Kamis, 16 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Gaya Santai Ed Sheeran: Mirip Sepupu Main Gitar Tapi Punya Triliunan

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 01:00 PM

Background
Gaya Santai Ed Sheeran: Mirip Sepupu Main Gitar Tapi Punya Triliunan
Ed Sheeran (Instagram/Ed Sheeran)

Si "Mas-Mas" Biasa yang Menaklukkan Dunia: Membedah Sosok Ed Sheeran

Kalau kita melihat Ed Sheeran berjalan di trotoar London atau mungkin sedang mampir di warung kopi pinggiran, mungkin nggak banyak yang bakal menyangka kalau pria berambut oranye ini adalah salah satu manusia paling kaya di industri musik global. Penampilannya itu, lho, jauh banget dari kesan megah ala bintang pop macam Harry Styles yang fashionable atau Justin Bieber yang penuh swag. Ed Sheeran lebih terlihat seperti sepupu jauhmu yang hobinya main gitar di pojokan saat lebaran, atau mungkin mas-mas biasa yang lebih suka pakai kaos oblong lusuh daripada jas Gucci.

Tapi justru di situlah letak sihirnya. Ed Sheeran adalah antitesis dari segala aturan main industri musik modern yang menuntut kesempurnaan visual. Dia membuktikan bahwa modal suara "enak", lirik yang "ngena", dan sebuah loop station sudah lebih dari cukup untuk membuat jutaan orang menangis sekaligus jatuh cinta di saat yang bersamaan.

Dari Tidur di Kereta Bawah Tanah Hingga Panggung Wembley

Kisah hidup Ed itu ibarat naskah film Hollywood tentang underdog yang akhirnya menang banyak. Lahir dengan nama Edward Christopher Sheeran di Halifax, Inggris, masa kecilnya nggak bisa dibilang mulus-mulus amat. Dia punya masalah gagap saat bicara dan tanda lahir di wajah yang membuatnya sering jadi sasaran empuk perundungan di sekolah. Bayangkan, anak kecil yang gagap tapi pengen jadi penyanyi? Kedengarannya mustahil, kan? Tapi ya itulah takdir, seringkali suka bercanda.

Ed menemukan "obat" gagapnya melalui album Eminem. Dia menghafal setiap kata dari lagu-lagu rapper tersebut, yang secara nggak langsung melatih artikulasi bicaranya. Dari situ, kecintaannya pada musik makin gila. Di usia remaja, dia nekat pindah ke London cuma bermodal gitar dan ambisi yang mungkin lebih besar dari dompetnya. Kabarnya, dia pernah merasakan tidur di kereta bawah tanah atau sofa teman karena nggak punya uang buat bayar sewa. Dia benar-benar menjalani definisi hustling yang sebenarnya; main dari bar kecil ke bar lainnya, kadang cuma di depan lima orang yang bahkan nggak peduli dia ada di sana.

Titik baliknya datang lewat platform digital dan bantuan mendiang Jamal Edwards melalui SBTV. Di saat label rekaman besar menolaknya karena dianggap "terlalu putih, terlalu oranye, dan nggak menjual," internet justru jatuh cinta padanya. Ketika Jamie Foxx—ya, aktor pemenang Oscar itu—melihat bakat Ed dan mengundangnya tinggal di rumahnya di Los Angeles, dunia mulai sadar kalau bocah ini bukan sekadar pengamen biasa.

Sihir Loop Station dan Lagu yang "Kita Banget"

Salah satu hal yang bikin Ed Sheeran beda dari solois lainnya adalah kemampuannya "menyulap" panggung sendirian. Kalau kamu nonton konsernya, jangan harap ada band pengiring yang lengkap dengan puluhan pemain perkusi. Biasanya, dia cuma sendirian. Rahasianya ada di loop station. Dia merekam ketukan gitar sebagai drum, harmoni vokal, lalu memainkannya berulang-ulang secara live hingga tercipta aransemen musik yang penuh. Teknik ini bukan cuma soal skill, tapi soal keberanian buat salah di depan puluhan ribu orang.

Tapi, alat secanggih apa pun nggak bakal laku kalau lagunya nggak punya "nyawa". Ed itu jenius dalam menangkap momen receh tapi emosional dalam kehidupan sehari-hari. Dia bisa bikin lagu tentang cewek yang bau alkohol dan keripik di taksi (Castle on the Hill) atau romansa sederhana di bar (Shape of You). Liriknya nggak pernah pakai kosa kata yang bikin kita harus buka kamus. Sederhana, jujur, dan seringkali terasa seperti curhatan teman dekat.

Makanya nggak heran kalau lagu macam "Thinking Out Loud" atau "Perfect" jadi lagu wajib di setiap resepsi pernikahan di seluruh dunia, termasuk di gedung serbaguna dekat rumahmu. Ed tahu betul cara memeras emosi pendengarnya tanpa terkesan maksa.

Tetap Membumi di Tengah Gempuran Dollar

Hal menarik lainnya dari Ed adalah kepribadiannya yang anti-diva. Di saat artis lain sibuk pamer jet pribadi atau konflik di media sosial, Ed malah sempat menghilang dari peradaban (hiatus) buat keliling dunia dan menikmati hidup tanpa ponsel. Dia menikah dengan teman masa kecilnya, Cherry Seaborn, dan memilih tinggal di pedesaan daripada di pusat hiruk-pikuk selebriti Hollywood.

Meskipun sering dihantam kritik karena musiknya dianggap "terlalu komersial" atau dituduh menjiplak karya orang lain (yang semuanya berhasil dia patahkan di pengadilan), Ed seolah nggak ambil pusing. Dia tetap konsisten merilis album dengan judul simbol matematika—+, x, ÷, dan =—yang semuanya sukses besar secara finansial. Dia membuktikan kalau jadi orang baik dan tetap rendah hati itu nggak bakal menghalangi kita buat jadi sukses.

Melihat perjalanan Ed Sheeran, kita diingatkan bahwa penampilan luar itu cuma bungkus. Dia adalah bukti nyata bahwa talenta yang dibarengi dengan kerja keras yang "ngoyo" bakal membuahkan hasil. Ed Sheeran bukan cuma sekadar penyanyi; dia adalah simbol bagi setiap anak yang merasa aneh, gagap, atau nggak cocok dengan standar kecantikan dunia, bahwa mereka pun punya kesempatan untuk mengguncang dunia.

Jadi, kalau besok-besok kamu merasa minder karena nggak se-ganteng atau se-keren orang-orang di Instagram, ingatlah Ed Sheeran. Mas-mas berambut oranye yang dulunya gagap dan tunawisma, sekarang adalah orang yang suaranya didengarkan oleh milyaran telinga setiap harinya. Selama kamu punya "gitar" versimu sendiri dan kemauan buat terus memetiknya, segalanya mungkin saja terjadi.