Rabu, 22 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Noah Kahan: Si 'Mas-Mas Vermont' yang Bikin Galau Jadi Terasa Lebih Estetik

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 16 March 2026 | 04:00 PM

Background
Noah Kahan: Si 'Mas-Mas Vermont' yang Bikin Galau Jadi Terasa Lebih Estetik
Noah Kahan (Variety/Noah Kahan)

Pernah nggak sih kalian lagi asyik scrolling TikTok, terus tiba-tiba lewat sebuah lagu dengan petikan gitar akustik yang renyah, vokal yang agak serak-serak basah, dan lirik yang jujur banget soal rasa sepi di kota kecil? Kalau iya, besar kemungkinan kalian baru saja terpapar 'virus' Noah Kahan. Musisi asal Vermont, Amerika Serikat ini, belakangan ini kayaknya lagi jadi soundtrack wajib buat siapa pun yang lagi ngerasa stuck, rindu rumah, atau sekadar pengen ngerasain vibes musim gugur meskipun kita tinggal di negara tropis yang panasnya minta ampun.

Noah Kahan bukan sekadar penyanyi folk biasa yang cuma modal gitar kopong. Dia punya sesuatu yang bikin pendengarnya merasa kayak lagi ngobrol bareng temen lama di pinggir api unggun. Fenomena naiknya nama Noah Kahan, terutama lewat album 'Stick Season', itu sebenernya menarik banget buat dibahas. Kenapa? Karena di tengah gempuran musik pop yang serba elektronik dan jedag-jedug, Noah justru bawa kita balik ke akar: lirik yang dalem dan instrumen yang organik. Bisa dibilang, dia adalah definisi nyata dari istilah 'healing' yang nggak palsu.

Transformasi dari Pop-Boy ke Folk-Hero

Jujurly, Noah Kahan itu bukan orang baru di industri musik. Dia udah mulai rilis karya dari tahun 2017-an. Dulu, musiknya lebih ke arah pop-indie yang agak mainstream. Kalian mungkin inget lagu 'Hurt Somebody' yang kolaborasi bareng Julia Michaels? Itu lagu enak, tapi ya udah, kerasa kayak lagu pop radio pada umumnya. Noah sendiri sempet ngerasa kayak kehilangan jati diri. Dia tinggal di New York, berusaha jadi 'bintang pop' yang diinginkan industri, tapi hatinya tetep di hutan-hutan Vermont.

Lalu pandemi datang. Noah mutusin buat pulang kampung ke Vermont. Di momen itulah, dia kayak dapet hidayah. Alih-alih bikin lagu pop yang upbeat, dia malah mulai nulis soal rasa benci sekaligus cintanya sama kampung halamannya. Dia nulis soal musim 'Stick Season'—sebuah istilah di Vermont buat transisi antara musim gugur ke musim dingin, di mana pohon-pohon udah botak tapi salju belum turun. Suram? Banget. Tapi di tangan Noah, kesuraman itu jadi karya seni yang luar biasa relatable buat anak muda jaman sekarang yang sering ngerasa 'ketinggalan' dibanding temen-temennya yang lain.

Lirik yang Kayak Tamparan Tapi Pelan

Apa sih yang bikin lagu-lagu Noah Kahan itu 'ngena' banget? Jawabannya ada di penulisan liriknya. Noah itu pinter banget menangkap perasaan-perasaan kecil yang sebenernya dialami banyak orang tapi susah diungkapin. Coba dengerin lagu 'You're Gonna Go Far'. Itu lagu buat orang-orang yang merantau dan ngerasa bersalah karena ninggalin keluarga di rumah. Pas dia nyanyi, 'We ain't angry at you, love. We'll be waiting for you, love,' itu rasanya kayak dapet pelukan dari orang tua jarak jauh.

