Kamis, 16 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Menelisik Jejak Passenger: Dari Ngamen di Pinggir Jalan Sampai Menggetarkan Dunia

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 10:00 PM

Background
Menelisik Jejak Passenger: Dari Ngamen di Pinggir Jalan Sampai Menggetarkan Dunia
Passenger (Wikipedia/Passenger)

Pernah nggak sih kalian lagi bengong di kafe, terus tiba-tiba terdengar denting gitar akustik yang disusul suara serak-serak basah nan ikonik menyanyikan lirik, "Only know you love her when you let her go"? Kalau iya, selamat, kalian baru saja terpapar sihir dari Passenger. Lagu itu kayaknya sudah jadi anthem wajib buat kaum-kaum gagal move on atau mereka yang baru sadar kalau penyesalan itu datangnya selalu di akhir, bukan di pendaftaran masuk kuliah.

Tapi, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada satu fakta yang perlu kita luruskan biar nggak salah paham pas lagi nongkrong. Passenger aslinya bukan cuma satu orang, melainkan sebuah band folk-rock asal Brighton, Inggris, yang dibentuk tahun 2003. Pentolannya adalah Mike Rosenberg, sang penulis lagu utama sekaligus vokalis. Namun, setelah merilis album debut mereka yang bertajuk Wicked Man's Rest, band ini bubar jalan di tahun 2009. Uniknya, Mike memutuskan untuk tetap memakai nama Passenger buat karier solonya. Jadi, meskipun dia sendirian di panggung, roh band itu tetap dibawa-bawa sampai sekarang.

Perjalanan Mike Rosenberg atau si Passenger ini sebenarnya jauh dari kata instan. Jangan bayangkan dia langsung kaya raya setelah bikin lagu. Setelah bandnya bubar, Mike memilih jalan yang cukup ekstrem buat ukuran musisi Inggris: dia jadi pengamen alias busker. Dia keliling jalanan di Inggris sampai Australia buat memperkenalkan musiknya. Bayangkan, seorang musisi yang nantinya bakal punya miliaran view di YouTube, dulunya cuma berdiri di trotoar dengan casing gitar terbuka, berharap orang lewat mau melempar recehan atau sekadar berhenti dengerin satu bait lagu.

Masa-masa ngamen inilah yang membentuk karakter Passenger. Kalau kita dengerin lagunya, ada keintiman yang luar biasa. Suaranya nggak sempurna ala penyanyi opera, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ada kejujuran yang bikin pendengarnya merasa kayak lagi dicurhatin teman lama di teras rumah sambil minum kopi sachet. Mike punya kemampuan bercerita (storytelling) yang jempolan. Dia nggak cuma jualan nada, dia jualan cerita tentang kehidupan, kegagalan, dan tentu saja, cinta yang kandas.

Ledakan Let Her Go dan Persahabatan dengan Ed Sheeran

Kalau bicara soal Passenger, nggak sah kalau nggak bahas lagu "Let Her Go". Lagu ini adalah fenomena. Dirilis tahun 2012 lewat album All the Little Lights, lagu ini nggak langsung meledak dalam semalam. Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan setahun, sampai akhirnya viral di seluruh dunia. Lucunya, Mike sendiri awalnya nggak nyangka kalau lagu sesederhana itu bakal jadi "monster" di industri musik. Tapi ya gitu, kadang yang paling sederhana justru yang paling nempel di hati, kan?

Di balik sukses besarnya, ada peran seorang sahabat karib yang namanya mungkin sudah kalian kenal: Ed Sheeran. Sebelum Ed Sheeran jadi "Raja Pop" dunia, mereka berdua sering main bareng. Ed Sheeran adalah salah satu orang yang paling mendukung karier Mike. Dia sering mengajak Passenger jadi band pembuka di tur-tur dunianya. Persahabatan mereka ini bukti kalau di industri musik yang kejam, masih ada ruang buat saling dukung tanpa harus saling sikut.

Tapi, ada kutukan kecil di balik sukses besar "Let Her Go". Banyak orang menganggap Passenger itu One-Hit Wonder. Jujur aja, ini agak nggak adil. Kalau kalian mau ulik diskografinya lebih dalam, seperti album Young as the Morning, Old as the Sea atau Whispers, kalian bakal nemu banyak permata tersembunyi. Lagu-lagu seperti "Anywhere", "Survivors", atau "The Wrong Direction" punya kualitas lirik yang luar biasa puitis tapi tetap membumi. Passenger itu tipe musisi yang kalau bikin lagu, kata-katanya bisa bikin kita mikir, "Eh, ini kok gue banget ya?"

Kenapa Musik Passenger Tetap Relevan?

Di tengah gempuran musik elektronik, k-pop, atau trap yang serba kencang, musik Passenger seperti oase. Dia menawarkan kesunyian dan ruang untuk merenung. Di Indonesia sendiri, basis penggemarnya cukup solid. Orang sini kan memang suka yang galau-galau berkualitas. Gaya musik folk yang dibawa Mike Rosenberg itu kerasa sangat organik. Nggak ada autotune yang berlebihan, nggak ada gimmick panggung yang meledak-ledak. Cuma dia, gitarnya, dan cerita-ceritanya.

Secara visual pun, Mike nggak berusaha jadi rockstar yang glamor. Penampilannya sehari-hari ya cuma pakai kaos, jeans, dan sepatu kets, lengkap dengan janggutnya yang khas. Dia merepresentasikan "rakyat biasa". Ini yang bikin jarak antara idola dan penggemar jadi tipis banget. Pas nonton konsernya, suasana yang tercipta lebih mirip sesi curhat masal daripada konser megah.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari profil Passenger adalah soal ketekunan. Dia sudah ngelewatin fase dicuekin orang di pinggir jalan sampai berdiri di panggung festival musik terbesar di dunia seperti Glastonbury. Dia nggak berubah jadi sombong atau mengubah gaya musiknya demi tren. Dia tetap konsisten dengan jalur folk-nya, meskipun dunia musik lagi keranjingan genre lain. Konsistensi inilah yang bikin dia tetap punya tempat di hati pendengarnya.

Pada akhirnya, Passenger bukan cuma soal satu lagu yang viral sepuluh tahun lalu. Dia adalah representasi dari musisi yang tulus dengan karyanya. Buat kalian yang lagi merasa hidup lagi berat, atau lagi meratapi mantan yang sudah bahagia sama orang lain, coba deh dengerin satu album penuh Passenger. Rasakan bagaimana lirik-liriknya memeluk kegelisahan kalian. Karena terkadang, kita nggak butuh solusi, kita cuma butuh tahu kalau ada orang lain yang merasakan hal yang sama. Dan Mike Rosenberg, lewat Passenger-nya, berhasil melakukan itu dengan sangat manis.

Jadi, jangan cuma dengerin "Let Her Go" terus diulang-ulang sampai bosan ya. Coba eksplorasi lagu-lagu lainnya. Siapa tahu, kalian bakal nemu soundtrack hidup yang baru di antara petikan gitar akustiknya yang renyah itu. Passenger adalah pengingat bahwa di balik kesederhanaan, selalu ada keindahan yang bisa menyentuh jiwa siapa saja yang mau mendengarkan.