Ketika Kekaguman dan Obsesi Bertemu – Kultusan dari Sal Priadi
Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 14 February 2026 | 06:14 AM


Lagu "Kultusan" dari Sal Priadi (2020) menghadirkan nuansa cinta yang gelap, intens, dan penuh obsesi. Dari awal, liriknya menekankan perasaan yang kompleks: "Kutemukan jejak bibir kecilmu yang berkelana, jauh ke lekuk yang bukan leherku." Ungkapan ini menimbulkan kesan campuran antara kerinduan, kekaguman, dan ketertarikan yang tak bisa dijelaskan secara sederhana. Sal Priadi membangun atmosfer di mana cinta bukan hanya romantisme biasa, tapi sesuatu yang hampir memabukkan dan menguasai pikiran.
Obsesi terhadap orang yang dicintai menjadi tema utama lagu ini. Frasa seperti "Hingga mengingkarimu adalah hal yang mustahil" menegaskan intensitas perasaan yang ekstrem. Tidak hanya sekadar rindu atau sayang, tapi ada unsur pemujaan dan ketergantungan emosional yang mendalam. Di sini, Sal Priadi mengajak pendengar untuk merasakan sisi gelap cinta, yang terkadang bercampur dengan frustrasi, kemarahan, dan ketidakberdayaan menghadapi rasa tersebut.
Lagu ini juga sarat dengan metafora yang kuat dan simbolisme ritualistik: "Mungkin dikultuskan, dalam perjamuan, bulir darahku, namamu seorang." Kalimat ini memberi kesan bahwa hubungan dan perasaan bisa menjadi sesuatu yang sakral atau bahkan menyakiti diri sendiri secara emosional. Pemilihan kata yang berat dan intens memberi warna dramatis yang membuat pendengar merasakan keterasingan sekaligus keterikatan terhadap orang yang dikultuskan dalam perasaan mereka.
Selain itu, repetisi lirik memperkuat kesan obsesi yang berulang-ulang dan tak bisa lepas. Setiap baris seolah menegaskan kembali bahwa cinta bisa menjadi bagaikan ritual, di mana seseorang menyerahkan dirinya sepenuhnya, walau terkadang menyakitkan. Sal Priadi mampu menghadirkan ketegangan emosional yang memikat, sehingga pendengar seolah terbawa ke dalam pusaran perasaan yang ekstrem namun memikat.
Secara keseluruhan, "Kultusan" adalah eksplorasi cinta yang penuh intensitas dan obsesif, sebuah lagu yang menyoroti sisi gelap hubungan emosional. Dengan lirik yang dramatis dan simbolik, Sal Priadi menghadirkan pengalaman mendengar yang bukan hanya soal menikmati musik, tetapi juga merasakan kompleksitas psikologis dari perasaan manusia yang terperangkap antara kagum, rindu, dan ketergantungan emosional.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
15 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
15 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
16 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
16 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
16 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
16 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
16 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
16 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
19 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
17 days ago





