Sabtu, 14 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Keroncong: Musik yang Katanya 'Tua', Padahal Kerennya Nggak Ada Obat

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 01 March 2026 | 07:00 AM

Background
Keroncong: Musik yang Katanya 'Tua', Padahal Kerennya Nggak Ada Obat
Bernyanyi (Freepik/diana.grytsku)

Pernah nggak sih lo lagi lewat di depan teras rumah orang tua atau kakek-nenek, terus denger suara petikan ukulele yang ritmenya agak ganjil tapi nagih? Suara yang mendayu-dayu, ada suara suling yang meliuk-liuk, terus vokal penyanyinya punya cengkok yang lebih ribet daripada nyari parkiran di Senopati pas malam Minggu. Kalau iya, selamat, lo baru saja bersinggungan dengan keroncong, genre musik yang sering kali dicap "musik nina bobo" atau "musiknya orang sepuh".

Tapi, tunggu dulu. Sebelum lo keburu nge-skip artikel ini dan balik dengerin playlist techno atau indie-pop andalan lo, mending kita bongkar dulu kenapa keroncong itu sebenarnya punya level keren yang beda. Dia bukan sekadar musik pengantar tidur, tapi adalah bentuk pemberontakan budaya yang paling halus dan paling "kalcer" yang pernah dimiliki Indonesia.

Dari Pelaut Portugis Sampai ke Kampung Tugu

Kalau kita ngomongin sejarah, keroncong ini sebenarnya adalah musik blasteran. Dia nggak murni lahir dari tanah Jawa, tapi hasil "collab" yang nggak sengaja antara pelaut Portugis sama warga lokal di abad ke-16. Bayangin aja, para budak dari Afrika dan India yang dibawa Portugis bawa instrumen kecil namanya braguinha (nenek moyangnya ukulele). Di sela-sela waktu istirahat mereka di daerah Cilincing, Jakarta Utara—yang sekarang kita kenal sebagai Kampung Tugu—mereka main musik buat ngilangin penat.

Penduduk lokal yang denger suara "crong-crong-crong" dari alat musik itu akhirnya nyebut genre ini sebagai "keroncong". Simpel banget, kan? Nggak perlu pake istilah teori musik yang jelimet. Dari situ, keroncong berevolusi. Dia masuk ke pinggiran kota, diserap oleh masyarakat kelas bawah, sampai akhirnya naik kasta jadi musik yang dipuja-puja di era perjuangan. Bayangin, lagu "Bengawan Solo" karya Pak Gesang itu bahkan sampai terkenal ke Jepang. Itu kalau zaman sekarang mungkin udah dibilang "go international" dan trending di Spotify Global.

Rumitnya di Balik Suara yang Santai

Masalahnya begini: banyak orang, terutama anak muda zaman sekarang, nganggep keroncong itu ngebosenin karena temponya yang lambat. Padahal kalau lo bedah instrumennya satu-satu, lo bakal sadar kalau keroncong itu sebenarnya progresif banget. Di keroncong, nggak ada drum. Peran drum digantikan sama betotan double bass yang dipetik dengan teknik "pizzicato" dan suara "cak-cuk" dari ukulele.

Ukulele di keroncong itu punya tugas berat. Ada yang namanya "cak" (ukulele dengan senar logam) dan "cuk" (senar nilon). Keduanya harus saling sahut-sahutan buat ngejaga ritme. Kalau salah satu meleng sedikit aja, rontok semua aransemennya. Ini tuh ibarat main Mobile Legends tapi support-nya nggak peka, ya bubar war-nya. Belum lagi suara flutenya yang harus bisa improvisasi kayak burung berkicau. Jadi, kalau ada yang bilang keroncong itu gampang, coba suruh mereka mainin satu lagu aja tanpa fals, pasti langsung keringet dingin.

Stereotip 'Musik Orang Tua' yang Perlu Direvisi

Gue paham banget kenapa keroncong sering dianggap kuno. Penampilannya sering kali kaku: pakai kebaya, sanggul, atau batik rapi, berdiri tegak di atas panggung tanpa banyak gaya. Sangat kontras sama konser musik masa kini yang penuh kembang api atau moshpit. Tapi, kalau lo coba dengerin pakai telinga yang lebih terbuka, ada vibe melankolis yang jujur banget di sana. Keroncong itu musik yang "tahu diri". Dia nggak perlu teriak-teriak buat nunjukin rasa sakit atau jatuh cinta.

Sebenarnya, belakangan ini mulai muncul gerakan-gerakan keren dari musisi muda buat "memperbudak" kembali keroncong. Ada grup-grup kayak Krontjong Toegoe yang masih setia sama pakem asli tapi tetep terasa segar. Ada juga yang lebih berani kayak Keroncong Plesetan atau bahkan beberapa band indie yang nyelipin unsur keroncong di lagu-lagu mereka. Mereka sadar kalau keroncong itu adalah identitas. Di tengah gempuran musik K-Pop atau EDM yang serba digital, dengerin instrumen akustik yang dimainkan secara presisi itu rasanya kayak minum es teh manis di tengah cuaca Jakarta yang lagi panas-panasnya: adem banget.

Keroncong dan Masa Depan Kita

Jujur aja, kita nggak bisa maksa semua anak muda buat mendadak suka keroncong. Selera musik itu masalah personal. Tapi, minimal kita jangan sampai kehilangan apresiasi sama genre ini. Keroncong itu bukti kalau bangsa kita punya kemampuan buat ngolah pengaruh asing jadi sesuatu yang sangat lokal dan punya karakter kuat.

Kalau lo lagi ngerasa hidup lagi capek-capeknya, coba deh sekali-kali dengerin "Walang Kekek" atau "Jembatan Merah" pas sore hari sambil ngopi. Rasain gimana tiap instrumennya bekerja sama buat bikin suasana jadi tenang. Keroncong itu adalah slow living dalam bentuk audio sebelum istilah itu jadi tren di media sosial.

Mungkin suatu saat nanti, kita bakal ngelihat festival musik keroncong yang penontonnya pakai sneakers dan tote bag, bukan cuma orang-orang yang pengen nostalgia masa lalu. Karena pada akhirnya, musik yang bagus nggak bakal pernah mati, dia cuma nunggu waktu buat ditemukan kembali sama generasi yang tepat. Jadi, gimana? Masih mau bilang keroncong itu cuma buat kakek-nenek lo? Coba dengerin lagi, siapa tahu lo malah nemu ketenangan yang selama ini nggak lo dapet dari playlist lo-fi beats lo itu.

Keroncong itu bukan soal masa lalu, tapi soal bagaimana kita menikmati waktu dengan cara yang paling elegan. Dan jujur aja, nggak ada yang lebih "chill" daripada dengerin suara cuk yang ritmis di tengah hiruk pikuk dunia yang makin nggak masuk akal ini.

Tags