Minggu, 15 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Menilik Fenomena Fourtwnty: Lebih dari Sekadar Kopi, Senja, dan Kaki Telanjang

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 15 March 2026 | 07:00 PM

Background
Menilik Fenomena Fourtwnty: Lebih dari Sekadar Kopi, Senja, dan Kaki Telanjang
Fourtwnty (Instagram/Fourtwnty)

Kalau kita bicara soal musik indie di Indonesia dalam satu dekade terakhir, rasanya nggak mungkin kalau nggak nyebut nama Fourtwnty. Grup musik yang satu ini punya posisi yang unik banget di telinga pendengar kita. Mereka bukan cuma sekadar band, tapi udah jadi semacam representasi gaya hidup. Bayangin aja, saking melekatnya image mereka, denger lagu "Fana Merah Jambu" aja rasanya hidung kita otomatis mencium aroma kopi hitam dan mata kita langsung nyari-nyari di mana matahari terbenam. Ya, mereka adalah raja di singgasana genre yang sering diolok-olok netizen sebagai musik senja.

Tapi, jujur aja, mengkotak-kotakkan Fourtwnty cuma sebagai "band senja" itu kayaknya agak kurang adil. Ada kedalaman yang lebih dari sekadar estetika Instagramable di balik karya-karya Ari Lesmana, Nuwi, dan akar-akar kreatif di belakangnya. Mari kita bedah pelan-pelan, kenapa sih band ini bisa sebegitu ikoniknya sampai-sampai suara serak basah Ari Lesmana bisa bikin orang yang nggak lagi galau tiba-tiba pengen ngerenungin arti kehidupan.

Awal Mula dan Ledakan Zona Nyaman

Fourtwnty sebenarnya bukan pemain baru-baru amat. Mereka sudah mulai gerilya sejak tahun 2010. Namun, ledakan besarnya baru bener-bener terasa pas lagu "Zona Nyaman" rilis sebagai soundtrack film Filosofi Kopi 2. Lagu itu kayak virus, menyebar ke mana-mana. Dari kafe mahal di Jakarta Selatan sampai ke warung kopi pinggir jalan di pelosok daerah, semuanya muter lagu yang sama. Liriknya yang ngajak orang buat keluar dari rutinitas yang membosankan itu relate banget sama banyak orang, terutama kaum pekerja yang berangkat pagi pulang petang cuma buat nyari uang tapi lupa cara bahagia.

Gaya bernyanyi Ari Lesmana yang unik, cara dia menari di panggung yang kelihatan kayak orang lagi trans atau "lepas," sampai kebiasaan dia manggung tanpa alas kaki, itu semua jadi bumbu yang bikin Fourtwnty punya karakter yang kuat. Mereka nggak berusaha tampil rapi ala boyband atau sangar ala rocker. Mereka tampil apa adanya, kerempeng, santai, dan penuh kejujuran. Justru karena ketidaksempurnaan itulah, mereka jadi terasa sangat manusiawi dan dekat dengan pendengarnya.

Antara Meme dan Kualitas Musikalitas

Gak bisa dimungkiri, Fourtwnty sempat jadi bahan bercandaan di media sosial. Muncul istilah "Anak Senja" yang identik dengan kopi, buku puisi, dan lagu Fourtwnty. Fenomena ini sebenernya menunjukkan betapa besarnya pengaruh mereka. Sesuatu yang sudah masuk ke ranah meme biasanya adalah sesuatu yang sudah sangat populer dan mendarah daging di budaya pop. Tapi di balik semua candaan itu, kalau kita teliti lagi aransemen musik mereka, sebenarnya nggak sesederhana itu.

Fourtwnty punya kemampuan buat bikin lagu yang atmosferik. Instrumen yang dipakai mungkin nggak rame, tapi tiap petikan gitar Nuwi itu punya nyawa. Mereka tahu kapan harus diam dan kapan harus ngasih ledakan emosi. Lagu-lagu seperti "Aku Tenang" atau "Segelas Berdua" punya kekuatan buat bikin pendengarnya ngerasa tenang sekaligus melankolis di waktu yang bersamaan. Ini bukan sekadar musik yang dibuat asal-asalan demi viral, tapi ada kurasi rasa yang sangat hati-hati di sana.

Ari Lesmana: Frontman yang Punya "Magis" Tersendiri

Kalau kita ngomongin Fourtwnty, kita wajib ngomongin Ari Lesmana. Menurut gue, Ari adalah salah satu frontman paling karismatik di industri musik Indonesia saat ini. Dia nggak butuh kostum yang heboh atau kembang api di panggung. Cukup berdiri, merem, gerakin tangan secara acak, dan nyanyi dengan suara yang kadang pecah tapi emosional, penonton udah bisa terhipnotis. Dia punya aura yang bikin orang ngerasa "oke, nggak apa-apa kok kalau kita lagi nggak baik-baik saja."

Kehadiran Ari di panggung itu kayak ngelihat orang yang lagi curhat lewat nada. Dia nggak jaim. Kadang dia ketawa, kadang dia kelihatan sangat sedih. Kejujuran performa inilah yang bikin Fourtwnty punya fans yang militan. Mereka nggak cuma suka lagunya, tapi mereka jatuh cinta sama cara band ini membawakan diri mereka. Di tengah industri yang penuh kepalsuan dan editing sana-sini, Fourtwnty adalah oase yang menawarkan keaslian.

Evolusi Lewat Album Nalar

Setelah bertahun-tahun dikenal dengan lagu-lagu akustik yang santai, Fourtwnty nggak mau berhenti di situ. Di album terbaru mereka yang judulnya "Nalar," kita bisa denger kalau mereka mencoba keluar dari "zona nyaman" mereka sendiri (pun intended). Ada eksplorasi bunyi yang lebih luas, ada lirik yang mungkin lebih gelap dan personal. Ini membuktikan kalau mereka bukan band satu dimensi yang cuma jago bikin lagu buat temen ngopi sore-sore.

Mereka sadar kalau pendengar mereka tumbuh dewasa, dan musik mereka pun harus ikut tumbuh. "Nalar" adalah bentuk pendewasaan itu. Mereka tetap Fourtwnty yang kita kenal, tapi dengan perspektif yang lebih matang. Mereka masih bicara soal manusia, keresahan, dan cinta, tapi dengan cara yang lebih reflektif dan mungkin sedikit lebih berani bereksperimen dengan elemen-elemen musik lain.

Penutup: Masihkah Relevan?

Banyak yang nanya, apakah Fourtwnty bakal bertahan lama atau cuma tren sesaat? Kalau melihat rekam jejak mereka sejauh ini, jawabannya kayaknya jelas: mereka bakal tetap ada. Kenapa? Karena mereka nggak jualan tren, mereka jualan rasa. Selama manusia masih punya rasa jenuh sama rutinitas, selama manusia masih butuh ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia, dan selama senja masih terus berganti menjadi malam, lagu-lagu Fourtwnty bakal tetap punya tempat.

Jadi, buat kalian yang mungkin selama ini cuma dengerin Fourtwnty dari potongan-potongan TikTok atau sekadar ikut-ikutan meme, coba deh sekali-kali dengerin satu album penuh mereka pas lagi sendirian. Mungkin di situ kalian bakal paham, kalau Fourtwnty itu lebih dari sekadar urusan senja dan kopi. Mereka adalah kawan dalam kesunyian, dan suara bagi mereka yang sulit mengungkapkan perasaan lewat kata-kata biasa. Dan ya, kalau mau dengerin sambil nyeruput kopi sih, ya nggak ada yang ngelarang juga, kan?

Tags