Jumat, 17 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Makna Lagu Selfish dari Madison Beer, Cerita Cinta Sepihak dan Lelah Mencoba Memperbaiki Pasangan

Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 27 February 2026 | 12:40 AM

Background
Makna Lagu Selfish dari Madison Beer, Cerita Cinta Sepihak dan Lelah Mencoba Memperbaiki Pasangan
Madison Beer - Selfish (YouTube/Madison Bear)

Lagu Selfish yang dirilis tahun 2021 memperlihatkan sisi paling jujur dari hubungan yang tidak seimbang. Madison Beer membawakan kisah tentang mencintai seseorang yang secara emosional tidak pernah benar benar hadir. Lagu ini terasa seperti pengakuan setelah lama memendam kekecewaan, ketika seseorang akhirnya sadar bahwa cintanya selama ini berjalan sendirian.

Sejak awal, suasana sudah langsung tajam lewat lirik "Boy, you're such a lost cause, now your name is crossed off." Kalimat ini menggambarkan keputusan final. "Lost cause" menunjukkan seseorang yang sudah terlalu rusak untuk diperbaiki, sementara "crossed off" menandakan bahwa ia mulai menghapus orang itu dari hidupnya. Ini bukan kemarahan sesaat, melainkan hasil dari proses panjang.

Rasa lelah itu makin terasa dalam "It was almost two years that I chose to spend here, all alone on New Year's." Tahun baru yang biasanya identik dengan kebersamaan justru dilalui sendirian. Potongan ini menjadi simbol kuat hubungan yang secara status masih ada, tetapi secara emosional kosong. Ia bersama, tetapi tetap merasa sendiri.

Salah satu metafora paling menarik muncul di bagian "I don't wanna break your thread and needle, tryna stitch you, but I can't, I refuse." Benang dan jarum di sini melambangkan usaha memperbaiki pasangan yang penuh luka atau masalah. Sang tokoh merasa selama ini ia seperti menjahit kehidupan orang lain, mencoba memperbaiki kepribadian, kebiasaan, bahkan emosinya. Namun akhirnya ia sadar itu bukan tanggung jawabnya.

Inti lagu terletak pada pengakuan pahit di chorus: "Shouldn't love you, but I couldn't help it, had a feeling that you never felt it." Ini menggambarkan cinta sepihak yang disadari sejak awal. Ia sebenarnya sudah punya firasat bahwa perasaannya tidak dibalas setara, tetapi tetap memilih bertahan. Banyak orang bisa relate dengan situasi ini, ketika logika berkata pergi tetapi hati masih ingin mencoba.

Kalimat paling tegas muncul dalam "I always knew that you were too damn selfish." Kata "selfish" bukan hanya berarti egois dalam tindakan kecil, tetapi egois secara emosional. Pasangan digambarkan hanya memikirkan dirinya sendiri, kebutuhannya, kesenangannya, tanpa benar benar memahami perasaan orang lain dalam hubungan tersebut.

Ada juga kritik terhadap gaya hidup kosong pada "I bet you thought you gave me real love, but we spent it all in nightclubs." Nightclub di sini menjadi simbol hubungan yang dangkal, penuh kesenangan sesaat tetapi tanpa kedalaman emosional. Cinta terasa seperti pesta, bukan komitmen.

Menjelang akhir, kesadaran penuh akhirnya datang lewat "I'm not responsible for your self-made obstacles, put my heart in the hospital." Ia menolak lagi menjadi penyelamat. Frasa "heart in the hospital" menjadi kiasan bahwa hubungan ini sudah melukai dirinya sampai ke titik kritis.

Secara keseluruhan, Selfish bukan hanya lagu putus cinta, tetapi lagu tentang berhenti menjadi penolong bagi orang yang tidak mau memperbaiki diri. Lagu ini menangkap momen ketika seseorang akhirnya memilih menjaga dirinya sendiri setelah terlalu lama mengorbankan perasaan demi cinta yang tidak seimbang.