Plot Twist Gibran: Dulu Jual Martabak Kini Jadi Wakil Presiden
Hafizah Fikriah Waskan - Friday, 13 March 2026 | 03:00 PM


Siapa Gibran Rakabuming Raka? Dari Juragan Martabak Sampai Jadi Wapres Terpilih
Kalau kita bicara soal Gibran Rakabuming Raka, rasanya kayak lagi ngelihat plot twist di film-film drama politik yang nggak ketebak. Masih segar di ingatan gimana dulu dia dengan tegas bilang kalau dia nggak tertarik masuk politik. Waktu itu, Gibran lebih milih sibuk ngurusin adonan martabak dan katering. Tapi ya namanya hidup, garis tangan siapa yang tahu? Sekarang, sosok yang dulu dikenal pendiam dan irit ngomong ini malah bakal melenggang ke Istana sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih. Gimana sih ceritanya?
Awalnya Cuma Pengen Jualan Makanan
Jauh sebelum baliho wajahnya terpampang di tikungan-tikungan jalan seluruh Indonesia, Gibran adalah antitesis dari anak presiden pada umumnya. Saat bapaknya, Joko Widodo, lagi sibuk-sibuknya jadi Gubernur DKI Jakarta terus naik jadi Presiden, Gibran justru asyik membangun kerajaannya sendiri di dunia kuliner. Dia punya Markobar yang sempat hits banget dengan martabak delapan rasanya, terus ada Chili Pari untuk urusan katering pernikahan di Solo.
Kesan yang muncul waktu itu adalah Gibran itu "cool" dalam artian harfiah: dingin dan agak kaku kalau di depan kamera. Dia sering banget kasih jawaban singkat, padat, dan terkadang bikin wartawan garuk-garuk kepala. Publik ngelihat dia sebagai sosok yang mandiri, yang nggak mau nebeng nama besar bapaknya. "Saya mau cari duit sendiri," mungkin itu pesan yang pengen dia sampaikan waktu itu. Dan jujur saja, banyak anak muda yang respek sama sikapnya yang ogah ribet sama urusan birokrasi.
Belok Mendadak ke Panggung Politik
Plot twist dimulai tahun 2020. Tiba-tiba saja, Gibran memutuskan buat nyalon jadi Wali Kota Solo. Keputusan ini jelas bikin geger. Banyak yang bertanya-tanya, "Lho, bukannya dulu bilang nggak mau politik?" Kritik soal dinasti politik pun mulai berhamburan. Tapi ya namanya Gibran, dia tetap dengan gaya santuy-nya maju terus. Hasilnya? Dia menang telak di tanah kelahirannya.
Selama jadi Wali Kota, gaya kepemimpinannya tergolong unik. Dia nggak terlalu suka protokoler yang ribet. Sering banget dia turun ke lapangan cuma pakai kaos atau kemeja santai, mirip banget sama gaya blusukan bapaknya tapi dengan sentuhan anak muda zaman sekarang. Solo mulai dipoles jadi kota festival dan kreatif. Di sinilah orang mulai sadar kalau Gibran ternyata punya "insting" politik yang lumayan tajam, meskipun banyak yang bilang jalannya dimuluskan karpet merah.
Drama MK dan "Samsul" yang Ikonik
Puncak dari segala kontroversi Gibran tentu saja saat dia maju jadi Calon Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2024. Ini adalah momen di mana internet Indonesia benar-benar meledak. Mulai dari drama di Mahkamah Konstitusi soal batas usia, sampai sebutan-sebutan miring kayak "anak haram konstitusi" atau ejekan "belimbing sayur" sempat mampir ke kupingnya.
Tapi, ada satu hal yang menarik dari cara Gibran merespons kebencian netizen: dia nge-troll balik. Inget nggak pas dia dipanggil "Samsul" (singkatan dari asam sulfat karena salah ucap saat pidato)? Alih-alih marah atau bikin klarifikasi baper, dia malah pakai jaket bertuliskan Samsul ala anime Naruto. Ini adalah langkah komunikasi politik yang sangat Gen Z. Dia tahu betul kalau di era media sosial, cara paling ampuh buat mematikan ejekan adalah dengan menertawakan diri sendiri.
Gaya komunikasinya yang sedikit bicara tapi banyak bertindak di media sosial bikin dia punya basis massa yang loyal, terutama di kalangan pemilih muda yang udah bosen sama gaya politisi tua yang terlalu formal dan penuh janji-janji manis. Gibran hadir dengan gaya yang lebih "chill", meski di balik itu semua tetap ada strategi besar yang bermain.
Antara Kritik Dinasti dan Harapan Baru
Tentu kita nggak bisa menutup mata dari kritik soal dinasti politik. Banyak pengamat menilai naiknya Gibran adalah tanda kalau demokrasi kita lagi nggak baik-baik saja. Ada perasaan kalau kompetisi jadi nggak adil buat orang-orang yang nggak punya privilese sebagai anak penguasa. Ini adalah perdebatan yang bakal terus ada selama Gibran menjabat nanti.
Tapi di sisi lain, ada juga yang melihat Gibran sebagai jembatan. Selama puluhan tahun, posisi Wakil Presiden seringkali cuma jadi ban serep atau tokoh senior yang fungsinya buat menyeimbangkan stabilitas politik. Dengan adanya Gibran, ada harapan kalau kebijakan pemerintah ke depan bakal lebih melek teknologi, lebih lincah, dan lebih mengerti apa yang dibutuhin sama generasi yang lahir di era digital.
Jadi, Siapa Sebenarnya Gibran?
Kalau ditanya siapa Gibran, jawabannya tergantung kamu nanya ke siapa. Buat pendukungnya, dia adalah simbol pemimpin muda yang berani dan nggak banyak teori. Buat kritikusnya, dia adalah produk dari sistem yang cacat. Tapi satu yang pasti, Gibran bukan lagi sekadar "anaknya Jokowi". Dia sudah bertransformasi jadi entitas politik sendiri yang punya pengaruh besar di Indonesia.
Perjalanan dari tukang martabak ke kursi Wakil Presiden ini adalah bukti kalau peta politik kita sudah berubah. Nggak perlu pidato berapi-api buat menangin hati orang sekarang; cukup dengan gimik yang tepat, manajemen media sosial yang rapi, dan tentu saja, momentum politik yang pas. Kita lihat saja nanti, apakah di bawah kepemimpinannya nanti, Indonesia bakal benar-benar "gaspol" atau justru makin terjebak dalam perdebatan soal privilese. Yang jelas, Gibran sudah membuktikan kalau diam-diam, dia bisa menghanyutkan seluruh perhatian bangsa ini.
Apapun pendapat kita tentang dia, satu hal yang nggak bisa dipungkiri: Gibran Rakabuming Raka adalah fenomena. Dan fenomena ini baru saja dimulai. Mari kita siapkan kopi dan cemilan, karena babak baru sejarah politik Indonesia bareng Mas Wapres terpilih ini pasti bakal penuh dengan cerita-cerita unik lainnya.
Next News

