Rabu, 11 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Move On: Pengakuan Jujur Mike Posner tentang Luka, Pelarian, dan Keberanian untuk Sembuh

Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 28 February 2026 | 07:36 PM

Background
Move On: Pengakuan Jujur Mike Posner tentang Luka, Pelarian, dan Keberanian untuk Sembuh
Mike Posner - Move On (YouTube/Mike Posner)

Di tahun 2019, Mike Posner merilis Move On, sebuah lagu yang terasa seperti catatan harian paling personal. Jika di masa lalu ia banyak berbicara tentang popularitas dan citra, di lagu ini ia berbicara tentang kehilangan, rasa sakit, dan proses menerima kenyataan. Nuansanya hening, reflektif, dan tidak berusaha terdengar keren.

Lirik pembuka langsung menarik perhatian, "I wish Tracy Chapman was my friend, she would know exactly what to say". Penyebutan Tracy Chapman bukan tanpa alasan. Chapman dikenal lewat lagu lagu yang puitis dan penuh empati. Posner seolah berharap ada sosok bijak yang bisa memberinya kalimat penenang. Ini menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam fase kebingungan emosional.

Kalimat berikutnya, "beginnings always hide themselves in ends", mengandung filosofi sederhana namun dalam. Setiap akhir sebenarnya menyimpan awal yang baru, hanya saja saat berada di tengah luka, sulit untuk melihatnya. Lalu ia menenangkan dirinya sendiri dengan, "at some point, I will be okay". Ini bukan keyakinan mutlak, melainkan harapan yang masih rapuh.

Bagian paling jujur muncul saat ia menyanyikan, "I got high when I met you, I got high to forget you". Frasa ini menggambarkan dua fase berbeda. Pertama, euforia saat jatuh cinta. Kedua, pelarian saat hubungan berakhir. Kata "high" bisa bermakna literal maupun emosional. Ia mengakui bahwa zat atau distraksi digunakan sebagai cara menghindari rasa sakit.

Namun inti lagu justru ada pada pengakuan, "I feel pain, I don't want to, but I have to". Ini adalah titik balik. Ia sadar bahwa rasa sakit tidak bisa terus dihindari. Untuk benar benar "move on", seseorang harus merasakannya. Rasa sakit menjadi bagian dari proses penyembuhan, bukan musuh yang harus dimatikan.

Di verse berikutnya, Posner menceritakan berbagai upaya pelarian. "Went to see some shaman in Malay to hear some things I wanted to hear" menunjukkan pencarian spiritual yang mungkin lebih bertujuan mencari pembenaran daripada kebenaran. Ia juga mengakui, "everyone just wants to feel good, everyone just wants to disappear". Ini potret generasi yang sering memilih distraksi daripada konfrontasi dengan emosi sendiri.

Upaya lain terlihat dalam lirik "call up girls that live in my hometown to help fill up the minutes". Ia mencoba mengisi kekosongan dengan kehadiran orang lain. Bahkan tindakan simbolis seperti "saged my house down" atau membersihkan energi negatif tidak membawa perubahan berarti. Semua ritual itu tidak menyentuh akar masalah.

Repetisi "if I want to move on" terdengar seperti mantra. Ia tidak mengatakan bahwa ia sudah berhasil. Ia mengatakan bahwa jika ingin benar benar melangkah maju, maka ia harus menghadapi rasa sakit itu secara langsung. Lagu ini bukan tentang hasil akhir, melainkan tentang komitmen pada proses.

Secara keseluruhan, Move On adalah refleksi matang tentang bagaimana manusia sering berlari dari luka, padahal satu satunya jalan adalah melewatinya. Mike Posner tidak lagi menyembunyikan kerentanannya. Ia justru menempatkannya di depan, sebagai bukti bahwa pertumbuhan membutuhkan kejujuran. Lagu ini mengingatkan bahwa melupakan bukan soal menghapus kenangan, tetapi tentang menerima rasa sakit hingga ia tidak lagi menguasai hidup kita.