Kamis, 12 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Netizen Korea Selatan vs Asia Tenggara di X: Dari Pelanggaran Konser ke Serangan Rasis

Hafizah Fikriah Waskan - Saturday, 14 February 2026 | 03:53 AM

Background
Netizen Korea Selatan vs Asia Tenggara di X: Dari Pelanggaran Konser ke Serangan Rasis
Ilustrasi Konser (Pexels.com/picjumbo.com)

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial X (dulu Twitter) diramaikan konflik antara netizen Korea Selatan dan warganet Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Ketegangan ini bermula dari pelanggaran aturan konser DAY6 yang digelar pada 31 Januari 2026 di Axiata Arena, Kuala Lumpur.

Seorang fansite asal Korea Selatan nekat membawa peralatan kamera profesional dengan lensa panjang, padahal sudah jelas dilarang demi kenyamanan penonton dan hak cipta. Aksi ini terekam oleh penonton lokal dan menyebar luas di media sosial, memicu protes dari penggemar lokal.

Meskipun oknum fansite tersebut sudah meminta maaf, situasi justru memanas ketika sejumlah penggemar Korea Selatan lainnya menanggapi dengan sikap bermusuhan. Beberapa di antaranya bahkan menyatakan bahwa idol K-pop hanya boleh dinikmati oleh orang Korea, memicu pernyataan rasis terhadap masyarakat Asia Tenggara.

Serangan rasis yang muncul berupa ejekan terhadap fisik, bahasa, hingga kondisi ekonomi masyarakat, terutama menargetkan negara-negara yang tergabung dalam SEAblings. Netizen dari Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam bereaksi dengan membalas ejekan tersebut, sambil mempromosikan artis dan musik lokal mereka seperti Shanty, Lyodra, Nassar, Wali, hingga no na dan QuadLips.

Salah satu titik puncak kemarahan adalah unggahan netizen Korea yang menyinggung lokasi syuting musik video no na di sawah, dianggap merendahkan pekerjaan petani dan latar belakang agraris masyarakat Asia Tenggara. Respon warganet Indonesia bahkan menggunakan bahasa daerah dan aksara tradisional, seperti Jawa, Batak, hingga Sanskerta, untuk menegaskan kebanggaan lokal dan menangkis ejekan tersebut.

Konflik ini kemudian menarik perhatian warganet dari negara lain, termasuk China dan India, akibat kebingungan sebagian K-Netz membedakan India dan Indonesia.

Meskipun ketegangan masih berlangsung, penting dicatat bahwa perilaku rasis ini dilakukan oleh sebagian oknum dan tidak mewakili seluruh masyarakat Korea Selatan maupun Asia Tenggara. Insiden ini menunjukkan bagaimana pelanggaran aturan sederhana dapat berkembang menjadi konflik sosial berskala internasional di era media sosial, sekaligus menyoroti pentingnya toleransi dan saling menghormati budaya.