Rabu, 29 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Mengenal Mitski: 'Ibu Peri' Para Sad Boys dan Sad Girls di Seluruh Dunia

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 17 March 2026 | 04:00 AM

Background
Mengenal Mitski: 'Ibu Peri' Para Sad Boys dan Sad Girls di Seluruh Dunia
Mitski (Billboard.com/Mitski)

Kalau kamu sering seliweran di TikTok atau Reels, pasti setidaknya pernah sekali dengar potongan lagu yang bunyinya, "Moon, a hole of light, through the big top tent up high..." atau mungkin lagu "My Love Mine All Mine" yang sempat merajai tangga lagu di mana-mana. Lagu itu rasanya kayak pelukan hangat tapi di saat yang sama bikin kita pengen nangis di pojokan kamar. Nah, suara di balik keajaiban itu adalah Mitski. Tapi, siapakah sebenarnya Mitski Miyawaki? Kenapa namanya selalu muncul setiap kali ada bahasan soal kesehatan mental, kesepian, atau sekadar galau-galauan estetik di media sosial?

Bukan Sekadar Viral, Tapi Sebuah Fenomena

Bagi sebagian orang, Mitski mungkin dianggap sebagai "penyanyi TikTok". Tapi kalau kamu bilang begitu di depan penggemar beratnya, mungkin kamu bakal dapet ceramah panjang lebar. Mitski itu jauh lebih besar dari sekadar algoritma. Lahir dengan nama Mitsuki Laycock di Jepang, ia adalah definisi dari warga dunia yang sebenarnya. Bayangin aja, dia pernah tinggal di sekitar 13 negara mulai dari Turki, China, Malaysia, sampai akhirnya menetap di Amerika Serikat. Kehidupan yang nomaden ini bikin dia merasa nggak punya "rumah" yang pasti, dan perasaan terasing itulah yang jadi bahan bakar utama karya-karyanya.

Gaya penulisannya itu lho, jujur banget sampai kadang bikin kita yang dengerin ngerasa telanjang. Dia nggak pakai metafora yang terlalu ribet bin ajaib, tapi pilihan katanya nusuk tepat di ulu hati. Misalnya di lagu "Your Best American Girl", dia cerita soal gimana rasanya mencoba menyesuaikan diri dengan standar kecantikan atau ekspektasi orang lain tapi akhirnya sadar kalau dia nggak akan pernah bisa masuk ke kotak itu. Ini relate banget buat kita-kita yang sering merasa jadi "outsider" atau nggak cukup baik buat lingkungan sekitar.

Musik sebagai Katarsis, Bukan Cuma Jualan Sedih

Ada label yang sering ditempelkan ke Mitski: "The Queen of Sadness". Tapi kalau kita kulik lebih dalam, musik Mitski bukan cuma soal sedih-sedihan doang. Dia itu kayak ahli bedah emosi. Dia mengeksplorasi rasa marah, obsesi, keinginan untuk dicintai, sampai rasa lelah yang amat sangat terhadap dunia. Dalam album "Puberty 2" atau "Be the Cowboy", kita bisa dengerin betapa eksplosifnya perasaan seorang perempuan yang mencoba bertahan di tengah dunia yang makin gila.

Yang unik dari Mitski adalah cara dia membawakan lagu di atas panggung. Kalau penyanyi pop lain mungkin sibuk dance yang sinkron atau pakai kembang api, Mitski lebih ke arah performance art. Dia bisa nyanyi sambil merayap di lantai, mainan kursi, atau melakukan gerakan-gerakan kaku yang terkesan aneh tapi penuh makna. Dia pengen penontonnya nggak cuma denger suara, tapi juga ngerasain tekanan emosional yang dia rasain. Ini yang bikin konser Mitski itu rasanya lebih mirip kayak ritual penyembuhan masal daripada sekadar hiburan malam minggu.

Hubungan 'Love-Hate' dengan Media Sosial

Di zaman sekarang, biasanya musisi bakal habis-habisan branding di media sosial. Tapi Mitski beda. Dia punya hubungan yang agak rumit dengan internet. Beberapa tahun lalu, dia bahkan sempat menghilang total dari media sosial dan menyatakan mau berhenti bermusik buat sementara waktu karena merasa privasinya terganggu dan kepribadiannya "dikonsumsi" secara berlebihan oleh penggemar. Dia nggak mau jadi sekadar meme atau objek pemujaan yang nggak manusiawi.

Sikapnya yang misterius ini justru bikin orang makin penasaran. Dia nggak jualan drama kehidupan pribadi buat naikin angka streaming. Dia cuma mau orang kenal dia lewat musiknya. Ini keren banget sih, di tengah gempuran artis yang apa-apa dikontenin, Mitski tetap teguh sama prinsip "musisi ya bikin musik aja". Meskipun akhirnya dia balik lagi dengan album "Laurel Hell" dan yang terbaru "The Land Is Inhospitable and So Are We", dia tetap menjaga jarak yang sehat dengan dunia maya.

Kenapa Kita Butuh Mitski di Playlist Kita?

Jujur aja, hidup di tahun 2020-an itu capek. Kita sering dituntut buat selalu produktif, selalu bahagia, dan selalu kelihatan "slay" di depan kamera. Mitski hadir buat bilang kalau nggak apa-apa kok kalau kamu merasa hancur. Nggak apa-apa kalau kamu merasa kesepian di tengah keramaian. Musiknya memberikan validasi buat emosi-emosi negatif yang selama ini sering kita umpetin di bawah karpet.

Dengerin Mitski itu kayak punya temen yang nggak bakal nge-judge kamu saat kamu lagi di titik terendah. Dia nggak bakal kasih nasihat motivasi basi kayak "ayo semangat, hari esok pasti lebih baik". Sebaliknya, dia bakal duduk di sebelah kamu dan bilang, "Iya, emang berat ya? Aku juga ngerasa gitu kok." Kesamaan nasib inilah yang bikin koneksi antara Mitski dan pendengarnya jadi begitu kuat.

Jadi, kalau ditanya "siapa Mitski?", jawabannya bukan cuma soal biodata atau diskografi. Mitski adalah cermin. Dia adalah suara-suara kecil di kepala kita saat kita lagi melamun di jendela bus sore-sore. Dia adalah representasi dari kerentanan manusia yang jujur tanpa polesan. Mau kamu lagi patah hati, lagi krisis identitas, atau cuma pengen ngerasain sesuatu yang nyata, lagu-lagu Mitski selalu punya tempat buat kamu.

Mungkin setelah baca ini, kamu mau coba dengerin albumnya dari awal. Mulailah dari "Bury Me at Makeout Creek" kalau kamu lagi pengen denger suara distorsi gitar yang kasar tapi puitis, atau langsung ke "The Land Is Inhospitable and So Are We" kalau kamu pengen dengerin sesuatu yang lebih dewasa dan kontemplatif. Siapin tisu aja, siapa tahu kan tiba-tiba matanya berkaca-kaca tanpa alasan.

Tags