Makna Lagu Gugatan Rakyat Semesta – .Feast dan Seruan Perlawanan Kolektif
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 22 February 2026 | 10:38 AM


Lagu Gugatan Rakyat Semesta dari .Feast yang dirilis pada 2022 adalah salah satu karya paling eksplisit dalam menyuarakan perlawanan terhadap ketimpangan dan kemunafikan kekuasaan. Sejak baris pertama, lagu ini sudah terdengar seperti seruan aksi—bukan sekadar refleksi, melainkan ajakan untuk bergerak.
"Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan" adalah metafora yang kuat. Petir melambangkan energi, kemarahan, dan kekuatan. Ia tidak jinak, tidak bisa diremehkan. Lagu ini memanggil pendengar untuk menyatukan amarah menjadi daya dorong perubahan.
Lirik "Tanpa parasit yang makan lebih dari babi, tanpa kaki yang bersepatu semahal sapi" menyindir kesenjangan sosial dan kerakusan elite. Parasit menjadi simbol mereka yang hidup dari keringat orang lain. Sepatu mahal dan kastil yang "berpura-pura peduli" menggambarkan kekuasaan yang tampil ramah di depan publik, tetapi sesungguhnya jauh dari realitas rakyat.
Baris "Kau kepung kastil yang berpura-pura peduli, duduki atap hijau dan mereka kabur lari" bisa dibaca sebagai metafora pendudukan ruang kekuasaan. Atap hijau sering diasosiasikan dengan gedung parlemen. .Feast menyampaikan bahwa ketika rakyat bersatu, tembok kekuasaan tak lagi kebal.
Namun menariknya, lagu ini tidak mendorong pengorbanan membabi buta. "Ku tak memintamu tuk taruh nyawa di jalan, ku hanya bri tahu bahwa slalu ada jalan." Ini bukan ajakan nekat, melainkan ajakan sadar. Perubahan tidak harus selalu berarti mati di medan perjuangan, tetapi membutuhkan keseriusan dan konsistensi.
Bagian "Apapun yang kau percayai pasti hakiki, siapapun yang kau cintai kau dihargai" memperluas makna perjuangan. Ini bukan hanya soal politik, tetapi tentang hak hidup, hak mencintai, dan hak atas identitas. Lagu ini menempatkan perjuangan sebagai sesuatu yang universal—hak setiap manusia.
Kalimat "Kenyamanan hanya dipinjamkan sementara" menjadi pengingat bahwa stabilitas tanpa keadilan itu rapuh. Jika rakyat tidak mengambil peran, kenyamanan bisa sewaktu-waktu direnggut. Karena itu, mereka didorong untuk menunjukkan bahwa kekuasaan sejatinya ada di tangan kolektif.
Secara keseluruhan, Gugatan Rakyat Semesta adalah anthem perlawanan modern. Ia bukan hanya kritik, tetapi juga motivasi. Lagu ini menegaskan bahwa perubahan tidak datang dari menunggu waktu yang tepat—karena "tak ada waktu yang benar-benar tepat." Perubahan diciptakan oleh mereka yang mau merapatkan barisan dan menggenggam petir di tangan mereka sendiri.
Next News

Festival Bamboo Rafting Loksado 2026, Sensasi Menyusuri Sungai Amandit dengan Rakit Bambu di Pegunungan Meratus
3 months ago

Westlife: Rahasia Kenapa Mas-Mas Irlandia Ini Masih Jadi Juara di Hati Kita
3 months ago

Bukan Sekadar Boyband, Westlife Adalah Definisi Tongkrongan yang Menolak Bubar
3 months ago

Westlife: Dari Era Bangku Lipat ke Era Bapak-Bapak Estetik
3 months ago

Nostalgia Meteor Garden: Cerita di Balik Terbentuknya F4 yang Pernah Mengacak-acak Hati Kita
3 months ago

Nostalgia F4: Menelusuri Jejak Para Pangeran Meteor Garden yang Kini Sudah Senior
3 months ago

Westlife: Bukan Sekadar Modal Kursi Bar dan Wajah Tampan, Ini Sisi Lain yang Jarang Terungkap
3 months ago

Nostalgia Tipis-Tipis: Deretan Album Westlife Terbaik yang Wajib Masuk Playlist Kamu
3 months ago

Fenomena F4: Saat Seluruh Indonesia Terkena Demam Meteor Garden
3 months ago

Westlife: Kenapa Boyband 'Bapak-Bapak Wangi' Ini Tetap Jadi Juara di Hati Orang Indonesia?
3 months ago
