansa Sebelum Zaman Berubah
Pada akhirnya, Diskoria bukan cuma soal tren sesaat. Mereka adalah pengingat bahwa musik yang bagus tidak akan pernah kedaluwarsa. Mereka berhasil membuktikan bahwa untuk menjadi keren, kita nggak selalu harus berkaca pada apa yang sedang hits di Amerika atau Korea Selatan. Kadang, kita cuma perlu menoleh ke belakang, membongkar tumpukan kaset lama di gudang, dan menemukan jati diri kita di sana.
Jadi, kalau nanti malam kamu bingung mau nongkrong di mana, coba cari tahu jadwal Diskoria. Siapkan sepatu dansamu, pakai kemeja paling vintage yang kamu punya, dan bersiaplah untuk terhanyut dalam lantunan nada yang bikin hati hangat sekaligus kaki nggak bisa diam. Karena seperti kata mereka dalam lagu-lagunya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan tanpa berdansa. Mari kita rayakan musik Indonesia, dulu, sekarang, dan selamanya.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
14 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
14 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
15 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
15 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
15 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
15 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
15 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
15 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
18 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
16 days ago





