Sabtu, 7 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Perjalanan Panjang Musik Pop: Dari Elvis Sampai Algoritma TikTok

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 01 March 2026 | 01:00 AM

Background
Perjalanan Panjang Musik Pop: Dari Elvis Sampai Algoritma TikTok
Musik (Freepik/Freepik)

Pernah nggak sih kalian lagi asyik nongkrong di kafe, terus tiba-tiba ada lagu yang nadanya nempel banget di kepala sampai kebawa mimpi? Padahal kalian baru denger lagu itu sekali. Nah, itulah kekuatan magis dari musik pop. Dia nggak butuh lirik yang puitis ala pujangga lama atau komposisi musik yang rumit bin njelimet kayak musik klasik. Musik pop itu ibarat nasi goreng pinggir jalan: sederhana, enak, dan disukai hampir semua orang.

Tapi, kalau kita tarik mundur benang merahnya, sejarah musik pop itu nggak sesederhana "lagu yang enak didengerin" doang. Ada perjalanan panjang, drama industri, sampai revolusi teknologi yang bikin musik ini jadi raja di telinga manusia sejagat raya. Mari kita bahas pelan-pelan, sambil ngopi biar nggak spaneng.

Zaman Dulu: Ketika Musik Mulai Jadi Komoditas

Jauh sebelum ada Spotify atau YouTube, musik itu sesuatu yang eksklusif. Kalau mau denger musik, ya kamu harus datang ke gedung pertunjukan atau main alat musik sendiri. Tapi semua berubah sekitar tahun 1920-an. Berkat penemuan piringan hitam dan radio, musik mulai "keluar" dari gedung mewah dan masuk ke ruang tamu rumah-rumah biasa. Di era ini, muncul istilah "Tin Pan Alley" di New York, semacam pabrik lagu tempat para pencipta lagu bikin musik yang gampang diingat supaya laku dijual dalam bentuk lembaran notasi (sheet music).

Masuk ke era 1950-an, terjadilah ledakan besar. Muncul sosok pemuda bernama Elvis Presley. Dengan goyangan pinggul yang dianggap "terlalu berani" pada masanya dan suara yang menggabungkan rasa musik orang kulit hitam (R&B) dan kulit putih (country), Elvis jadi superstar pop pertama dalam pengertian modern. Di sinilah istilah "Pop" yang merupakan singkatan dari "Popular" mulai benar-benar mengakar. Musik bukan lagi cuma soal seni, tapi soal gaya hidup dan idola remaja.

The Beatles dan Revolusi Visual

Kalau Elvis adalah pembuka pintu, maka The Beatles adalah orang-orang yang merenovasi seluruh isi rumahnya. Masuk tahun 1960-an, empat cowok asal Liverpool ini mengubah peta musik dunia. Mereka membuktikan kalau musisi pop itu nggak cuma jago nyanyi, tapi juga harus jago nulis lagu sendiri dan punya karakter yang kuat. Fenomena "Beatlemania" adalah bukti nyata gimana musik pop bisa bikin orang histeris massal cuma gara-gara ngelihat potongan rambut idola mereka.

Di era ini juga, musik pop mulai bercabang. Ada yang lebih "nge-rock", ada yang manis banget kayak grup-grup vokal dari Motown Records. Intinya satu: lagunya harus catchy. Kalau dalam sekali denger kamu belum bisa ikut nyanyi di bagian chorus-nya, berarti itu belum pop-pop amat.

Era MTV: Saat Mata Lebih Dominan daripada Telinga

Meloncat ke tahun 1980-an, sejarah musik pop nemuin titik balik paling krusial: lahirnya MTV. Di sinilah era "Video Star" dimulai. Musik pop nggak lagi cuma soal audio, tapi soal visual. Kamu nggak bakal dianggap bintang pop kalau nggak punya video klip yang ikonik. Di era inilah muncul "King of Pop" Michael Jackson dan "Queen of Pop" Madonna.

Michael Jackson dengan moonwalk-nya dan jaket merah di video "Thriller" bener-bener ngebentuk standar baru. Dia nunjukin kalau pop itu adalah paket lengkap: suara oke, dance keren, dan visual yang bikin mata melotot. Sementara itu, Madonna ngajarin kita kalau musisi pop itu harus berani tampil beda dan provokatif. Tanpa dua orang ini, mungkin musik pop bakal terasa hambar dan membosankan.

Boyband, Girlband, dan Perang Bubblegum Pop

Masuk ke tahun 90-an dan awal 2000-an, kita disambut oleh era boyband dan girlband yang bikin sekolah-sekolah di Indonesia penuh dengan poster Backstreet Boys, Westlife, sampai Spice Girls. Musik pop di era ini sering disebut "Bubblegum Pop"—manis, warna-warni, dan bikin nagih. Nggak lama setelah itu, muncul Britney Spears dan Christina Aguilera yang jadi ikon remaja di seluruh dunia. Pop makin kerasa kayak industri pabrikan yang sangat rapi, mulai dari koreografi sampai pilihan baju yang dipakai.

Opini pribadi sih, era ini adalah puncak di mana musik pop bener-bener kerasa "industri banget". Semuanya serba dipoles sempurna, hampir nggak ada celah buat kesalahan. Kadang bikin kangen juga sih denger lagu-lagu simpel yang liriknya cuma soal cinta-cintaan monyet tapi nadanya nempel banget sampai sekarang.

Era Digital dan Dominasi K-Pop

Sekarang, di tahun 2020-an, wajah musik pop berubah total lagi. Berkat internet, sekat-sekat negara itu runtuh. Kita nggak lagi cuma dengerin pop dari Amerika atau Inggris. Lihat aja gimana BTS atau BLACKPINK bisa menguasai tangga lagu dunia. K-Pop bawa standar baru dalam musik pop: dedikasi fans yang luar biasa, produksi video yang super mewah, dan latihan yang gila-gilaan.

Selain itu, ada fenomena "Algorithm Pop". Sekarang musisi bikin lagu bukan cuma buat enak didenger, tapi gimana supaya potongan 15 detiknya bisa viral di TikTok. Lagu pop jaman sekarang cenderung lebih pendek, to the point, dan punya hook yang instan. Apakah ini bagus? Ya, relatif sih. Sisi positifnya, siapa aja sekarang bisa jadi bintang pop dari kamarnya sendiri asalkan karyanya unik dan disukai algoritma.

Kesimpulan: Pop Akan Selalu Menyesuaikan Zaman

Jadi, apa sih sebenarnya musik pop itu? Setelah muter-muter dari era piringan hitam sampai era streaming, kesimpulannya cuma satu: musik pop adalah cerminan dari masyarakatnya. Dia selalu berubah mengikuti apa yang lagi disukai orang banyak. Dia nggak kaku, dia cair, dan kadang-kadang dia sedikit "murahan" tapi justru di situlah letak kekuatannya.

Musik pop mungkin bakal terus berubah formatnya. Mungkin besok kita nggak dengerin lewat earphone lagi, tapi lewat chip yang ditanam di otak (semoga nggak se-ekstrem itu ya!). Tapi satu yang pasti, selama manusia masih suka bersenandung dan butuh hiburan yang gampang dicerna di sela-sela hidup yang berat ini, musik pop nggak akan pernah mati. Dia bakal tetap ada, nemenin kita galau di kamar atau joget tipis-tipis di sela kemacetan jalanan kota.

Tags