Mengenal Sheila Dara Aisha: Si Introvert Paling Santuy yang Diam-Diam Menaklukkan Layar Lebar
in 7 hours

Mengenal Sosok Agnez Mo Prestasi Hingga Gaya Hidup Ikoniknya
in 4 hours

Vidi Aldiano: Si "Duta Persahabatan" yang Ternyata Jauh Lebih Tangguh dari Sekadar Meme
in 2 hours

Pupus / Kasih Tak Sampai – Vidi Aldiano: Arti Lagu tentang Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
18 hours ago

Datang dan Kembali – Vidi Aldiano: Arti Lagu tentang Cinta Lama yang Bertemu Lagi
20 hours ago

Lupakan Mantan – Vidi Aldiano: Arti Lagu tentang Memulai Hubungan Tanpa Bayang-Bayang Masa Lalu
21 hours ago

Terbenar – Vidi Aldiano: Arti Lagu tentang Keraguan dalam Cinta
a day ago

Ketulusan Cintaku (Pelangi Di Malam Hari) – Vidi Aldiano: Arti Lagu tentang Mencintai dengan Ikhlas
a day ago

Dara – Vidi Aldiano: Arti Lagu tentang Cinta yang Datang di Waktu yang Tepat
a day ago

"w u at?" – Vidi Aldiano: Arti Lagu tentang Rindu dan Ketidakpastian dalam Hubungan
a day ago