Atau lihat lagu 'Orange Juice'. Dia cerita soal temen lama yang baru selesai rehabilitasi alkohol dan gimana kikuknya pertemuan mereka. Topik-topik berat kayak kesehatan mental, isolasi, dan trauma keluarga dibungkus sama melodi folk yang catchy. Dia nggak berusaha buat terdengar puitis yang ribet atau sok filosofis. Dia cuma cerita apa adanya. Gaya berceritanya ini yang bikin dia sering dibandingin sama Taylor Swift versi cowok folk, karena detail-detail kecil dalam liriknya itu yang bikin fans ngerasa punya koneksi personal.

Vibes 'Granola' dan Estetika Mas-Mas Hutan

Nggak bisa dipungkiri, branding Noah Kahan itu kuat banget di visual. Rambut gondrong yang sering dikuncir asal-asalan, jenggot tebel, baju flanel, dan sepatu boots. Di internet, gaya kayak gini sering disebut 'Granola Aesthetic'. Ini adalah gaya hidup yang deket sama alam, suka hiking, dan minum kopi di cangkir enamel. Tren ini lagi naik banget, dan Noah Kahan secara nggak sengaja jadi poster boy-nya.

Tapi kerennya, Noah nggak kelihatan kayak lagi akting. Dia emang beneran anak gunung yang lebih suka dengerin kicau burung daripada berisik klakson mobil. Keaslian (authenticity) inilah yang dicari banget sama Gen Z. Kita udah capek sama filter Instagram dan kehidupan yang dipoles abis-abisan. Pas liat Noah Kahan yang tampil apa adanya, bahkan sering bercanda soal rasa insecure-nya di atas panggung, orang-orang jadi ngerasa, 'Eh, dia kayak gue ya'.

Kolaborasi yang Gak Kaleng-Kaleng

Kesuksesan 'Stick Season' juga makin meledak gara-gara Noah rajin banget kolaborasi sama musisi papan atas. Dia rilis ulang lagu-lagunya dengan ngajak Post Malone, Kacey Musgraves, Hozier, sampe Olivia Rodrigo. Strategi ini pinter banget sih. Bayangin, lagu folk yang tadinya mungkin cuma didengerin anak senja, tiba-tiba masuk ke playlist fans Post Malone yang notabene pecinta hip-hop/pop. Hasilnya? Nama Noah Kahan makin nangkring di chart Billboard dan dia dapet nominasi Best New Artist di Grammy 2024.

Meskipun sekarang udah jadi superstar, Noah tetep kelihatan humble. Dia masih sering posting video lucu di TikTok yang nunjukin sisi konyolnya. Dia nggak jaim buat nunjukin kalau dia masih pergi ke terapis buat ngurusin kecemasannya. Karakter yang 'down to earth' ini yang bakal bikin karirnya awet. Dia bukan cuma one-hit wonder yang viral gara-gara satu lagu di TikTok, tapi dia adalah storyteller yang emang punya bakat asli buat bikin hati orang ambyar.

Kenapa Kita Harus Dengerin Noah Kahan?

Mungkin ada yang nanya, 'Emang apa bedanya sama musisi folk lain?'. Bedanya, Noah Kahan itu kayak jembatan. Dia nggak se-depresi Bon Iver, tapi nggak se-ceria Lumineers. Dia ada di tengah-tengah. Musiknya cocok buat nemenin perjalanan jauh di mobil, cocok buat temen belajar, atau bahkan buat nangis di pojokan kamar pas lagi ngerasa hidup gini-gini aja. Dia ngajarin kita kalau merasa sedih, merasa stuck, atau merasa rindu itu normal banget.

Noah Kahan adalah pengingat kalau terkadang, buat melangkah maju, kita harus berani buat nengok ke belakang dan nerima semua luka yang ada di sana. Jadi, kalau kalian belum pernah dengerin satu pun lagunya, coba deh dengerin 'Stick Season' atau 'Homesick'. Siap-siap aja hatinya dicubit-cubit dikit. Tapi tenang, itu rasa sakit yang enak kok, kayak makan sambal yang pedes tapi bikin nagih. Selamat menyelami dunia Vermont ala Noah Kahan!

Tags